Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Melacak Akar Konflik Israel-Palestina

Palestina
Sumber: liputan6.com

Konflik Israel dan Palestina

Akhir-akhir ini media internasional terus menyoroti tragedi kemanusiaan di Palestina. Darinya kita menyaksikan bagaimana Zionis Israel meluncurkan roket-roket ke Jalur Gaza yang tidak lain merupakan bentuk balasan terhadap Hamas yang sebelumnya meluncurkan roket-roket mereka ke wilayah pendudukan Israel.

Aksi Hamas tersebut tidak lain sebagai balasan atas apa yang dilakukan Israel, seperti penjarahan rumah-rumah warga Palestina di Shaikh Jarrah. Lalu penyerangan atas Demonstran dan Jama’ah Sholat di Masjid Al Aqsho, hingga akhirnya pemerintahan Hamas melalui sayap militernya yaitu Brigade Al Qassam memberi sejenis warning untuk Israel dengan bentuk ancaman, yaitu Hamas akan meluncurkan roket-roket mereka kewilayah pendudukan, begitupun dengan faksi-faksi yang lain.

Bisa dibilang konflik Palestina adalah konflik yang cukup lama. Sejak 1947 hingga sekarang belum ada titik akhir, bahkan PBB pun belum bisa menemukan solusi yang tepat untuk mengakhiri konflik ini. Solusi two state jelas bukanlah solusi. Karena bagaimanapun wilayah pemerintahan Israel adalah tanah jajahan, sehingga sangatlah tepat apabila Israel merupakan negara haram sebagaimana mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad pernah menyerukan kepada dunia bahwa Israel haruslah dihapus dari peta dunia.

Lantas hal apakah yang menyebabkan adanya konflik yang hingga saat ini masih berlanjut, apakah karena motif agama?, ataukah karena motif politik?. Di sini penulis akan menjelaskannya dengan singkat sehingga tentu saja memudahkan pembaca dalam memahami konflik yang terjadi di palestina.

Lahirnya Gerakan Zionis

Zionisme bisa dibilang sebagai pemicu konflik Palestina dan Israel. Gerakan ini didirikan setelah kongres di Bassel, Swiss, pada tahun 1897. Di dalam kongres tersebut Theodorl Hezrl memimpin jalannya Kongres hingga akhirnya memunculkan gagasan pendirian negara Yahudi. Sehingga Theodorl Hezrl dianggap sebagai “Bapak Zionisme Dunia” walaupun sejatinya gagasan tersebut sudah pernah digagas oleh Yahuda al Kalai, sedangkan yang mencetuskan pemikiran Zionisme sebenarnya adalah Nathan Bernabum.

Gagasan pendirian negara Zionis ini dianggap sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah orang Yahudi, yaitu adanya tanah. Karena di masa itu orang-orang Yahudi terpencar-pencar di penjuru dunia, dan juga alasan lain dari pendirian negara Israel adalah, perintah dari Kitab Talmud yang di mana pendirian negara Israel Raya menurut Theodorl Hezrl adalah “tanah perjanjian membentang dari Sungai Mesir hingga Sungai Eufrat. Itu mencakup bagian-bagian dari Suriah dan Lebanon”.

Baca Juga  Salik: Menempuh Jalan Ruhani dengan Ilmu

Selain pendirian negara yahudi, gerakan ini juga bercita-cita mendirikan Temple of Solomon yang mereka yakini berada di atas tanah Al-Aqsha, sehingga wajar saja jika menimbulkan kekhawatiran dari umat Islam sendiri. Sebab Al-Aqsha merupakan tempat suci ketiga bagi umat Islam. Sekarang kita melihat Al-Aqsha menjadi tempat suci yang diperebutkan sehingga tidak heran kerusuhan sering terjadi di komplek Al-Aqsha.

Gerakan ini menjunjung tinggi Rasisme. Gerakan ini lahir karena nasib Yahudi yang dipinggirkan dan tidak punya tanah, sehingga ideologi ini mengakar kuat di kalangan Yahudi. walaupun menariknya banyak kalangan Yahudi yang menolak ideologi ini. Idelogi Zionisme dianggap bertentangan dengan ajaran Torah.

Gerakan ini dianggap menggunakan agama untuk mewujudkan cita-cita gerakan ini. Karenanya tidak heran banyak dari kalangan Yahudi yang menolak paham zionisme ini. Contoh saja Naturei Karta yang berisi kumpulan Yahudi Haredim yang sangat vokal menyuarakan kemerdekaan Palestina. Sehingga gerakan ini mendapat dukungan dari Iran dan Hamas.

Deklarasi Balfour

Deklarasi ini menjadi titik awal berdirinya negara Israel. Balfour diambil dari nama seorang yang menulis surat ini, yaitu Sekretaris Jendral Lord barfour. Deklarasi ini secara resmi dideklarasikan pada tanggal 2 November 1917. Surat ini berisi permintaan seorang Yahudi Inggris yaitu Chaim Weizman untuk membangun sebuah rumah untuk kaum yahudi.

Chaim Weizmann dalam mewujudkan misinya mendirikan negara Yahudi sampai merelakan dirinya untuk kuliah di bidang kimia. Dari situlah dia menemukan formula baru untuk menghasilkan senyawa kimia yang penting bagi senjata api. Di sinilah pemerintahan Inggris merasa sangat tertolong oleh Weizmann. Sehingga Weizmann mendapat panggung di hadapan pemerintahan Inggris.

Pada tanggal 31 Oktober 1917 Inggris melakukan rapat kabinet. Rapat tersebut membahas rencana pendirian negara Yahudi, uniknya tidak semua kabinet sepakat. Salah satu penolakan datang dari seorang Yahudi bernama Edwin Montagu. Dia meyakini bahwa Zionisme ini hanya akan memunculkan sikap anti-semitisme. Rapat sempat dihentikan karena suara imbang. Akhirnya keluarlah sikap pemerintah Inggris yang mendukung pendirian negara Yahudi, dengan syarat harus menghindar dari hal-hal yang dapat merugikan komunitas Arab di Palestina.

Baca Juga  Nizam Al-Mulk: Pasar Ada Untuk Melayani Kebutuhan Konsumen

Surat Deklarasi Balfour dikeluarkan pada tanggal 2 November 1917, dan diterima oleh Lord Rotschild pada tanggal 9 November 1917. Deklarasi ini mendapat banyak tanggapan dari banyak pihak. Bangsa Arab adalah pihak yang dirugikan dalam deklarasi ini. Karena bagaimanpun tanah Palestina adalah tanah mereka sehingga orang-orang Arab khawatir apabila mereka akan terusir dari tanah mereka.

Pendudukan Inggris atas Palestina

Desember 1917, Inggris mulai menduduki Palestina. Pesawat-pesawat Inggris memborbardir markas besar Turki Utsmani, Hussein Husseini, seorang Wali Kota Yerussalem dari Dinasti Ottoman yang akhirnya menyerah. Allenby selaku panglima Inggris mengatakan dalam pidatonya, bahwa Perang Salib telah usai dengan berhasilnya Yerussalem dikuasai Inggris.

Inggris mendapat mandat tuk memimpin Palestina dikarenakan perjanjian Sykes-Picot yang di mana perjanjian tersebut merupakan perjanjian yang dibuat untuk membagi-bagi wilayah kemenangan sekutu. Dengan adanya Inggris sebagai pemegang kendali atas tanah Palestina, bangsa Arab mulai khawatir. Karena inti sikap Inggris dalam deklarasi Balfour sangat merugikan bangsa Arab.

Dengan adanya Inggris di tanah Palestina, orang-orang Yahudi banyak yang melakukan migrasi ke Palestina. Tanggal 14 agustus menjadi titik awal migrasi orang-orang Yahudi. Jumlah imighran semakin lama semakin bertamabah sehingga melahirkan pemberontakan dari warga penduduk asli, yaitu warga Arab Palestina. Lahirlah gerakan-gerakan nasional Arab yang memunculkan revolusi-revolusi. Keberpihakan Inggris kepada para imigran Yahudi inilah benar-benar memantik amarah rakyat Palestina saat itu. Sebab terlalu banyak tanah yang diambilalih inggris untuk imigran Yahudi.

Untuk meredamkan perlawanan bangsa Arab, Inggris mencoba untuk menyelesaikannya dengan membagi-bagi wilayah sesuai etnis. Akan tetapi pembagian tersebut tetap saja mendapat penolakan dari negara-negara Arab, dikarenakan tanah Palestina adalah hak bangsa Arab yang tidak bisa diganggu gugat. Walaupun pembagian tersebut ternyata sudah disetujui oleh PBB dan dikenal dengan nama Resolusi PBB No. 181, 29 November 1947.

Baca Juga  Berbaik Sangka Kepada Allah

Deklarasi Negara Haram

14 Mei 1948 deklarasi negara Israel diproklamatori oleh David Ben-Gurion, seorang Kepala Eksekutif Organisasi Zionis Dunia di Museum Tel Aviv. Deklarasi ini ditandatangani oleh 37 anggota Moetzet Haam atau yang dikenal sebagai Badan Legeislatif. Sementara di Israel deklarasi ini diiringi oleh nyanyian Hatikvah yang diambil dari puisi lawas Yahudi. Lagu ini dikomposikan oleh Samuel Cohen dan diadopsi sebagai lagu resmi Kongres Zionis Pertama.

Adanya deklarasi ini menandakan berakhirnya mandat Inggris atas Palestina. Deklarasi ini didukung penuh oleh Amerika, karena Amerika ingin menjadikan Israel sebagai proxy Amerika di Timur Tengah. Tanggal 15 dikenal sebagai yawm al-nakhba atau hari pengusiran bangsa Palestina. Mereka harus hengkang dari wilayah pendudukan Zionis menuju wilayah yang sudah disepakati pada resolusi PBB No. 181. Tahun 1949 menjadi awal mula peperangan bangsa-bangsa Arab melawan Israel. Deklarasi ini bukan hanya sebagai deklarasi berdirinya negara haram Israel saja, akan tetapi menjadi sebuah deklarasi perang.

Kesimpulan

Dari kesimpulan uraian di atas tentu saja Israel adalah penjajah, dan tidak memiliki hak sama sekali atas Palestina. Bahkan dari tahun ke tahun wilayah yang diambil alih Israel semakin banyak sehingga banyak rumah-rumah yang digusur untuk perluasan pemukiman illegal. Begitupun ambisi Israel untuk mendirikan The Temple of Solomon menjadi sebuah problem terbesar dalam dunia Islam. Al Aqsha adalah tempat suci bagi kaum Muslim sehingga Al-Aqsha menjadi problem utama dalam konflik ini.

Inggris adalah pihak yang bertanggung jawab dalam konflik ini. Karena berkat Inggris lah negara haram ini bisa dideklarasikan. Walaupun banyak penolakan terutama dari negara-negara Arab dan muslim. Serangan roket Milisi Palestina, penikaman penduduk illegal, dan segala bentuk perlawanan rakyat palestina bukanlah sebuah masalah. Hal ini bisa terjadi karena posisi mereka yang dijajah. Segala bentuk ketidakadilan dan penindasan tidak bisa dianggap sebelah mata saja.

Penyunting: M. Bukhari Muslim

Izzatur Rahman Pradiatma
Kader IMM PK Distekpertum Cabang Ciputat, Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta