Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Materialisme Juga Menyimpan Nilai-Nilai Spiritualitas

Spiritualitas

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

Sementara orang, menganggap bahwa ibadah itu untuk memuliakan dan mengagungkan Tuhan. Kalau demikian, berarti jika seluruh ataukah sebagian manusia tidak menyembah, Tuhan tidak akan menjadi mulia? Murtadha Muthahhari menolak anggapan seperti itu. Ibadah dilakukan bukan demi kepentingan Tuhan, tetapi demi hamba itu sendiri. Ketika seorang hamba melakukan penyembahan, sesungguhnya ia sedang bergerak menuju kesempurnaan dengan cepat.

Beribadah Karena Berharap Imbalan

Sepintas, manusia melakukan segala sesuatu hanya demi kebutuhan materinya–demikianlah pandangan Barat. Bertrand Russel, sebagaimana dikutip oleh Muthahhari, beranggapan bahwa dasar dari etika sosial adalah kepentingan individu (lihat hal. 38). Seseorang berbuat baik kepada tetangga agar tetangganya juga berbuat baik kepadanya.

Tindakan manusia juga seolah-olah hanya didasarkan pada seputar kepentingan individualnya, yang sifatnya materi. Misalnya, seseorang beribadah demi mendapat kebahagiaan akhirat yang jauh melebihi kebahagiaan di dunia.

Kebahagiaan pun adalah seputar kesenangan badani. Antara lain mendambakan bidadari, tidak lain adalah gambaran seorang wanita yang cantiknya melebihi wanita cantik manapun yang pernah dijumpai di muka bumi. Demikian halnya dengan makanan seperti buah-buahan yang lezat, daging, serta minuman berupa susu yang mengalir seperti sungai dan setiap orang bebas mengambilnya untuk minum.

Mengutip Ibnu Sina, Muthahhari menyebut motif penyembahan yang demikian adalah, “beribadah seperti orang yang bekerja untuk mendapatkan upah tertentu, ketika upah itu tidak ada, maka dia pun tidak akan mau lagi bekerja.” (hal. 85)

Jika motif materi menjadi yang dominan dalam kepala manusia, maka sesungguhnya ia masih berada pada level persepsi indrawi, yaitu level tertinggi persepsi yang dimiliki oleh binatang. Ukuran-ukuran kebahagiaan adalah apa yang tampak dari realitas yang disaksikan (dengan pancaindra) sehari-hari.

Baca Juga  Survival Strategy Pesantren Pasca Bom Bali

Materialisme Menyimpan Nilai-Nilai Spiritualitas

Padahal, di balik realitas yang kasat mata, tersimpan nilai-nilai yang mendatangkan kebahagiaan atau kelezatan, yang itu melampaui materi itu sendiri. Kebahagiaan itu hanya ditangkap oleh persepsi hati, potensi dalam diri manusia yang tugasnya adalah merasa.

Para penganut materialisme, semisal kaum Marxis ataukah eksistensialis, meskipun memandang kebahagiaan manusia terletak pada materi–yakni motif ekonomi dan kebebasan, tetapi juga memiliki tujuan-tujuan spiritual. Spiritualitas berarti mengerjakan sesuatu bukan karena menginginkan keuntungan, melainkan untuk menikmati apa yang telah di kerjakan (lihat hal. 60).

Dalam doktin Marxisme, keadilan baru akan tercapai jika terjadinya kesetaraan kelas dalam bidang ekonomi. Sebab ekonomi adalah problem manusia di muka bumi, penindasan dan penderitaan terjadi karena ekonomi. Ia adalah tujuan hidup manusia.

Meskipun seperti yang didakwahkan oleh Marxisme bahwa materi atau ekonomi adalah tujuan hidup manusia, tetapi mereka juga kerap melakukan aksi-aksi heroik yang menurut Muthahhari adalah bermotif bukan materi. Yaitu rela mati demi orang lain. Kaum Marxis rela mati berjuang demi keadilan bagi proletariat, sementara mereka tak mendapat keuntungan dari perjuangan itu jika mereka mati dalam keadaan berjuang.

Para penganut paham humanisme, terang Muthahhari, meyakini bahwa manusia bertanggung jawab sendiri atas perbuatannya. Bukan takdir Tuhan, atau alam yang mengendalikan. Tanggung jawab adalah sesuatu yang bersifat spiritual, bukan materi (hal. 59).

Spiritualitas Mengantar Pada Kesempurnaan

Jadi, sekalipun kelihatannya tak percaya Tuhan, tetapi para penganut materialisme juga meletakkan hal-hal yang bersifat spiritual sebagai lakon yang terhormat, mulia, tinggi. Sebaliknya, kebutuhan materi adalah dasar, sehingga lebih rendah kedudukannya dibandingkan dengan spiritualitas.

Spiritualitas cirinya bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk mengikis ego. Seseorang yang beribadah demi mendapat pahala, atau berbuat baik demi dibalas kebaikan–ataukah agar tidak dikucilkan oleh orang lain, maka itu bukan spiritualitas, itu adalah pamrih. Spiritualitas adalah menikmati suatu perbuatan baik meski tak mendatangkan keuntungan, ia adalah sebentuk persembahan bagi kebaikan sesama.

Baca Juga  Ziauddin Sardar dan Penafsirannya Terhadap Al-Qur'an

Demikian spiritual membawa manusia kepada kesempurnaan. Itulah mengapa para nabi diutus, menurut Muthahhari, demi mendekatkan manusia dengan penciptanya, membantu manusia untuk melakukan penyempurnaan dirinya, serta mendorong terwujudnya keadilan (lihat hal. 29 – 31).

Manusia tidak dapat menentukan keadilannya sendiri. Sebab setiap orang atau kelompok memiliki kepentingan dan tafsiran sendiri mengenai keadilan itu. Oleh sebab itulah nabi turun memberi kabar gembira dan peringatan tentang adanya hari pembalasan. Demikian tujuan penciptaan, yakni agar manusia melakukan pengabdian kepada Tuhan. Tentu pengabdian itu bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga spiritual.

Namun, jika manusia sudah mengabdi sebagai manifestasi menyempurnakan dirinya, kesempurnaan itu apa ukurannya? Terkait hal ini, pendapat Muthahhari mengenai kesempurnaan itu berdasarkan diskusi antara beberapa pandangan ini:

Konsep Manusia Sempurna

Pertama, pendapat kaum sufi bahwa manusia sempurna (insan kamil) adalah mengetahui kebenaran dan menyatu di dalamnya. Sementara kebenaran mutlak adalah Allah, dan yang lainnya hanyalah bayangan dari kebenaran itu (lihat hal. 86-87).

Kedua, pendapat kaum teosof. Manusia sempurna adalah yang memiliki pengetahuan terhadap realitas, dan memiliki sikap menegakkan keadilan (lihat hal. 88 – 90). Ketiga, pendapat yang mengatakan manusia sempurna adalah yang memiliki rasa atau cinta (hal. 90). Keempat, manusia sempurna adalah memiliki keindahan fisik, moral, dan akhlak (hal. 91). Kelima, pandangan Barat bahwa manusia sempurna adalah manusia yang kuat (hal. 91).

Kelima pandangan itu adalah parsial. Muthahhari memandang bahwa di samping manusia harus berpihak kepada kebenaran, juga harus berpengetahuan dan berlaku adil. Juga senantiasa memelihara keindahan. Semua itu diletakkan dalam rangka beribadah kepada Allah.

Ibadah atau pengabdian bukan seperti ketundukan budak terhadap majikan, melainkan lebih kepada kebebasan dan kemuliaan. Sebab ibadah itu bertingkat-tingkat. Pada level paling rendah, ibadah dilakukan demi mendapat keuntungan berupa pahala-surga, atau menjauhi dosa-neraka. Hal ini mirip dengan seseorang yang ingin memenuhi kebutuhan materinya, kata Muthahhari, binatang juga melakukan hal itu.

Baca Juga  Abdullah Abbas Nasution: Mufasir Melayu Berdarah Indonesia

Level paling dasar itu hanya untuk membedakan beribadah dengan tidaknya seseorang. Level tertinggi peribadatan atau pengabdian kepada Allah didasarkan pada rasa kesyukuran. Bukan karena mengharap pamrih. Itulah iman, penghubung antara hamba dengan Sang Pencipta.

Selanjutnya, konsep manusia sempurna dalam pandangan Murtadha Muthahhari dijelaskan di bukunya yang lain berjudul, “Manusia Sempurna”.

***

Judul Buku: Mengapa Kita Diciptakan?
Penulis: Murtadha Muthahhari
Penerjemah: Mustamin al-Mandary
Penerbit: RausyanFikr Institute
Tahun: Cet. IV, 2013
Tebal: 120 halaman
ISBN: 978-602-1602-04-1

Editor: M. Bukhari Muslim