Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Manusia: Antara Keluh Kesah dan Kikir

Tasyabbuh
Sumber: www.freepik.com

Manusia diciptakan dalam keadaan yang suka, sering, dan mudah untuk berkeluh kesah. Jika ada halangan atau rintangan yang menghadang langkah hidupnya, maka dengan mudah ia akan berkeluh kesah. Dengan keadaan yang menghimpit tersebut ia akan ingat dengan Allah, mendatangi rumah-Nya dan berdoa khusyuk di dalamnya.

Dalam sedu-sedan tangisnya, ia meminta pertolongan Allah agar memudahkan permasalahan yang sedang dihadapinya. Allah berfirman dalam al-Qur’an, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kerusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (QS. al-Ma’arij: 19-21)

***

Selain “hobi” berkeluh kesah, ternyata manusia juga pelit dan kikir. Jadi, selain mudah mengeluh, manusia juga mudah lupa akan himpitan dan kesulitan yang telah ia alami di waktu yang telah lalu. Begitu kesulitan-kesulitan yang ia alami telah terpecahkan dan ia berpindah ke dalam kondisi yang lapang, ia menjadi lupa sehingga timbulnya sifat kikir dan egois. Ayat di atas menjelaskan bahwa apabila manusia mendapat kebaikan, sifat kikir akan tumbuh dalam diri anak Adam tersebut.

Kenapa disebut kikir? Permasalahan yang sedang dihadapi manusia dalam hidupnya, boleh jadi atau bahkan sering kali terpecahkan oleh bantuan orang lain. Allah Swt. mengirimkan orang lain sebagai perantara untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Yang menjadi harapan, kelak ia dapat berbuat hal yang sama terhadap orang lain. Memberi manfaat kepada orang-orang di sekitarnya. Hal ini senada dengan firman Allah yang menyuruh hamba-Nya untuk bersyukur. Lebih tepatnya berterima kasih, kepada sesama manusia. Dan wujud bersyukur itu adalah dengan mempergunakan nikmat yang telah diterima untuk digunakan agar bermanfaat bagi orang lain.

Pengecualian Dalam Al-Qur’an

Memang, tidak semua manusia mempunyai tabiat seperti yang disebutkan ayat di atas. Setiap manusia berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Maka dari itu, lanjutan dari ayat di atas pun juga memberikan pengecualian:

Baca Juga  Kesetaraan Gender Dalam Tantangan Isu-Isu Modernitas

“Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalatnnya, Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminyta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mempunyai apa-apa  (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya, karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya)”. (al-Ma’arij: 22-28)

“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya”. (al-Ma’arij: 29-34)

Ciri Manusia yang Tidak Mudah Berkeluh Kesah dan Kikir

Setidaknya, ada tujuh golongan yang tidak termasuk manusia yang mudah berkeluh kesah dan kikir: mereka selalu istiqamah berada dalam trek yang diridhai Allah swt, baik dalam suka maupun duka. Jika mereka dihimpit kesulitan mereka kepada dzat selain Allah, satu-satunya Dzat yang wajib disembah. Mereka akan meminta kepada-Nya agar dimudahkan urusan-urusan mereka, baik urusan dunia maupun urusan akhirat. Selanjutnya, mereka akan berusaha sekuat tenaga mereka untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan tersebut.

Sebaliknya, jika mereka mendapat kebahagiaan dalam hidupnya, mereka tidak lupa dari mana mereka berasal. Anak Adam yang diciptakan dari setetes air mani. Tiada daya dan upaya. Kekuasaan hanya berada di Tangannya. Dengan begitu ia tidak sulit dan berat untuk berbagi kebahagiaan dan kebaikan tersebut kepada orang lain disekililingnya.

***

Sebagai permisalan adalah kedua orang tua. Ibu yang telah melahirkan kita, bersama bapak mengasuh dan membesarkan kita. Kasih sayang yang mereka berikan disebut sebagai kasih sayang yang tidak akan pernah putus. Bersambung sepanjang masa, sepanjang hayat. Apa yang telah mereka lakukan kepada kita, harus lah kita balas kerena pengorbanan mereka yang tidak kenal lelah memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya, yang tidak lain adalah kita sendiri. Karena teramat besar jasa mereka kepada kita, maka sering dikatakan bahwa “kasih sayang orang tua sepanjang jalan kasih sayang anak sepanjang galah”.

Baca Juga  Tafsir Kata Sabar, Benarkah Ada Batasnya?

Artinya, kita tidak akan bisa memberi balasan yang sama seperti yang telah mereka berikan kepada kita. Akan tetapi kita wajib untuk terus berusaha membahagiakan mereka semampu kita sebagai balasan jasa-jasa semampu kita sebagai balasan jasa-jasa mereka.

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyampihnya dalam dua orang ibu bapakmu, hanya kepada aku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Dalam proses kita membalas jasa kepada orang tua bisa jadi terbentur masalah waktu. Orang tua kita, yang semakin hari semakin tua, cepat atau lambat akan dipanggil oleh Dzat yang Maha Dahsyat, Allah subhanallahu wa ta’ala. Meghadap ke keribaan-Nya, Jika begitu, apakah balas budi kita telah tuntas dan lunas? Belum!

***

Ke depannya kita juga akan menjadi orang tua. Yang menjadi harapan, kita dapat berbuat lebih baik kepada anak-anak kita. Kekurangan-kekurangan dalam hal mengasuh anak, yang dulu dilakukan orang tua kepada kita, harus kita perbaiki.

Sehingga, kita bisa mengasuh dan membesarkan anak-anak kita dalam dekapan kasih sayang yang lebih baik sehingga kelak bisa menjadi anak yang berguna bagi agama, bangsa dan Negara. Secara tidak langsung, ini juga menjadi bakti kita kepada orang tua kita. Karena anak-anak kita merupakan keturunan mereka juga.

Editor: An-Najmi Fikri R

Fathan Faris Saputro
Peraih Award lomba menulis Kemenag Kabupaten Lamongan, Peraih juara lomba Hari Pers Nasional, dan kader IMM Lamongan.