Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Manfaat Perbedaan Pendapat Mengenai Sab’atu Ahruf

Sumber: istockphoto.com

Al-Qur’an Karim adalah Kalamullah yang berfungsi sebagai panduan dan acuan utama bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan. Dari segi bahasa, Al-Qur’an dapat diinterpretasikan sebagai bacaan yang dibaca oleh individu yang beriman kepada Allah SWT. Dari perspektif hukum, Al-Qur’an merupakan kumpulan sumber hukum tertinggi yang menjadi acuan utama dalam pengambilan keputusan hukum Islam. Al-Qur’an sendiri diturunkan dengan tujuh cara baca atau sering disebut “sab’atu ahruf”.

Beberapa ulama berbeda pendapat dalam interpretasi. Sehingga hampir empat puluh pendapat yang menimbulkan kontroversi di kalangan pemeluk agama Islam dan orientalis. Hal ini mengundang debat terkait keaslian Al-Qur’an sebagai kitab suci. Pertanyaan pun muncul mengenai makna sebenarnya dari “ahruf” ini dan mengapa perbedaan tafsir yang kontras terjadi.

Pengertian Sab’atu ahruf

Menurut Ramli abdul wahid, kata Ahruf merupakan bentuk jamak dari harf, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai huruf. Namun, dalam bahasa Arab, kata harf memiliki banyak makna. Secara kontekstual, harf bisa berarti tepi dari sesuatu, puncak, unta yang kurus, satu huruf ejaan, salah satu huruf hijaiyyah, makna, saluran air, wajah, kata, bahasa, dan sebagainya.

Sementara itu, dalam bahasa Arab, kata Sab’u berarti bilangan tujuh. Dengan demikian, sab’ah ahruf bisa ditafsirkan sebagai tujuh bahasa, tujuh ilmu, tujuh makna, tujuh bacaan, tujuh bentuk, dan berbagai interpretasi lainnya. Ini adalah definisi dasar yang valid mengenai sab’ah ahruf, yang terdiri dari dua kata yang, saat digabungkan, memiliki satu makna kesatuan, yakni tujuh bentuk atau tujuh bacaan. Hal ini perlu dipahami bersama-sama.

Jadi, dalam arti harfiahnya, Sab’atu Ahruf adalah tujuh huruf atau tujuh wajah. Terdapat hadis yang mengungkapkan tentang Sab’atu Ahruf. Seperti ketika Rasulullah menyebutkan bahwa Malaikat Jibril telah menyampaikan al-Qur’an dengan menggunakan beberapa huruf kepada beliau. Dan beliau meminta Jibril menambahkan bacaan tersebut hingga akhirnya mencapai tujuh huruf.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 7 (1): Azab Bagi Orang Kafir

Manfaat dari perbedaan pendapat mengenai Sab’atu Ahruf

Adanya sab’atu ahruf dalam Al-Qur’an memiliki implikasi yang diuraikan oleh Imam al-Mubarak bin Hasan bin Ahmad bin Ȃli bin Fathan ibnu Mansur dalam karyanya, al-Misbah al-Zakir. Menurutnya, manfaat dari perbedaan pendapat dalam bacaan ini adalah sebagai berikut:

Satu, mempermudah bagi umat Islam, terutama orang Arab yang menggunakan bahasa Al-Qur’an, karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Pada masa itu, bangsa Arab terdiri dari berbagai suku dengan dialek yang berbeda-beda.

Dua, merangkum perbedaan dalam dua aturan yang berbeda, contohnya pada ayat “فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن”. Lafazh “يطهرن” dibaca dengan melunakkan huruf Tha’ dan dibaca dengan bertasydid. Kedua cara baca ini mengandung manfaat bahwa wanita yang sedang haid tidak boleh didatangi oleh suaminya kecuali jika wanita tersebut telah suci dalam dua hal, pertama, berhentinya keluarnya darah haid. Kedua, telah mandi wajib.

Tiga, menunjukkan dua hukum syara’ dalam dua situasi yang berbeda, misalnya pada firman Allah SWT: “فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلى المرافق وامسحوا برؤسكم وأرجلكم إلى الكعبين”. Lafazh “وأرجلكم” dibaca dengan i’rab nasab karena terikat dengan lafazh “وجوهكم”, yang mengharuskan mencuci kaki karena terkait dengan mencuci wajah. Lafazh “وأرجلكم” juga dibaca dengan i’rab jar karena terikat dengan lafazh “برؤسكم”, dan qiraat ini menuntut untuk mengusap kaki karena berkaitan dengan mengusap kepala, sehingga dalam hal ini terdapat ketentuan hukum untuk hukum mengusap dua khuf.

***

Empat, menunjukkan keistimewaan Al-Qur’an dalam mukjizatnya. Di mana setiap qiraat bersama dengan qiraat lainnya merupakan tingkatan atau derajat ayat yang setara menandakan keajaiban dalam Al-Qur’an. Bahwa setiap cara bacaan menunjukkan pada makna yang sama yang diungkapkan dalam ayat meskipun secara sedikit berbeda.

Baca Juga  Hewan dalam Al-Quran: Telaah atas Lafaz Thayr (Burung)

Lima, kelangsungan sanad qiraat ini mencerminkan kesinambungan umat dalam menghubungkan diri dengan sanad ilahi. Enam, adanya variasi dalam qiraat memperbesar pahala umat dalam menghafal Al-Qur’an, serta pemberian ilmu dan pengolahan informasi yang merupakan tanggung jawab yang diberikan kepada mereka.

Dari sejumlah catatan yang mencatat kejadian yang berbeda terkait dengan turunnya sabda Nabi, pemahaman ulama tentang tujuan dari istilah Sab’atu ahruf mungkin bervariasi. Secara etimologis, istilah Sab’ah mengacu pada angka yang berada setelah enam. Sedangkan Ahruf berasal dari kata harfin yang memiliki beragam makna seperti pinggir, bacaan, dialek, dan lainnya.

Editor: An-Najmi

Rizqina Autca Niha Sucipto
Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya