Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Manfaat Ganja dalam Al-Qur’an: Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 219

ganja
Sumber: https://www.freepik.com/

Sebagian besar penggunaan ganja adalah untuk tujuan rekreasional, untuk melarikan diri dari masalah, atau untuk mendapatkan performance yang mungkin bukan sesungguhnya. Beberapa kasus penggunaan ganja banyak dijumpai pada seniman yang katanya akan bisa meningkatkan kreativitasnya.

Sehingga hal ini akan meninggalkan generasi yang lemah, yang tidak bisa memecahkan masalah, yang “penipu” karena tidak menunjukkan kemampuan sebenarnya (performance-nya akan bagus kalau di bawah pengaruh ganja). Belum lagi dampak-dampak psikososial lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan rekreasional ganja sangatlah berbahaya bagi penggunanya.

Di samping itu, indikasi kemanfaatan ganja yang salah satunya adalah sebagai ganja medis terdapat dalam surah al-Baqarah [2]:219.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا  

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. (Qs. al-Baqarah [2]:219)

Pandangan Mufasir

Beberapa mufasir berpendapat mengenai penafsiran yang mengindikasikan kebermanfaatan ganja dalam ayat ini, di antaranya Quraish Shihab dalam karyanya Tafsir al-Misbah menjelaskan bahwa redaksi pertanyaan dalam surah al-Baqarah ayat 219 adalah tentang hakikat Khamar (minuman keras) dan judi. Di sini dijelaskan tentang minuman keras yang dirangkai dengan judi, karena budaya masyarakat jahiliah adalah meminum Khamar sambil berjudi. Selain itu, barang rampasan dari kafilah yang dihadang oleh Allah Ibn Jahsy adalah minuman keras.

Penafsiran Quraish Shihab tentang surah al-Baqarah[2]:219, lebih menekankan agar manusia mau menjauhi khamar dan barang tersebut tidak boleh dikonsumsi sama sekali, karena lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya.

Quraish Shihab juga menambahkan bahwa Nabi saw., diperintahkan Allah untuk menjawab pertanyaan di atas yaitu: Katakanlah “pada keduanya terdapat dosa besar”, yaitu seperti hilangnya keseimbangan, gangguan kesehatan, penipuan kebohongan, perolehan harta tampa hak, menimbulkan benih permusuhan, dan beberapa manfaat duniawi bagi segelintir manusia; seperti keuntungan materi, kesenangan sementara, kehangatan di musim dingin, dan ketersediaan lapangan kerja.

Baca Juga  Mengenal Tafsir Saintifik Sayyid Ahmad Khan

Ada juga riwayat  yang menceritakan bahwa pada masa jahiliah hasil perjudian dan khamar disumbangkan kepada fakir miskin. Semua itu adalah manfaat duniawi, tetapi dosa yang diakibatkan oleh keduanya lebih besar dari pada manfaatnya, karena manfaat tersebut hanya dinikmati oleh segelintir orang di dunia, dan mereka akan tersiksa kelak di akhirat.

Signifikansi Ayat Manfaat Ganja

Upaya penafsiran atau pengkajian terhadap surah al-Baqarah dalam perspektif kontemporer harus dinilai berdasarkan kedekatan teks dengan fakta empiris yang melingkupinya. Atau dengan kata lain kedekatan pernyataan penafsiran dengan fakta yang terjadi, usaha penafsir dalam mencapai makna hukum, dan yang terpenting fungsi implikatif penafsiran.

Oleh karena itu tuntutan fungsi al-Qur’an yang solutif dapat dipastikan memberikan tekanan tersendiri bagi penafsir al-Qur’an untuk menghasilkan sintesis kreatif yang dapat menyelesaikan krisis modern. Dalam kerangka penafsiran, al-Jabiri menganggap ini sebagai sesuatu yang sangat krusial dan penting, namun pada saat yang bersamaan ada banyak subjek (mufassir) tidak membaca hal-hal tersebut dengan cara mengulang-ulang tradisi yang telah lalu dalam memproduksi penafsiran.

Motivasi perpektif kontemporer merupakan respons terhadap model penafsiran klasik dengan cara menguji relevansi sebuah pemahaman terhadap teks dan melakukan usaha menemukan hal baru dalam pembacaan teks al-Qur’an guna menemukan spirit kekinian al-Qur’an/roh al-Ashr.

Dengan posisi itu, jelas penafsir era kontemporer menginginkan sebuah karya yang sesuai dengan tuntutan zamannya. Hal ini tidak terlepas dari tanggung jawab untuk membuka ruang komunikasi antara teks dengan (experience/mughamarah) yang terkait langsung dengan realitas, sebagai aspek paling menonjol dalam suatu karya. Dari usaha inilah, kemudian penafsir dan pengkaji kontemporer berusaha untuk memahami teks dengan menghadirkan data-data dan informasi kekinian, berdasarkan horison dan cakrawala segala kandungannya.

Baca Juga  Unsur Hidrogen Di dalam Surat Asy-Syams

Motivasi pengkajian kontemporer ini, tidak lain adalah usaha yang biasa disebut dengan istilah Washl al-Qari bi al-Maqru (menghubungkan antara pembaca dengan yang dibaca). Proyek ini diharapkan akan menemukan pembaruan yang berdasarkan otentisitas (al- Ashalah), yakni suatu ijtihad yang berpijak pada kesinambungan dengan tradisi.

Washl al-Qari bi al-Maqru (menghubungkan antara pembaca dengan yang dibaca) ini merupakan salah satu dasar yang melatarbelakangi interkoneksi antara al-Qur’an surah al-Baqarah [2] : 219 dengan Farmakologi, yaitu tidak hanya menjelaskan kata Manfaah sebagai keuntungan duniawi yang sebaiknya ditinggalkan karena mudharat yang besar. Lebih jauh lagi interkoneksi tersebut mampu mejelaskan kata Manfaah sebagai pemanfaatan ganja medis yang merupakan bagian dari kajian Farmakologi.

Editor: An-Najmi Fikri R