Tanwir.ID Kanal Tafsir Berkemajuan

Malik Fadjar dan Tafsir “Atsaris Sujūd”

Malik Fajar
Sumber: Tanwir.id

Suatu hari Pak Malik Fadjar mengajarkan satu tafsir Al-Qur’an yang terus saya ingat hingga sekarang dan secara berulang-ulang ilmu tersebut saya transfer ke orang lain. Itu adalah tafsir terkait ayat min atsaris sujūd (Al-Fath 48: 29). Bunyi lengkap ayat tersebut adalah sebagai berikut:

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗ وَا لَّذِيْنَ مَعَهٗۤ اَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّا رِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ تَرٰٮهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَا نًا ۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ ۗ ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰٮةِ ۖ وَمَثَلُهُمْ فِى الْاِ نْجِيْلِ ۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْئَـهٗ فَاٰ زَرَهٗ فَا سْتَغْلَظَ فَا سْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّا عَ لِيَـغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّا رَ ۗ وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا

“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar.”

Pada kelompok salafi tertentu, ayat ini berkembang menjadi doktrin al-wala’ wa-l-bara’ (loyalitas dan penolakan), yaitu hangat dan bersahabat dengan sesama Muslim, namun bersikap picik kepada non-Muslim. Karena doktrin ini, sebagian umat Islam memiliki kebencian dan bahkan menyebarkan rasa benci terhadap non-Muslim itu kepada orang lain, semata karena mereka memiliki afiliasi keagamaan yang berbeda. Tak ada rasa kasih sayang kepada mereka meski mereka itu, misalnya, adalah saudara-saudara sebangsa atau merasa sebagai umat manusia yang sama.

Seperti apa tanda-tanda fisik kelompok ini? Seperti secara harfiyah tertulis dalam ayat itu, “tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud”. Banyak dari pengikut salafi atau mereka yang mengadopsi doktrin al-wala’ wa-l-bara’ itu yang memiliki tanda hitam, ada yang satu titik dan yang dua titik, di jidatnya. Sebagian orang secara berseloroh menyebut itu sebagai tattoo.

Titik hitam itu terjadi karena seringnya dan lamanya melakukan sujud. Karena mereka rajin melakukan sholat, wajib dan sunnah, maka otomatis akan banyak melakukan sujud. Gesekan jidat di sajadah yang berkali-kali itulah yang kemudian menyebabkan munculnya bekas hitam di jidat.

Lantas, seperti apa Pak Malik menafsirkan ayat ini?

Malik Fadjar dan Tafsir “Atsaris Sujūd”

Seperti disampaikannya beberapa kali, “atsaris sujuud” itu tidak bisa diartikan secara letterlijk seperti kelompok salafi itu. Atsaris sujūd itu mesti dimaknai dalam hal-hal kongkrit seperti seberapa banyak sekolah yang sudah dibangun, seberapa banyak rumah sakit yang didirikan, seberapa bagus kualitas dari karya-karya kemanusiaan yang dilakukan. Jadi, makna atsaris sujūd itu tidak bisa direduksi secara egois dan hanya bersifat personal, apalagi hanya personal-physical. Makna ayat itu harus diproyeksikan menjadi karya-karya yang bermanfaat sebesar-besarnya bagi umat manusia.

Pak Malik secara nyata mencontohkan penafsirannya itu dalam bentuk karya-karya; dalam membangun Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dalam keterlibatan dalam reformasi di Indonesia, dan sebagainya. Lewat sentuhannya, UMM menjadi kampus swasta yang bergengsi dan disegani, bukan saja di Malang, tapi di seluruh Indonesia.

Semangat mentransformasikan ritual individual menjadi amal sosial itu selaras dengan apa yang dilakukan oleh pendiri Muhammadiyah; KH Ahmad Dahlan, ketika menerjemahkan dan mengimplementasikan Surah Al-Ma’un (Q 107: 1-7). Surah ini bukan sekadar menjadi bacaan waktu sholat, tapi menjadi doktrin penting di Muhammadiyah dan menjadi landasan dari teologi amal sholeh di organisasi ini. Bahwa ritual itu bukan saja tak cukup. Ia bahkan bisa menjerumuskan seseorang ke neraka jika tak diimplementasikan dalam amal sosial kemanusiaan.

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya, orang-orang yang berbuat riya’, dan enggan [menolong dengan] barang yang berguna

(Q.S. al-Ma’un [107]: 4-7)

KH Ahmad Dahlan dan Pak Malik Fadjar menggunakan dua ayat yang berbeda dengan tujuan sama. Bahwa pesan-pesan Al-Qur’an itu mesti dilepaskan dari kerangkeng makna individual dan dibawa ke ranah sosial.

Jika demikian pemahaman tentang atsaris sujūd, bagaimana memahami kata-kata asyidda’u `ala-l-kuffar ruhama’u bainahum yang terdapat pada ayat tentang atsaris sujūd itu? Bertemu dengan non-Muslim adalah bagian dari sejarah Muhammadiyah sejak kelahirannya. KH Ahmad Dahlan bukan memusuhi atau membenci para pastor dan pendeta yang ditemuinya, tapi justru belajar dari mereka dan menjadikan mereka sebagai temannya.

KH Ahmad Dahlan meniru sistem pendidikan berkelas yang dipakai para oleh sekolah-sekolah Kristen dan juga sistem pengobatan modern dengan mendirikan rumah sakit. Mengajak umat keluar dari ketergantungan pada dukun. Muhammadiyah bukanlah organisasi seperti Front Pembela Islam (FPI) yang menunjukkan eksistensinya dengan demonstrasi, sweeping, dan menyerang kelompok-kelompok yang tak disukainya.

Semangat Fastabiqul Khairat

Selain Al-Ma’un, doktrin lain yang mendarah-daging di Muhammadiyah adalah fastabiq-ul-khairat. Ini adalah doktrin yang diadopsi menjadi slogan di beberapa organisasi otonom Muhammadiyah, seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Doktrin ini mentransformasikan realitas keragaman yang ada di dunia ini sebagai spirit untuk berkompetisi dan berlomba dalam kebajikan; bukan alat atau alasan saling bermusuhan atau saling menghancurkan.

Pak Malik Fadjar adalah orang yang secara kuat mengadopsi semangat fastabiq-ul-khairat ini dalam merespon kemajemukan dan juga bersikap kepada non-Muslim. Saya kebetulan berkesempatan mendampingi Pak Malik selama dua tahun ketika beliau menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), sebelum saya menjadi fellow di CSEAS Kyoto Jepang dan  ISEAS Singapura.

Selama mendampingi beliau, saya bersama dengan Pak Azyumardi Azra dan Mas Riefqi Muna mengadakan berbagai diskusi, kunjungan, & FGD tentang “Kemajemukan Indonesia”. Hasilnya kita kompilasikan dalam “Series Kemajemukan”. Salah satu series itu berjudul “Merawat Kemajemukan Indonesia”. Diantara pernyataan Pak Malik dalam beberapa diskusi itu adalah: “Kalau bangsa ini mampu merawat dan memanfaatkan kemajemukan karena kemajemukannya sangat multidimensional; baik dari suku, agama, bahasa, ras dan seterusnya yang tentu saja itu bisa menjadi kekuatan yang positif, kekuatan yang sangat menjanjikan untuk perjalanan bangsa, tetapi juga kadang-kadang mengganggu…”. 

Merawat Kemajemukan; Tugas Semua Komponen Bangsa

Pak Malik berkali-kali menggarisbawahi bahwa menyadari dan meyakini bahwa; merawat kemajemukan di Indonesia merupakan suatu tugas dan tanggung jawab semua komponen bangsa. Tugas dan tanggung jawab itu harus pula disertai dengan langkah-langkah nyata dalam berbagai kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam hal ini kemajemukan itu harus diterima dan dimaknai sekaligus sebagai kekuatan serta sumber inspirasi masa depan bangsa.

Kami di LIPI juga pernah mengundang Pak Malik untuk menjadi keynote speaker pada Seminar tentang “Pluralitas dan Minoritas dalam Dinamika Kebangsaan”, 1 Desember 2016. Kegiatan ini diselenggarakan, diantaranya, sebaga respon dan counter terhadap Aksi 212 yang dilakukan sehari setelahnya. Kegiatan itu kemudian menjadi bagian penting dari buku Dilema Minoritas di Indonesia yang diterbitkan oleh Gramedia 2020.

Sikap dan perilaku Pak Malik dalam dua contoh itu sangat menunjukkan seperti apa posisinya terkait non-Muslim. Sebuah sikap inklusif dan menghargai kemajemukan umat manusia.

Guru kemajemukan dan penafsir progresif tentang makna atsaris sujūd itu telah pergi meninggalkan kita pada 7 September 2020. Meski fisiknya kini telah dikubur, namun “bekas-bekas sujudnya” akan tetap dan terus kokoh berdiri; serta bisa dilihat oleh semua orang sebagai amal jariyah yang abadi.

Sugeng tindak, Pak Malik! Dia adalah Sang Pencipta kemajemukan umat manusia ini! Saya yakin engkau akan damai di sisi-Nya dan di sini, di dunia ini, namamu akan terus harum. Al-fatihah!

Editor: Ananul Nahari Hayunah