Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Makna Kemudahan: Lafadz Yusrun dalam Q.S Al-Baqarah Ayat 185

Sumber: https://sosmedpc.blogspot.com/

Agama Islam merupakan suatu agama ajaran dan tuntunan, yang diturunkan dari sang khaliq, pemelihara, pemilik langit dan bumi serta segala isinya, termasuk juga manusia. Allah SWT adalah dzat yang maha mengetahui batas kemampuan, batas kekuatan. Dalam menetapkan syari’at, Allah SWT selalu menyesuaikan dengan kemampuan hambanya, bukan dengan kemauan hawa nafsu hambanya. Agama Islam tidak menghendaki yang namanya kesukaran, melainkan agama islam justru datang dengan membawa kemudahan bagi manusia. Syari’at Islam tidak pernah menuntut seseorang untuk melakukan sesuatu, yang mana sesuatu itu justru malah menjatuhkannya kedalam kesulitan, atau sesuatu yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Kemudahan merupakan tujuan dasar dari sang pemilik syari’at dalam memperlakukan syari’at itu sendiri.

Defenisi Kemudahan

Mudah menurut bahasa kemudahan ialah sesuatu yang tidak memerlukan begitu banyak tenaga ataupun fikiran ketika mengerjakan sesuatu. Makna lain yaitu tidak sukar, tidak berat (ringan), dan gampang atau mudah untuk dilakukan. Sedangkan kata mudah itu sendiri memiliki sinonim yaitu kata ringan. Dalam KBBI ringan berarti bermakna tidak berat, sedikit timbangannya atau bobotnya, enteng, mudah untuk dikerjakan dan mudah untuk dimengerti. Dalam kamus al-Azhar disebutkan mengenai makna dari kata yusrun, kata yusrun berasal dari kata yasuro-yaisuru-yusron-fahuwa yasiiron, yang artinya yakni mudah atau kemudahan.

Adapun kata yusrun memiliki beberapa kata turunan, salah satunya yakni yasaro-yaisuru-yasron yang memiliki makna kelembutan, disebutkan juga dalam disebtkan juga  dalam kitab lisan al-‘Arab kata yasaro;  al-yusru yang memiliki makna yang sama yakni lembut.

Kata Yusrun atau Al-Yusru Di Dalam Al-Qur’an

Di dalam kitab fatkhu al-Rohman litholibi ayat Al-Qur’an, di sebutkan bahwasanya kata yusrun atau al-Yusro di dalam Al-Qur’an di sebutkan sebanyak enam kali, yang tersebar di dalam lima surat. Diantaranya yakni; disebutkan dalam Q.S al-Kahfi:88, Q.S al-Zaariyat:3, Q.S at-Tholaq:7 dan 4, Q.S al-Sarah:5, dan Q.S al-Baqarah:185.

Baca Juga  Tazkiyatun Nafs Sebagai Solusi Krisis Identitas

Kemudian dalam kamus al-Azhar disebutkan mengenai makna dari kata yusrun. Kata yusrun berasal dari kata yasuro-yaisuru-yusron-fahuwa yasiiron, yang artinya yakni mudah atau kemudahan. Adapun kata yusrun memiliki beberapa kata turunan. Salah satunya yakni yasaro-yaisuru-yasron yang memiliki makna kelembutan, disebutkan juga dalam disebtkan juga  dalam kitab lisan al-‘Arab kata yasaro;  al-yusru yang memiliki makna yang sama yakni lembut.

Makna Yusrun Dalam Q.S Al-Baqarah:185 Perspektif Tafsir al-Kashaf

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Di sini penulis akan sedikit menjelaskan kajian mengenai kata yusrun atau al-yusru pada surat al-Baqarah ayat 185. Secarab bahasa kata yusrun memiliki makna lawan dari kesukaran, dan kemudahan. Kata yusrun dalam ayat itu merujuk pada objek yakni al-shiyam (berpuasa). Berpuasa dalam Al-Qur’an memiliki makna menahan diri dari makanan, minuman, dari perkataan yang kurang baik, dari berhubungan intim suami istri. Terkait ayat itu al-zamahsyari dalam kitabnya tafsir al-kashaf menjelskan bahwasanya Allah SWT menginginkan kemudahan bagimu dan tidak menginginkan kesusahan bagimu. Allah SWT sudah menjelaskaan dalam Al-Qur’an apabila tidak bisa dapat berpuasa karena sakit,atau karena dalam perjalanan tidak apa-apa.

Ini merupakan salah satu bentuk keringanan, kemudahan dari Allah SWT kepada hambanya, agar tidak merasa berat dalam melaksanaakan syari’at (kewajiban dalam beribadah puasa). Sesunggunya tidak ada satupun kewajiban menjalankan syari’at (beribadah) yang memberatkan hambanya, semua sesuai dengan kemampuan hambanya. Kemudahan pada ayat itu berlaku untuk ibadah puasa dibulan ramadhan, atau puasa wajib. Kemudahan bagi mereka yang tidak dapat malaksanakan ibadah puasa dikarenakan sakit atau dalam perjalanan. Bukan untuk puasa sunnah, karena justru dalam puasa sunnah tidak ada kewajiban dalam melaksanakannya, boleh melaksanakan, boleh juga tidak

Baca Juga  Keutuhan Jasad Fir'aun yang Tenggelam dan Hikmah Di Baliknya

Kemudahan Bukan Untuk Dimudah-Mudahkan

Tetapi dijelaskan juga dalam tafsir al-Kashaf apabila tidak bisa melaksanakan ibadah puasa karena berhalangan, yakni fa ‘alaihi al-I’adah, harus mengulanginya (asalkan di ganti di hari yang lain). Tetapi terkadang dengan kemudahan, keringanan yang telah Allah SWT berikan kepada manusia, terkadang  manusia terlalu mengenak-enakkan kemudahan. Keringanan itu dengan menyalah gunakan makna dari kemudahan itu sendiri, padahal dalam tafsir al-Kashaf juga telah djelaskan, laa ishra fiiha, jangan berlebih-lebihan di dalamnya (di dalam kemudahan itu).

Bukan karena semua penyakit, bukan karena semua perjalanan kita boleh menggugurkan kewajiban kita untuk berpuasa. Tetapi kalau sekiranya masih mampu melakukan kewajiban, maka kita harus melakukanya.

Tetapi dari analisa yang telah penulis lakukan terhadap Q.S al-Baqarah:185, bukan kemudahanlah yang Allah uatamakan dalam ayat itu. Karena kemudahan bagi mereka yang dalam menjalankan syrai’at (ibadah puasa) biasa-biasa saja  tidak ada maknnya. Mungkin bagi mereka kemudaha itu hanya sebatas keringanan untuk mereka agar tetap bisa melakasanakan ibadah puasa.

Namun, yang Allah utamakan dalam Q.S al-Baqaraah ayat 185 yaitu kata akhir pada ayat itu yang harus kita catat, yakni kata laállakum tasykurun. Bagi mereka yang ibadahnya bagus akan memaknai bulan puasa dengan bagus pula, mereka akan selalu bersyukur kepada allah. Karena telah diberikan nikmat berupa bulan suci ramadlan yang penuh keberkahan di dalamnya. Bukan hanya itu, melainkan mereka juga bersyukur karena telah diberikan nikmat kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa bagi mereka yang berhalangan karena sakit maupun karena dalam perjalanan

Penyunting: An-Najmi