Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Makna Adil dalam Al-Qur’an: Analisis Semantik Kata Al-Qist

adil
Sumber: istockphoto.com

Al-Qur’an merupakan landasan normatif bagi umat islam dalam menuju kehidupan yang sejahtera di dunia maupun akhirat. Al-Quran tidak hanya mengajarkan tentang ibadah seorang manusia dengan Tuhannya, tapi juga mengajarkan nilai-nilai kebenaran yang universal. Salah satunya yang mencangkup ialah keadilan. Dalam Al-Qur’an makna adil disebutkan dalam dua bentuk, al-‘Adl dan al-Qist. Pada kesempatan ini penulis akan mempersempit analisa kata adil dengan kajian semantik terhadap kata al-Qist

Makna Al-Qist

Dalam Al-Qur’an kata al-Qist disebutkan sebanyak 25 kali baik dalam bentuk fi’il, mashdar, dan isim fa’il.  Al-Qist adalah isim masdar dari kata kerja قسط – يقسط yang artinya lurus. Kata al-Qist dalam Mu’jam Ma’Qayis al-lugah berasal dari kata ق – س – ط rangkain huruf-huruf ini memilikidua makna yang bertolak belakang yaitu (al-Qist) yang memiliki makna takaran, timbangan, dan bagiandan (al-Qast) yang memiliki maknakecurangan . Adapun makna dasar dari kata al-Qist adalah seimbang dan tepat. Sehingga dapat dipahami bahwa al-Qist bermakna seimbang, tidak condong, dan sesuai takaran.

Untuk memahami makna hakikat, diperlukanya makna relasional. Yaitu suatu makna yang konotatif yang diberikan terhadap makna yang sudah ada. Sehingga mampu memunculkan makna baru. Hal ini diperlukanya analisis sintagmantik dan paradigmatik.

Analisis Sintagmatik dan Paradigmatik Kata Al-Qist

Sederhananya analisis sintagmatik ini digunakan untuk menentukan suatu kata dengan memperhatikan kata yang sesudahnya dan yang sebelumnya. Melalui analisa sintagmantik ini kata al-Qist terkait dengan beberapa kata yaitu al-mizan, yatim, dan qawwam.

Lalu jika  dari analisa paradigmatik, komparasi suatu konsep lain baik dari sinonimnya atau antonimnya. Dari jangkauan sinonimnya, terdapat kata (al-mizan) dan (al-kayl), sementara dalam jangkauan antonimnya terdapat kata (janafa) dan(al-mayl).

Baca Juga  Mengulas Penafsiran Fazlur Rahman atas Pandemi

Dari penjelasan makna al-Qist di atas dengan makna yang mengelilinginya, maka dapat dismpulkan. Bahwa medan semantik yang terbentuk dari al-Qist ini menggunakan kata kuncia al-mizan, al-kayl, al-mayl, janafa, yatim, dan qawwam.

Mengungkap suatu makna kata dalam kajian semantik, tentu saja tidak bisa meninggalkan salah satu aspek yaitu diakronik dan sinkronik. Kedua analisis ini berguna sebagai pemahaman suatu kata. Karena dalam suatu kosa kata terkandung pandangan dunia (world view). Prasangka suatu masyarakat yang menggunakan nya dan tentunya mampu menggambarkan suatu kultur pada saat tertentu.

Dalam kajian alquran, analisa ini menggunakan 3 periodesasi, pra-Qur’an, saat Qur’an, dan pasca Qur’an.

Analisis Pra-Al-Qur’an

Dalam analisis kata al-Qist ditemukan syair karya Ibnu manzur dalam Lisanal-‘Arab,

يسفي لضغن قسوط القاسط

Adil adalah ketika sembuh dari kecenderungan”.

Syair ini menyatakan sungguh Allah Swt adil, karena tidak ada keberpihakan dalam pembagian rezeki hambanya. Dari syair ini didapati kata al-Qist digunakan dalam ranah sempit sebatas kata at-Tawazun (tepat dan seimbang).

Analisis Masa Al-Qur’an

Pada masa Qur’an kata Qist tidak jauh berbeda penggunaanya, hanya sebatas makna aslinya, belum secara spesifik menggambarkan tentang bagaimana memberlakukan keadilan dalam lingkup luas. Pada masa ini layaknya seperti masa periode kenabian, Makkah dan Madinah.Layaknya dakwah masa nabi yang  dalam penyebaran Islam memiliki perbedaan antara periode Makkah dan Madinah.

Dalam periode Makkah dakwah nabi tertuju kepada ketauhidan sehingga dalam hal ini kata adil mengalami perubahan makna dasar secara drastis, karena adanyaqarinah yang menyertai kata Qist, seperti pada surat Qs. Al-Jinn: 14 dan 15.

Selanjutnya pada periode Madinah dakwah nabi semakin berkembang tidak lagi tertuju kepada ketauhidan, tapi sudah lebih kepada Ijtimaiyah (sosial kemasyarakatan).Dalam hal ini kata al-Qist mulai berkembang untuk penggunaan yang lebih luas, mencangkup kehidupan sehari-hari, adil dalam hukum utang-piutang, adil dalam hak (harta) anak yatim, dan adil dalam persaksian.

Baca Juga  Tahap Penelitian dengan Kajian Semantik Toshihiko Izutsu

Analisis Pasca Al-Qur’an

Setelah Al-Qur’an turun, tentu istilah kata Qist ini yang dulunya hanya bermakna seimbang atau sesuai takaran mengalami pergesaran atau perubahan makna yang disebabkan oleh pengaruh kosa kata dalam Al-Qur’an. Contoh ungkapan al-Qist pada Al-Qur’an digunakan pembagian harta anak yatim yang harus adil sesuai takaran tidak menambah dan tidak mengurangi.

Dari pemaparan analisis semantik keadilan melalui kata al-Qist. Semoga kita bisa menambah wawasan kita tentang kosa kata dalam Al-Qur’an dan juga bisa memupuk kecintaan kita untuk terus belajar Al-Qur’an. Wallahu alam.

Editor: An-Najmi