Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Macam-Macam Teori Makna dan Aplikasinya Terhadap Al-Qur’an

Makna
Gambar: Dok. Penulis

Filsafat bahasa merupakan sebuah nama dari sebuah pembahasan (subjek kajian), yaitu supaya secara filosofis, memberikan deskripsi yang mencerahkan ihwal fitur-fitur bahasa seperti reference, truth, meaning, necessity dan sebagainya. Filsafat bahasa juga dibutuhkan untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki gaya bahasa yang sangat kompleks. Salah satu teori filsafat bahasa yang digunakan untuk menafsirkan Al-Qur’an ialah teori makna.

Mengenal Macam-Macam Teori Makna

Aminuddin mengemukakan bahwa makna ialah hubungan antara bahasa dengan dunia luar yang disepakati bersama oleh pemakai bahasa sehingga dapat saling dimengerti. Makna memiliki beberapa macam, akan tetapi pada artikel ini akan dijelaskan sepuluh macam makna beserta pengaplikasiannya pada Al-Qur’an. Adapaun macam-macam makna di antaranya

  • Makna Etimologi

Ia adalah makna secara umum, atau suatu kata yang diartikan sesuai makna globalisasi. Contoh  kata ” kataba ” secara umum memiliki arti menulis. Akan tetapi jika diartikan ke dalam artian yang lain, bisa di maknai dengan mewajibkan.

  •  Makna Terminologi

Ia adalah ilmu tentang peristilahan dan penggunaanya. Sedangkan istilah adalah gabungan dari kata yang digunakan dalam konteks tertentu sehingga memiliki cakupan tersendiri jika digabungkan dengan beberapa kalimat. Tamam Hasan berpendapat bahwa yang dimaksud dengan konteks ialah yang pertama unsur-unsurnya berhubungan, sedangakan yang kedua ialah situasi berturut-turut mengikuti performansi bahasa. Maka bisa dikatakan jika terminologi dikaitkan dengan unsur di luar bahasa, maka konteksnya diartikan sebagai ciri-ciri alam yang menumbuhkan makna ujaran atau wacana.

  • Sintaksis

Sintaksis ialah cabang ilmu bahasa yang mempelajari bagaimana pengaturan dan hubungan kata-kata itu dalam upaya membentuk frase yang indah. Sedangkan sintaksis bahasa ialah cara pengekspresiannya yang disatukan bersama untuk membentuk kalimat.

Bunyi, Tanda Baca dan Uslub

  • Bunyi
Baca Juga  Tolak Kampanye Poligami! Beginilah Tafsir HAMKA Mengenai Poligami

Ia merupakan unsur bahasa yang paling kecil karena secara implisit mengandung makna tertentu. Aristoteles berpendapat bahwa bunyi ialah hubungan antara bentuk dan arti kata berdasarkan perjanjian pemakainya. Sebagai contoh خمار memiliki makna yang berbeda dengan حمار

  • Tanda Baca

Makna tanda merupakan sesuatu yang berupa fisik sehingga bisa di persepsi oleh indra. Tanda yang dimaksud pada artikel ini ialah tanda baca yang meliputi waqaf dan ibtida’. Waqaf berarti menghentikan suara sesaat untuk mengambil nafas baru dengan niat melanjutkan bacaan. Sedangkan ibtida ialah memulai pembacaan kembali setelah berhenti atau waqaf.

  •  Uslub

Uslub berasal dari kata salaba–yaslubu–salban yang berarti merampas, merampok dan mengupas. Kemudian terbentuk kata uslub yang berarti jalan, jalan di antara pepohonan dan cara mutakallim dalam berbicara (menggunakan kalimat). Sedangkan uslub dalam terminologi ialah ungkapan tentang metode untuk menyusun kalimat.

Uslub juga didefinisikan dengan sebuah metode yang digunakan untuk membedakan antara apa yang diucapkan dan bagaimana pengucapannya, atau antara konten dan bentuk, konten disini juga bisa disebut informasi atau massage atau makna yang disampaikan.

Dengan demikian, uslub merupakan cara yang dipilih penutur atau penulis di dalam menyusun kata-kata untuk mengungkapkan fikiran, suatu tujuan, dan makna kalamnya. Dan uslub terdiri dari tiga hal, yaitu cara, lafadz/bahasa dan makna. Seperti contoh ضرب زيد أمرا kalimat ini memiliki makna zaid telah memukul amran. Akan tetapi apabila terdapat huruf ما di depannya maka akan memiliki arti yang berbeda.

Dari Deskriptif Hingga Konten

  • Deskriptif

Deskriptif ialah suatu makna yang bisa diartikan sebagai makna yang bersifat mengambarkan saja. Seperti contoh deskripsi dari suatu persegi panjang ialah bahwa persegi Panjang memiliki empat sisi.

  • Nama General dan Publik
Baca Juga  Tafsir Surah al-Baqarah Ayat 3: Iman Itu Dibuktikan dengan Sembahyang

Nama publik ialah nama yang di pakai untuk khalayak umum akan tetapi memiliki sifat individu. Seperti, Umar, Fulan, Ali, dll.

Sedangkan nama general ialah nama yang dipakai untuk umum tapi mengkhususkan cara pengelompokkan untuk memudahkan dalam pengucapannya. Seperti husband, wife, son, daughter, dll.

  • Kontekstual

Tamam Hasan memandang konteks dari dua sisi yakni: pertama, berturut-turutnya unsur-unsur dapat menciptakan struktur dan hubungan. Dari sisi ini, konteks dinamakan dengan konteks teks. Kedua, berturut-turut situasi yang mengiringi performansi bahasa, dimana ia memiliki hubungan dengan komunikasi, dari sisi ini konteks dinamakan dengan konteks situasi.

Seperti contoh   يقرأ نصاري الكتاب كنيسة: orang Nashrani membaca Al-Kitab di Gereja. Berdasarkan contoh-contoh di atas dapat diketahui bahwa makna sebuah kata dapat diketahui jika sudah berada dalam konteksnya yang mana konteks tersebut bisa berkenaan dengan situasinya yakni tempat, waktu dan lingkungan penggunaan bahasa itu.

  • Konten

Makna konten ini muncul dari makna konsep dan makna konteks. Jadi apabila sudah menemukan suatu konsep dan konteks dalam suatu ayat, maka hadirlah sebuah isi atau konten yang dapat di pahami dari ayat tersebut.

Aplikasi Teori Makna pada Al-Quran

Adapun pengaplikasian teori-teori makna di atas pada surat Al-Baqarah ayat 23:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Artinya: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”

Nazala menurut etimologi adalah menurunkan, jatuh, Pada ayat ini kata nazala menurut terminologi yang paling tepat dalam ayat ini adalah yang kami wahyukan. Karena jika melihat dari pembahasan dalam ayat ini yang mana membahas masalah Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad sebagai penghilang rasa ragu.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 66: Yang Dikutuk Menjadi Monyet

Pada ayat ini jikalau melihat dari sintaksis (susunan kalimat) nya. Dapat diketahui bahwa makna yang paling tepat dipakai untuk nazala adalah yang diwahyukan. Karena kata nazala disandingkan kata abdun sebagai objek dari nazala dan subjek yang mewahyukan adalah Allah. Keterangannya adalah al-Qur’an.

Diartikan “mewahyukan” karena nazala berada dalam konteks tentang keraguan kaum kafir terhadap al-Qur’an dan kenabian Nabi Muhammad Saw. Dan teguran yang ada di ayat ini ditujukan kepada setiap orang kafir dan munafik (non muslim). Hal tersebut dalam dilihat dari kalimat sebelumnya, إن كنتم في ريب yang artinya jika kamu dalam keraguan. Karena bagi orang mukmin tidak ada keraguan di hatinya dan yakin bahwa Al-Qur’an itu wahyu dari Allah Swt

Jikalau ayat di atas diwaqofkan pada mitslihi maka artinya adalah Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), dan ini adalah pemberhentian yang paling baik. Dan harus mengulanginya sesuai dengan tata kaidah bahasa Arab. Sehingga tidak merubah makna konten ayat bahwa kata nazala pada ayat ini diartikan mewayuhkan karena objeknya ialah al-Qur’an. Karena al-Qur’an ialah suatu yang berat atau dahsyat.

Penyunting: Bukhari

Tri Kurnia Agustina
Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains Al-Ishlah. Asal Campurejo, Panceng, Gresik