Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Larangan Mengambil Keputusan Sepihak dalam Al-Qur’an

sepihak
Sumber: https://www.whyislam.org/

Selama seseorang masih hidup di dunia, tidak bisa dipungkiri berbagai permasalahan akan selalu datang. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah keputusan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Semakin banyak permasalahan yang datang maka semakin banyak pula keputusan yang dibutuhkan. Dan keputusan yang baik tidak boleh sepihak.

Sebagai makhluk sosial yang hidup berkelompok tentu saja membutuhkan interaksi dan komunikasi yang baik dalam menyelesaikan masalah. Terkadang, dalam sebuah kelompok terdapat pemimpin yang memiliki sikap egois. Sehingga menggunakan kekuasaannya dan semena-mena dalam memutuskan sesuatu. al-Qur’an telah melarang sikap tersebut dan menganjurkan untuk bermusyawarah dalam mengambil keputusan.

Keputusan Sepihak dalam Al-Qur’an

Secara eksplisit al-Qur’an memang tidak menyebutkan secara langsung larangan mengambil keputusan sepihak, namun sebaliknya al-Qur’an justru menganjurkan untuk berdialog dalam musyawarah. Musyawarah merupakan salah satu cara yang sangat baik dalam menyikapi suatu permasalahan dan mengambil keputusan secara bersama.

Terdapat beberapa ayat yang membicarakan perihal musyawarah dengan konteks yang berbeda-beda. Salah satunya adalah QS Ali Imran (3:159).  

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِين

Artinya: “maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka. Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.

Tafsir Surah Ali Imran (3): 159

Quraisy Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menyebutkan bahwa penekanan pokok ayat ini adalah perintah untuk melakukan musyawarah. Musyawarah berasal dari akar kata (شور) syawara yang bermakna mengeluarkan madu dari sarang lebah. Syihab menggambarkan orang-orang yang bermusyawarah bagaikan lebah dan hasil yang didapat adalah madu. Sebagaimana lebah merupakan makhluk yang sangat disiplin. Mereka memiliki kerja sama yang mengagumkan; makanannya sari kembang, tidak pernah merusak dan mengganggu, bahkan sengatannyapun bisa menjadi obat. Makna ini kemudian berkembang sehingga mencakup segala sesuatu yang dapat diambil/dikeluarkan dari yang lain ( termasuk pendapat).(Al-Misbah, vol.2, hlm. 312)

Baca Juga  Perintah Islam: Pentingnya Berusaha dan Bekerja

Imam Jalil Al-Hafidz ‘Imadudin Abu Al-Fida Ismai’l Bin Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan Rasulullah bermusyawarah bersama para sahabat mengenai sebuah persoalan yang terjadi untuk menjadikan hati mereka baik. Rasulullah pernah mengajak para sahabat bermusyawarah pada waktu perang badar. Selain itu, musyawarah juga dilakukan Rasulullah dan sahabat pada waktu perang Uhud ketika memilih untuk tinggal di Madinah atau keluar menghadapi musuh. Praktik musyawarah juga dilakukan Rasulullah ketika perang khandaq mengenai perdamaian Al-Ahzab. (Ibnu Katsir, Jilid 3, hlm. 234)

Dalam tafsir Kemenag dijelaskan bahwa ayat tersebut memiliki empat pesan moral. Pertama, perintah untuk lemah lembut dalam bertutur kata. Kedua, banyak memberi maaf dan banyak istigfar. Ketiga, bermusyawarahlah dalam berbagai urusan. Keempat, pasrahkan urusan kepada Allah setelah mengambil keputusan. Dalam ayat ini Nabi diperintahkan untuk melakukan musyawarah dengan para sahabat. Perintah musyawarah ini mengandung pesan agar sebagai pemimpin tidak boleh meninggalkan musyawarah karena dengan musyawarah dapat memperoleh pandangan dan keinginan dari masyarakat. Esensi musyawarah sendiri adalah pemberian kesempatan kepada orang lain yang memiliki hak untuk berpartisipasi dalam membuat keputusan. (Tafsir al-Qur’an Tematik, Etika berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik, hlm. 222)

Refleksi Ayat

Sebelumnya, penulis telah menyebutkan bahwa terdapat beberapa ayat yang berbicara tentang musyawarah dengan konteks yang berbeda-beda. Hal tersebut menandakan bahwa Allah ingin menyampaikan pesan. Pertama, selama masih ada orang lain yang bisa memberikan pendapat maka dengarkan dan terima saran yang diberikan. Kedua, tentang pentingnya melakukan musyawarah dalam setiap persoalan. Ketiga, tentu saja larangan mengambil keputusan tanpa melakukan musyawarah

Perintah musyawarah di dalam al-Qur’an sejalan dengan sila ke-4 yang memerintahkan setiap warganya untuk bermusyawarah dalam setiap permasalahan; baik dalam cakupan yang kecil seperti masyarakat, keluarga, bahkan dalam sekala yang lebih besar seperti negara. Oleh karena itu, musyawarah dianjurkan agar mendapatkan hasil yang baik.

Baca Juga  Kebahagiaan Sejati: Merawat Koneksi dengan Allah

Ketika sebuah keputusan diambil secara sepihak tanpa musyawarah, maka akan memunculkan selisih paham dan kerugian diri sendiri dan pihak lainnya. Sehingga Allah melarang sikap tersebut dan lebih menganjurkan untuk bermusyawarah. Semoga kita selalu diberikan kerendahan hati agar terhindar dari sikap egois dan merasa paling benar. Sehingga menutup telinga kita atas saran-saran dari orang lain.