Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Lailatul Qadar dan Pergeseran Orientasi Ibadah

Fitrah
Sumber: sulawesion.com

Semerbak harum bulan Ramadhan sudah kita rasakan sejak tiga minggu lalu, bahkan sudah tercuim sejak bulan Rajab. Seluruh umat Islam selalu merindukan akan datangnya bulan ini. Bulan penuh rahmat, bulan penuh ampunan, bulan dilipatgandakannya pahala, bulan yang di dalamnya ada malam yang lebih mulia daripada seribu bulan, lailatul qadar.

Fenomena lailatul qadar tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Di mana para umat Islam dengan semangatnya yang menggebu-gebu berlomba untuk mendapatkan malam yang mulia ini, tidak lain karena ingin dilipatgandakan pahala baginya.

Jangan Mitoskan Lailatul Qadar

Namun, ada satu hal yang patut dicermati, bahwa, dalam ranah tasawuf, kita tidak diajarkan beribadah untuk mendapatkan ganjaran dari Tuhan, tidak. Kita diajarkan beribadah murni karena Allah adalah Tuhan, dan kita adalah seorang hamba. Murni mengajarkan kita untuk sholat, puasa, sedekah, membaca al-Qur’an semata-mata karena hal-hal tersebut adalah perintah-Nya. Dan sebagai bentuk cinta seorang hamba pada Tuhannya, bukan sebagai ajang untuk mengejar pahala.

Pada suatu kesempatan Imam Syafi”i pernah berkata: “Innal muhibba liman yuhibu muthi’un (sesungguhnya seorang pencinta akan taat kepada yang dicintainya)”. Misalnya, jika Zaid mencintai Farhanah. Pasti  Zaid akan berusaha agar semua keinginan kekasihnya ini terwujud. Begitupun hubungan hamba dengan Tuhan. Jika seseorang mengaku mencintai Allah, maka, apapun perintah-Nya akan senantiasa dilakukan sebagai bentuk cinta terhadap-Nya, bukan sebagai bentuk transaksi.

Adapun pahala yang didapat nanti adalah sebagai bonus dari Sang Khalik. Dapat pahala atau tidak itu tidak penting. Yang penting adalah menunjukkan cinta dan  penghambaan kita di hadapan Allah SWT.

Seorang tokoh sufi wanita, Sayyidah Rabi’ah al-Adawiyyah berkata dalam doanya: ” Ya Allah, aku beribadah kepada-Mu bukan untuk mengharap surga-Mu, dan juga bukan karena takut akan panasnya api neraka-Mu. Akan tetapi aku menemukan diri-Mu sebagai Zat yang pantas disembah, maka aku menyembah-Mu.”

Begitupun dengan lailatul qadar, kalau meminjam istilah Prof. Nasaruddin Umar: “Lailatul qadar itu bonus dari Allah setelah kita menemukan diri-Nya, bukan mencari lailatul qadar itu sendiri. Jadi, jangan mitoskan lailatul qadar. Yang kita cari itu bukan lailatul qadar, tapi pencipta lailatul qadar itu sendiri (Allah SWT)”.

Baca Juga  Untuk Orang Yang Sering Berpuasa: Ada Dua Kebahagiaan

Bolehkah Beribadah Mengharapkan Pahala?

Jika dihadapkan dengan pernyataan di atas, seakan terjadi kontradiksi akan hakikat beribadah kepada Allah SWT. Bolehkah beribadah dengan mengharap pahala? Apakah ketika seorang hamba beribadah dengan mengharapkan pahala, ia dinilai tidak ikhlas dalam beribadah?. Dan memang nyatanya, di dalam al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menunjukkan, bahwa, jika kita beramal salih, akan dibalas dengan pahala atau surga. Lantas, apakah ajaran para sufi tadi bertentangan dengan ayat al-Qur’an?

Jawabannya tidak. Sama sekali tidak bertentangan. Kita tetap beribadah karena Allah adalah Zat yang berhak disembah. Serta ingin menunjukkan rasa cinta dan penghambaan kita di hadapan Allah. Jika seorang hamba beribadah dengan mengharapkan pahala, ia tetap dinilai ikhlas. Karena ikhlas itu adalah melakukan sesuatu karena Allah, atau melakukannya demi untuk yang lain, selama yang lain itu dibenarkan oleh Allah.

Namun yang perlu diperhatikan di sini adalah, memang, seorang hamba tetap boleh mengharap pahala dari Allah. Akan tetapi, jangan sampai ibadah yang dilakukannya demi pahala itu sendiri. Dengan menghilangkan identitas diri sebagai seorang hamba.

Rahmat Allah, Bukan Karena Amal Ibadah

Dalam khutbahnya, Maulana Syeikh Yusri Rusydi Jabr (Ulama Al-Azhar) sering berpesan: “Kun abdan lil hakîm, wa lâ takun abdan lil hikmah“. Jadilah kamu hamba Allah yang maha hakîm, bukan penyembah hikmah, yakni pahala. Atau dengan ungkapan lain: “Sembahlah Allah, jangan sembah pahala !”.

Dalam pesan yang singkat ini kita dapat memahami, bahwa, jangan sampai pahala besar yang dijanjikan Allah justru melalaikan kita, dan membuat tidak sadar, bahwa kita tidak lagi sedang menyembah Allah, tapi menyembah pahala (hikmah). Subtansi ubûdiyyah (penghambaan) kini seakan sudah bergeser maknanya menjadi sebuah transaksi akhirat.

Baca Juga  Mahmud Yunus: Guru Cum Mufasir

Perlu diingat, bahwa kita tidak sedang berdagang dengan Allah. Karena pemikiran akan uraian tersebut memberikan corak pemikiran yang matematis, di mana amal ibadah merupakan jawaban terhadap surga yang akan diraih. Dan tetap, kita masuk surga karena rahmat Allah, bukan karena amal ibadah. Jangan sampai besarnya pahala yang dijanjikan Allah, justru memalingkan ibadah kita dengan sibuk memikirkan imbalan. Serta menghilangkan identitas kita sebagai seorang hamba yang lemah, dan selalu mengharapkan rahmat, ridho, dan kasih sayang-Nya. 

Wallahu a’lam bi shawâb. 

Penyunting: M. Bukhari Muslim