Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Konseptual Penafsiran Ideal di Masa Depan

Ideal
Gambar: harakatuna.com

Perkembangan zaman secara jelas dapat mengakibatkan perubahan konteks pada turunnya al-Qur’an dengan kondisi selanjutnya. Sehingga dalam penafsiran al-Qur’an bersifat dinamis. Oleh karena itu, seorang mufassir terkadang menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan keadaan yang dialami. Tetapi dalam pengertian ini bukan berarti ke ranah subjektifitas dalam penafsiran. Karena hakekatnya al-Qur’an shalih li kulli zaman wa makan yang mana dalam memproduksi makna al-Qur’an relavan dengan zamannya.

Model penafsiran al-Qur’an dikalangan para mufassir memiliki corak karakteristik tafsir yang berbeda-beda. Dalam sejarahnya, penafsiran al-Qur’an diawali dengan menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan hadis nabi, qaul sahabat atau tabi’in. Bisa terbilang bahwa masa tersebut adalah masa periode klasik. Tradisi pada era tafsir klasik cenderung mengunakan pendekatan literal dan tekstualitas yang hanya memperhatinkan aspek kebahasaan. Sehingga ketika disandingkan dengan era kontemporer atau modern mempunyai aspek perbedaan.

Kebenaran mutlak yang mengetahui isi al-Qur’an adalah hanya Allah Subhanahu Wata’ala. Sedangkan setelah wafatnya nabi Muhammad Shollallu ‘Alaihi Wasallam yang disebut sebagai khotimul anbiya’, tidak ada yang menjadi penerus status kenabian. Hal ini jelas bahwa para mufassir dalam menafsirkan al-Qur’an adalah hasil ijtihad yang patut untuk diapresiasi. Sehingga menyebut kebenaran mutlak dalam menafsirkan al-Qur’an di kitab tafsir tertentu atau produk tafsir yang diciptakan adalah suatu hal yang tak patut untuk dilakukan.

Akibat pergeseran budaya, sosial, politik, ekonomi dan lain sebagainya, memunculkan persoalan-persoalan baru yang lebih kompleks dibandingkan dengan permasalahan sebelumnya. Dari adanya perubahan zaman tersebut, kontribusi dalam menafsirkan al-Qur’an yang dapat menjawab problematika zaman sangat dibutuhkan. Dalam hal ini seorang penafsir tidak hanya mengikuti metode ulama tafsir klasik yang lebih menekankan aspek kaidah kebahasaan saja. Akan tetapi, konteks sosio-historis dengan mengkaitkan teori-teori ilmu lain juga diperlukan. Sehingga akan menemukan penafsiran yang pas sesuai dengan kebutuhan zaman.

Baca Juga  Mencetak Generasi Tangguh: Telaah Surah An-Nisa Ayat 9

Tafsir Al-Qur’an Ideal di Masa Depan

Studi dalam al-Qur’an maupun metodologi tafsirnya telah mengalami perkembangan yang signifikan. Akselerasi perkembangan kondisi perdaban manusia juga berbeda. Sehingga memunculkan ide pemikiran baru atau ideal dalam memahami ayat al-Qur’an. Metode yang ditempuh dalam era modern ini pun dirasa lebih relavan. Karena tidak hanya terkukung oleh kebahasan tektual semata. Tetapi, lebih memperhatinkan kontekstualnya. Ini bukan berarti mengabaikan metode penafsiran yang ditempuh oleh ulama’ tafsir klasik. Dalam hal ini penafsiran yang ideal yakni menggabungkan antara keduanya.

Dalam era modern ini adanya penafsiran yang hanya memperhatinkan kaidah bahasa saja tidaklah cukup. Konteks pewahyuan baik mikro, makro dan konteks pengkaji juga harus diikutsertakan. Jalan ini merupakan arah yang moderat sesuai dengan keadaan zaman sekarang. Sehingga nantinya menemukan tafsir yang sesuai dalam menjawab persoalan tantangan zaman.

Bagaimanapun juga semua adalah hasil ijtihad yang berusaha mengungkap makna al-Qur’an dengan cara yang sungguh-sungguh. Sebagai seorang hamba yang bijak juga tidak boleh diperkenankan saling menyalahkan dalam menafsirkan al-Qur’an. Karena hakekatnya semakin luas ilmu pengetahuan seseorang, maka bentuk toleransinya akan semakin tinggi.  

Selain metode penafsiran yang menggabungkan antara tekstualis dan kontekstualis yang dianggap sebagai membuahkan hasil tafsir yang ideal untuk masa depan. Teknis dalam menulis maupun memperkenalkan juga sangat mempengaruhi hasil produk yang ditempuh. Mengingat zaman sekarang adalah zaman dimana ilmu teknologi dan komunikasi sangat berkembang pesat. Maka adanya media adalah salah satu alternatif yang harus diperhatikan.

Memaksimalkan Peran Tafsir di Media Sosial

Penulisan tafsir tidak hanya terpatok dengan tulisan yang dibukukan. Tetapi bisa melalui media sosial sebagai sarana agar mudah diakses oleh semua orang. Hal ini tidak didefinisikan bahwa sekarang buku sudah menjadi tidak penting. Bukan begitu, sebagai manusia yang memanfaatkan teknologi, maka perlunya untuk menggunakan media sosial juga dalam memperkaya tulisan produk-produk tafsir yang telah ditulis oleh para ulama tafsir.

Baca Juga  Kontroversi Penggunaan Hermeneutika Dalam Tafsir Al-Qur'an

Supaya dunia media sosial lebih apik dan berfaedah dalam isi kontennya. Yang notabene sekarang hampir semua orang mengakses media sosial sebagai tujuan hiburan maupun kebutuhan. Walaupun seperti itu, ada satu hal yang perlu diingat bahwa jadilah konsumen yang cerdas dalam memilih produk tafsir. Tidak semua tafsir al-Qur’an bersifat moderat. Maka perlunya untuk menelaah lagi dengan menghubungkan konteks yang dihadapi. Wallahu A’lam

Penyunting: Bukhari