Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Konsep Keadilan Sosial Perspektif Al-Qur’an

Keadilan sosial
Gambar: suaraislam.id

Keadilan merupakan suatu hal yang dianggap sentral bagi kehidupan. Karena dengan keadilan maka kehidupan masyarakat akan terjalin dan memberikan rasa aman. Banyak kasus yang mempersoalkan keadilan yang pada akhirnya menimbulkan pertikaian dan permusuhan.

Padahal islam menjunjung tinggi nilai keadilan. Manusia juga diperintahkan untuk berbuat adil dalam setiap aspek kehidupan tanpa memandang ras, warna kulit dan status sosialnya. Maka perlu ditinjau kembali, konsep keadilan yang tertera didalam al-Qur’an kemudian diterapkan dalam ranah sosial kehidupan.

Makna Keadilan Sosial

Al-Jurjani dalam kitab al-Ta’rifat, menjelaskan adil merupakan bentuk masdar al-‘adalah yang bermakna al-i’tidal (seimbang) dan al-istiqamah (lurus). Dan dikatakan juga, adil yaitu kecondongan terhadap kebenaran.

Beberapa ulama’ mendefinisikan keadilan dengan beragam makna. Menurut Quraish Shihab artinya lurus dan sama. Dengan kata lain, orang yang adil berjalan lurus dan sikapnya selalu menggunakan ukuran yang sama. Dan sebagian pakar mendefiniskan, keadilan yaitu dengan penempatan sesuatu pada tempat yang semestinya. Ada yang mengatakan bahwa adil adalah memberikan kepada pemilik hah-haknya melalui jalan yang terdekat.

Al-Qur’an telah menerangkan didalam surat An-Nahl ayat 90:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat. Dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

Adil Menurut Para Ulama

Dalam kitab Tafsir Al-Munir, Wahbah Zuhaili menjelaskan ayat ini merupakan pilar kehidupan dalam masyarakat Islam. Allah memerintahkan kepada para hamba-Nya agar menerapkan keadilan secara mutlak dalam segala aspek kehidupan. Baik itu ranah interaksi dan transaksi sosial, hukum, agama, bahkan sampai adil terhadap diri sendiri.

Baca Juga  Urgensi Maqashid Syari'ah dalam Membuat Fatwa

Begitu juga, Ibnu al-‘Arabi membagi al-‘adl menjadi tiga: adil dengan Allah, adil dengan diri sendiri dan adil dengan orang lain. Tiga konsep ini diterapkan di dalam diri seseorang. Agar memperoleh kemaslahatan baik itu hubungannya dengan Allah, sesama manusia dan diri sendiri seseorang tersebut.

Di dalam hadis riwayat Muslim juga diterangkan bahwa: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang yang berlaku adil berada di sisi Allah di atas mimbar (panggung) yang terbuat dari cahaya, di sebelah kanan arRahman ‘azza wajalla. Sedangkan kedua tangan Allah adalah kanan semua-, yaitu orang-orang yang berlaku adil dalam hukum, adil dalam keluarga dan adil dalam melaksanakan tugas yang di bebankan kepada mereka.”

Hadis di atas menerangkan bahwa Nabi menjamin orang-orang yang berbuat adil, akan berada di sisi Allah. Orang-orang yang berbuat adil yang dijamin adalah mereka yang selalu menegakkan keadilan. Adapun orang-orang adil yang mengurus urusan orang-orang muslim dan menunaikan hak-haknya. Maka mereka kelak akan mendapatkan derajat yang tinggi dan kegembiraan yang besar.

Imam an-Nawawi dalam kitab syarahnya berpendapat keutamaan ini akan diraih oleh pemimpin yang bertindak adil. Otoritasnya sebagai khalifah, gubernur, hakim, petugas amar ma’ruf nahi munkar, wali anak yatim, pemungut zakat, badan wakaf, ataupun apa yang menjadi kewajibannya atas keluarga dan kerabatnya dan lain sebagainya.

Maka, keadilan secara luas dapat diartikan sebagai menjaga keseimbangan dalam masyarakat. Artinya keadilan adalah segala sesuatu yang dapat melahirkan kemaslahatan bagi masyarakat dan memeliharanya dalam bentuk lebih baik sehingga masyarakat mendapatkan kemajuan.

Adil dalam Pemimpin

Mengenai keadilan pemimpin, seperti yang disampaikan oleh Sayyid Quthb. Munawir Sjadzali dalam bukunya Islam dan Tatanan Negara menjelaskan bahwa seorang penguasa harus adil secara mutlak. Keputusan dan kebijaksanaannya tidak terpengaruh oleh perasaan senang atau benci, suka atau tidak suka, hubungan kerabat, suku dan hubungan-hubungan khusus lainnya. Seorang pemimpin atau penguasa yang adil, dalam menetapkan sebuah keputusan tidak akan miring atau tidak akan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang menodai tegaknya keadilan itu.

Baca Juga  Kepemimpinan Negara: Khazanah Islam Klasik Hingga Modern

Adil dalam Hukum

Dalam ranah hukum, memaknai adil sebagai sebentuk persamaan, yaitu persamaan dalam hak. Dengan tanpa memandang siapa, dari mana orang yang akan diberikan keputusan oleh orang yang diserahkan menegakkan keadilan.

Keadilan juga harus diterapkan kepada seorang hakim wajib berlaku adil dan tidak boleh berat sebelah dalam masalah masalah persengketaan yang terjadi antara dua orang atau golongan dengan memberikan kesempatan yang sama untuk menemuinya, perhatian yang sama, tempat yang sama dan penetapan keputusan yang tidak berat sebelah.

Sementara itu, ketegasan di dalam prinsip menegakkan keadilan ini ditegaskan oleh Allah dalam firmannya: “Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan al-Mizan padanya terdapat kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi manusia….” (QS. Al-Hadid, 57:25).

Secara khusus, ayat di atas mengandung kata al-mizan, yang berarti adalah timbangan atau keadilan. Pesan inti ayat di atas adalah bahwa segala bentuk hukum dan keadilan haruslah ditegakkan dengan cara apapun, jika perlu dengan paksa dan kekerasan, agar yang bersalah dan yang batil harus menerima akibatnya berupa sanksi, sedangkan yang benar dapat menerima haknya.

Penegakan keadilan secara adil dan merata tanpa pandang bulu adalah menjadi keharusan utama dalam bidang peradilan, walaupun berkaitan dengan diri sendiri, keluarga, atau orang yang memiliki jabatan dan kekuasaan, semuanya sama.

Adil dalam Sesama Manusia

Berlaku adil terhadap semua orang tanpa membeda-bedakan antara yang kuat dan yang lemah, kulit putih dan hitam, Arab dan ‘ajam, Muslim dan non Muslim serta berkuasa dan rakyat. Keadilan dalam al-Qur’an memperlakukan manusia seluruhnya secara sama, baik dalam urusan pertanggung jawaban, pembahasan dan hak-hak sosial lainnya. Keadilan yang didasarkan pada kebebasan, kesadaran mutlak, persamaan sepenuhnya seluruh manusia dan tanggung jawab timbal balik antara masyarakat dan individu.

Baca Juga  Tafsir Ekonomi: Bagaimana Al-Qur'an Memandang Kapitalisme?

Nilai Keadilan Sosial dalam Pancasila

Dalam masyarakat demokarasi, contohnya seperti negara Indonesia, keadilan sosial menjadi kewajiban dan elemen penting demi terbentuknya perdamaain dan kesejahteraan. Keadilan sosial merupakan sila kelima dalam asas dasar pancasila.

Keadilan sosial dalam Pancasila mencakup segala bidang kehidupan artinya semua dan setiap bidang kehidupan harus dijamin untuk bisa di nikmati keadilannya. Baik kesempatan menikmati keadilan di bidang hukum, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan-keamanan. Tidak ada alasan untuk menerapkan perlakuan yang berbeda, baik dalam hal status, kedudukan, golongan, keyakinan, ras, dan sebagainya tidak berhak untuk bertidak diskriminatif.

Makna keadilan dalam sila kelima ini yang merupakan harapan dari sila-sila yang lain, artinya setiap orang indonesia berhak mendapat perlakuan yang adil dalam semua segi kehidupan dan hajat hidupnya, yang meliputi bidang sosial, ekonomi, politik, hukum dan dan kebudayaan, dalam keadilan juga dituntun memenuhi kebutuhan hidup baik jasmani seperti papan, pangan dan sandang, yang didalamnya mencakup kebutuhan atas pekerjan dan kehidupan yang layak, dan juga tuntuhan kebutuhan rohani, seperti pelakuan sikap yang adil, penghormatan terhadap hak-hak orang lain, seta memberi bantuan atau pertolongan kepada orang lain.

Penyunting: Bukhari

Muhammad Yusril Muna
Alumni UIN Walisongo Semarang. Sekarang menempuh pendidikan Magister di Ez-Zitouna University of Tunisia.