Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Konsep Berfikir Qur’ani Menurut Mulla Sadra

Sumber: https://en.imna.ir/news/376863/Mulla-Sadra-Influential-Islamic-Philosopher

Paradigma pemikiran filsafat sering berubah seiring determinan dengan perkembangan zaman dan tempat. Aristoteles dan Plato telah berhasil menancapkan filsafat dalam bentuk peripatetik. Kemudian perkembangan filsafat itu diakomodir oleh Ibnu Sina yang mengembangkan pemikirannya berbentuk Masyaiyah (Peripatetisme), yang mengambil alih filsafat Aristoteles. Kemudian, inspirasi dari corak pemikiran Ibnu Sina memberikan pemikiran baru bagi Suhrawardi al-Maqtul. Maka, lahirlah filsafat Isyraqiyah (iluminasionisme).

Perkembangan filsafat telah terjadi perdebatan antara paripetik dan illuminasi. Filsafat dan irfan, atau filsafat dan kalam, yang belum menemukan penyelesaiannya. Juga perdebatan antara para filosof dengan sufi. Di sisi lain, perdebatan mutakallimin (para teolog Islam) dengan al-fuqaha (para ahli fiqh). Sebagai bukti kesaksian tersebut dapat dilihat dalam dua karya Al-Ghazali, Maqashid al-Falasifah dan Tahafut al-Falasifah. Merupakan dekonstruksi Al-Ghazali terhadap para Filosof Muslim. Dan karya Ibn Rusyd Tahafut al-Tahafut sebagai jawaban atas kritik Al-Ghazali terhadap para filosof seperti Al-Farabi, Ibn Sina.

Kemudian muncullah Sadru al-Din Muhammad ibn Ibrahim al-Syirazi yang dikenal dengan sebutan Mulla Sadra. Ia merupakan relatif baru dalam pergumulan filsafat Muslim. Ia mencoba mendamaikan ruang pemikiran filsafat ke arah yang lebih komprehensif dan kompatibel dengan pola “berpikir Qur’ani”. Yaitu dengan menawarkan metode berpikir al-Hikmah al-Muta’aliyah yang kemudian diartikan sebagai Filsafat Transeden. Ada pula yang memahami sebagai Filsafat Eksistensialisme. Atau Filsafat Teosofi, bahkan di kalangan para pemikir Muslim dikatakan sebagai Filsafat Irfani.

Sekilas tentang Mulla Sadra

Nama lengkap Mulla Sadra adalah Muhammad bin Ibrahim bin Yahya al-Qawami al-Syirazi. Dan diberi gelar “Sadr al-Din” atau lebih popular dengan sebutan Mulla Sadra. Sadra adalah salah seorang filosof Muslim terbesar. Dia dilahirkan di Syiraz sekitar tahun 979-80 H/ 1571-72 M dalam sebuah keluarga yang cukup berpengaruh. Yaitu keluarga Qawam. Ayahnya adalah Ibrahim bin Yahya al-Qawami al-Syirazy salah seorang yang berilmu dan saleh. Selain itu ia menjabat sebagai Gubernur Propinsi Fars. Secara sosial-politik, ia memiliki kekuasaan yang istimewa di kota asalnya, Syiraz.

Baca Juga  Mereka yang Mendustakan Agama

Mulla Sadra mendapatkan pelajaran pertama di kota Syiraz. Selain dibimbing oleh keluarganya, ia juga mendapatkan pelajaran dari sekolah dasar di kota tersebut. Mulla Sadra adalah murid pertama dari Syaikh Al-Baha’i dan kemudian murid dari Mir Damad, pendiri Mazhab Filsafat Islam Isfahan. Di bawah asuhan keduanya, Mulla Sadra memiliki keunggulan ilmu dibidang filsafat, tafsir, hadits dan irfan.

Setelah merampungkan pendidikan formalnya, ia terpaksa meninggalkan Isfahan. Karena kritik sengit terhadap pandangan-pandangannya dari kaum Syiah dogmatis. Dan dalam periode kedua, dia menarik diri dari khalayak dan menjalani uzlah di sebuah desa kecil dekat Qum. Selama periode ini, pengetahuan yang pernah diperolehnya mengalami kristalisasi yang semakin utuh. Lalu, kreativitasnya menemukan tempat penyalurannya.

Tak hanya itu, karya-karyanya meliputi hampir lima puluh tentang pelbagai persoalan dihampir setiap disiplin ilmu-ilmu tradisional Islam. Di antaranya: Al-Hikmah al-Arsyiyyah, Al-Hikmah al-Muta’alliyah fi al-Asfar al-‘aqliyyah al-Arba’ah, Al-Lama’ah al-Masyriqiyyah fi al-Funun al-Mantiqiyyah, Al-Mabda’ wa al-Ma’ad, Al-Masya’ir, Al-Mazahir al-Ilahiyyah fi al-Asrar al-Ulum al-Kamaliyyah, Al-Syawahid al-Rububiyyah fi al-Manahij al-Sulukiyyah, Al-Tasawwur wa al-Tasdiq dan masih banyak lainnya.

Berfikir Qur’ani menurut Mulla Sadra

Mulla Sadra mengkritisi pemikiran filsafat Islam ke dalam pendekatan sintesis akhir berbagai pemikiran filsafat. Basis utama pemikirannya yaitu bertumpu pada ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah, filsafat peripatetik, iluminatif, kalam sunni serta irfani (gnosis). Mulla Sadra membuat sistesis secara menyeluruh yang kemudian ia namakan al-hikmah almuta’aliyah. Mulla Sadra merasa yakin bahwa ada tiga jalan terbuka bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan; wahyu, akal dan intelektual, dan visi batin atau pencerahan (kasyf).

Ungkapan Hikmah Muta’aliyah, terdiri atas dua istilah al-Hikmah (teosofi) dan al Muta’aliyah (tinggi atau transenden). Muta’aliyah dimaksudkan sebagai sistem filsafat yang melebihi wacana sebelumnya, yaitu Peripatetik, Illuminasionisme dan gnostis. Apabila teologi menekankan pada argumentasi naqli, dan paripatetik lebih menekankan pada argumentasi demonstrative. Lalu illuminasionisme serta gnostis lebih menekankan pada pembenaran intuisi (dzawq), maka al-Hikmah al-Muta’aliyah mengabungkan ketiga metode di atas. Namun, direlevansikan dengan Al-Qur’an, hadits Nabi dan perkataan sahabat, khususnya Ali bin Abi Thalib.

Baca Juga  Wahyu; Eksternal atau Internal?

Epistemologi Komprehensif

Secara epistemologis, hikmah muta’aliyah ini berarti kebijaksanaan yang didasarkan pada tiga prinsip. Yaitu intuisi intektual (dzawq atau isyraq), pembuktian rasional (aql atau istidlal) dan syariat. Dengan demikian, hikmah muta’aliyah adalah kebijaksanaan (wisdom) yang diperoleh lewat pencerahan ruhaniah atau intuisi intelektual. Dan disajikan dalam bentuk yang rasional dengan menggunakan argumentasi-argumentasi rasional.

Hikmah Muta’aliyah ini bukan hanya memberikan pencerahan kognitif, tetapi juga realisasi yang mengubah wujud penerima pencerahan untuk merealisasikan pengetahuan. Sehingga, terjadinya transformasi wujud hanya dapat dicapai dengan mengikuti syari’at. Adapun pengertian al-Hikmah al-Muta’aliyah menurut Mulla Sadra adalah pengetahuan yang didasarkan pada argumentasi rasional/burhani, teologi dan filsafat, visi rohani/zauq, tasawuf, serta sesuai dengan syariat.

Disamping itu, Mulla Sadra juga mempertemukannya dengan kebenaran Al-Qur’an dan Hadits. Harmonisasi yang dilakukannya menghasilkan sebuah sintesa. Yakni mengintegrasikannya melalui tiga jalan: Al-Qur’an (wahyu), burhan (demonstrasi atau inteleksi) dan irfan spiritual atau “mistis”. Karena memang ketiganya tidaklah bertentangan dalam tujuannya mencapai kebenaran.

Keberhasilannya melakukan sintesis dan penyatuan terhadap tiga arus kebenaran utama. Baginya, gnostik, filsafat dan wahyu agama merupakan elemen harmonisasi yang keharmonisan tersebut bermuara pada pola kebaikan hidup manusia. Dia memformulasi sebuah perspektif dalam kerangka demonstrasi rasional filsafat sekalipun tidak terbatas pada filsafat Yunani. Namun juga berkaitan erat dengan Al-Qur’an, hadits dan pernyataan para imam. Dan semuanya menyatu dalam doktrin gnostik sebagai hasil dari iluminasi yang diterima melalui penyucian diri.

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho