Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Konsep Balasan Perbuatan Manusia: Pengaruh Kalam Al-Asy’ari Terhadap Penafsiran Ar-Razi dalam Tafsir al-Kabiir

Al-Asy'ari
Gambar: tafsiralquran.id

Diketahui bahwa al-Asy’ariyah adalah nama sebuah kabilah arab terkemuka di Bashrah dan Iraq. Kelompok ini adalah kelompok terbesar ilmu kalam yang dinisbahkan pada pendirinya yaitu Abu Hasan Al-Asy’ari. Dalam perjalanan hidupnya bahwa al-Asy’ari menganut aliran Mu’tazilah selama 40 tahun, namun dengan segala ketekunan dalam mempelajari dan mendalami aliran Mu’tazilah maka terungkaplah celah dan kelemahan yang terdapat dalam aliran tersebut. Dengan ini al-Asy’ari meninggalkan ajaran Mu’tazilah dan kembali ke ajaran yang sesuai dengan tuntunan rasul yakni Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Dalam perkembangannya bahwa al-Asy’ari sangat menentang dan mengkritik paham Mu’tazilah yang selalu mengedepankan akal.

Dalam pengembalian dalil, al-Asy’ari sangat menekankan terciptanya keseimbangan antara dalil naqli dan dalil aqli yang mana ketika menghadapi permasalahan ushuliyah harus mengomparasikan antara dalil sam’i (al-qur’an) dan petunjuk akal dengan menghindarkan penggunaan akal secara berlebihan. Disamping itu sumber pengambilan ilmu dalam al-Asy’ariyah adalah al-qur’an dan as-sunnah dengan berdasarkan kaidah-kaidah ilmu kalam. Salah satu pokok ajaran al-Asy’ari dari beberapa pokok ajarannya adalah tuhan memiliki kebebasan mutlak dalam berkehendak.

Tidak menafikkan adanya pengaruh dari paham yang dianut oleh mufassir terhadap penafsirannya sebagaimana salah satu tafsir yang memiliki corak kalam al-Asy’ari adalah Tafsir Mafatihul Ghaib yang merupakan karya agung dari imam Fahruddin ar-Razi. Salah satu ayat al-qur’an yang menunjukan adanya pengaruh dari ajaran al-asy’ari yang berkaitan dengan salah satu ajarannya yakni konsep balasan perbuatan manusia sebagaimana tertera dalam Q.S Taaha ayat 15 yang berbunyi:

إِنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا تَسْعَىٰ

 Artinya : Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.

Dalam tafsir Mafatihul Ghaib dijelaskan lafadh {إِنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ } dengan makna (وقت الإثابة ووقت المجازة) yaitu datangnya hari kiamat adalah waktu yang pasti dan waktu pembalasan. Dan lafadh {أَكَادُ أُخْفِيهَا} dengan maksud Allah berkehendak dimana kedatangan hari kiamat itu dirahasiakan atas penciptaan. Juga disebutkan oleh Abu Al-Fatah Al-Mausili bahwa allah merahasiakan penampakannya. Dalam kerahasiaan hari kiamat dan waktu kematian terdapat hikmah yang terkandung didalamnya bahwa allah menjanjikan diterimanya taubat karena apabila diketahuinya waktu kematian maka dia akan melakukan dosa sampai mendekati waktu itu kemudian bertobat dan menyingkirkan hukuman dari dosa itu.

Baca Juga  Peringatan Allah Tentang Bullying

Dan lafadh {لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا تَسْعَىٰ} dijelaskan (يدل على أ ن المؤثر في ذلك الجزاء هو ذلك السعي) dengan arti menunjukan sesungguhnya yang berpengaruh pada pembalasan adalah usaha juga (احتجّت المعتزلة بهذه الآيات على أن الثواب مستحق على العمل) yaitu menolak Mu’tazilah dengan ayat ini atas balasan yang berhak diterima atas perbuatan.

Berdasarkan penafsiran ar-Razi pada ayat diatas menujukan adanya pengaruh mahdzab yang dianut yaitu al-Asy’ari dimana dalam ajarannya berpandangan bahwa tuhan memiliki kekuasaan mutlak dan karena itu ia bebas berkehendak sesuai dengan kehendaknya, tidak ada satu pun yang mampu mengahalangi kekuasaan tuhan. Dengan ini ditunjukan dalam penafsiran ar-Razi bahwa tuhan berkuasa akan datangnya hari kiamat yang pasti dan telah ditetapkan kedatangannya. Disamping itu tuhan juga berkehendak bebas merahasiakan wujud dan waktu datangnya hari kiamat.

Dalam penafsiran ayat ini menujukan bahwa ar-Razi menolak beberapa pandangan salah satunya adalah Mu’tazilah. Ar-razi menolak Mu’tazilah dengan ayat ini atas balasan yang berhak diterima atas perbuatan. Dalam ajaran Mu’tazilah terdapat konsep al-Wa’ad dan al-Wa’id dimana allah memberikan balasan karena terikat dengan janjinya yaitu memberikan pahala kepada orang yang taat dan memberikan ancaman kepada orang yang berbuat maksiat. Berbeda dengan pandangan ar-Razi yang menyatakan bahwa sesungguhnya yang berpengaruh pada pembalasan adalah usaha.

Dalam ajaran al-Asy’ari berpandangan bahwa manusia digambarkan sebagai orang yang lemah, tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa sehingga dalam kelemahannya banyak bergantung kepada kehendak dan kekuasaan tuhan. Dalam ajarannya tidak terlepas dari istilah kasb yang diartikan bahwa suatu perbuatan yang timbul dari manusia melainkan dengan perantaraan daya yang diciptakan oleh allah dimana pada hakikatnya perbuatan manusia itu terjadi dengan kehendak tuhan tetapi manusia tidak kehilangan sifat sebagai pembuat. Dengan ini maka allah memberikan balasan kepada manusia atas perbuatan yang telah dilakukan, sebagaimana allah memberikan pahala atas besar kecilnya perbuatan yang telah diusahakan.

Baca Juga  Pluralisme Qurani: Sebuah Tinjauan Filosofis

Dengan ini dapat disimpulkan bahwa dalam penafsiran Q.S Taaha ayat 15 pada tafsir Mafatihul Ghaib menunjukan adanya pengaruh dari kalam al-Asy’ari sebagaimana dijelaskan dalam tafsir bahwa allah memiliki kekuasaan mutlak akan datangnya hari kiamat juga bebas berkehendak dalam merahasiakan wujud dan datangnya hari kiamat. Disamping itu dalam penafsiran ar-Razi juga menolak pandangan mu’tazilah atas balasan perbuatan manusia yang diberikan oleh allah sebab adanya keterikatan janji, karena dalam hal ini ar-Razi berpandangan bahwa balasan yang diberikan oleh allah atas perbuatan manusia berdasarkan usahanya.

Penyunting: Bukhari