Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Konsep Bahagia dalam Al-Quran

Bahagia
Gambar: postingkampus.info

Bahagia merupakan suatu keadaan pikiran atau perasaan yang berupa kesenangan dan ketentraman hidup yang dirasakan oleh manusia dalam menghadapi berbagai hal dalam hidup. Ditandai dengan ketenangan yang bersifat lahir dan batin sehingga merasa berharga, baik dari dirinya sendiri maupun orang lain.

M. Iqbal Dirham dalam bukunya mengatakan bahwa bahagia dimulai dari ketenangan hati dalam menerima suatu peristiwa dan menunjukkan sikap yang tenang dalam menyikapi atau memberikan respons terhadap peristiwa tersebut. Semakin tenang hati manusia maka akan semakin bahagia (Nawaji, 2020).

Al-Qur’an menggunakan beberapa istilah dalam membahas makna bahagia, di antaranya adalah al-sa’adah dan al-falahAl-sa’adah diartikan kebahagiaan ukhrowi, seperti dalam surat Hud ayat 105:

 يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ اِلَّا بِاِذْنِهٖۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَّسَعِيْدٌ

“Ketika hari itu datang, tidak seorang pun yang berbicara, kecuali dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang sengsara dan ada yang bahagia”.

Sedangkan al-falah diartikan kebahagiaan duniawi dan ukhrowi, seperti dalam surat al-Ma’idah ayat 35:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung”.

Selain kedua istilah tersebut, al-Qur’an menggunakan kata al-mata’ dalam surat ali-Imran ayat 14 untuk menunjukan kesenangan semu. Dalam al-Qur’an disebutkan:

  زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.

Ayat ini menunjukan bahwa istilah al-mata’ disebut dengan kesenangan yang bisa melenakan. Adapun di antara kesenangan dunia adalah mencintai lawan jenis, mencintai harta benda, dan mencintai seluruh kesenangan materi. Hal-hal tersebut seringkali menjadikan manusia terjebak dan terlena dalam hal kesenangan sesaat tersebut.

Baca Juga  Merenungi Makna Sujud

Pada ayat lain terdapat juga ayat yang menjelaskan aspek-aspek yang dapat membuat setiap hamba menjadi orang yang bahagia. Tiga syarat utama yang dapat dicapai seorang hamba untuk mencapai bahagia yang pertama ialah relasi intrapersonal atau hubungan baik dengan dirinya sendiri.

Dalam menjalin hubungan baik dengan diri sendiri, maka seorang hamba harus mempunyai sifat sabar dan syukur. Bersabar saat ia ditimpa musibah, ia harus sadar bahwa terdapat hikmah yang besar di setiap musibah yang ia hadapi. Selain bersabar, ia juga harus pandai bersyukur atas semua anugerah yang telah Allah berikan. Karena dengan bersabar dan bersyukur, Allah akan menambah nikmat padanya dari segala sisi.

Aspek yang kedua adalah aspek relasi interpersonal, yakni hubungan antara dirinya dengan orang lain, dapat disebut juga hablum min an-nas. Di antara contoh hablum min an-nas yaitu seperti mencintai sesama muslim karena Allah baik kepada orang yang lebih kecil ataupun orang yang lebih besar (usianya) dari kita.

Selain itu, dalam menjalin hubungan baik dengan sesama, seorang hamba harus senantiasa memberikan kebaikan, baik dalam hal yang kecil hingga hal yang besar, serta mudah dalam memaafkan setiap kesalahan orang lain yang dilontarkan kepada kita, walaupun terasa menyakitkan.

Dan aspek yang terakhir adalah relasi spiritual yakni hubungan antara dirinya dengan penciptanya (Allah), atau disebut juga dengan hablumminallah. Yakni sikap tawakal, berserah diri kepada Allah dan meyakini bahwasanya Allah selalu menghadirkan yang terbaik untuk hidup kita. Meskipun dalam pandangan kita tampak terlihat buruk, namun yakinlah Allah pasti merencanakan yang terbaik.

Penyunting: M. Bukhari Muslim   

Nadea Siti Sa’adah.
Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Gunung Djati Bandung