Tanwir.ID Kanal Tafsir Berkemajuan

Kitab Tafsir Al-Barru, Buah dari Rasa Kagum

tafsir al-barru
sumber: tokopedia

Tafsir al-Barru merupakan sebuah maha karya dari seseorang yang kagum dan terpukau akan pesona al-Quran. Ia mengaku, bahwa dirinya hanyalah seorang pembaca awam. Namanya adalah Muhammad Rusli Malik. Hadirnya kitab luar biasa ini dilatar belakangi beberapa faktor.

Dalam keilmuan hadis, membahas latar belakang sebuah kitab hadis terbilang urgent sebelum menelusuri lebih jauh isinya. Karena tidak dapat dipungkiri, bahwa latar belakang akan memudahkan pembaca dalam menemukan tujuannya dari sebuah kitab.

Apalagi di dalam latar belakang kita tidak hanya akan menemukan tujuan penulis dan apa yang melatar belakangi munculnya karya, melainkan juga mengenai pemilihan nama kitab. Kitab Bukhari misalnya, kemudian kita juga akan mengetahui sistematika penulisannya dan berbagai info lengkap lainnya.

Hal ini juga bisa berlaku bagi kitab lain tentunya, tidak terkecuali kitab Tafsir al-Barru ini. Jika ditelusuri, kita akan menemukan beberapa poin di dalam latar belakangnya, di antaranya ialah:

Fenomena Media Sosial

Berkembangnya penggunaan sosial media membuat Muhammad Rusli Malik berfikir, daripada kecintaannya terhadap tulis menulis hanya sebatas status di beranda yang memuat hal-hal sepele, akan sangat baik apabila dialihkan untuk membagi sesuatu yang bermanfaat yang bisa menjadi bahan renungan.

Awalnya, Muhammad Rusli Malik merancang materi semampunya untuk dibagikan di media sosial, namun ternyata beberapa teman menyarankannya utnuk menulis lebih panjang dan diubah menjadi sebuah catatan, hingga hadirlah kitab ini.

Kekaguman terhadap Gerakan Muhammadiyah

Penulis tinggal di Makassar. Tatkala usianya memasuki 19 tahunan, ia mengakrabkan dirinya dengan sebuah radio transistor yang akhirnya membuatnya mengenal radio al-ikhwan yang disiarkan dari Masjid  Ta’mirul  Masajid, milik Muhammadiyah Makassar.

Sampai suatu ketika, ia benar-benar dibuat kagum oleh pengisi radio, beliau adalah KH. Fathul Mu’in Daeng Maggading yang saat itu sedang membahas tentang ayat-ayat al-Quran secara tematis.

Seluruh materi yang disampaikan oleh KH. Fathul Mu’in dapat diserap Muhammad Rusli Malik. Penyampaian yang sempurna dan penguasaan materi yang sempurna membuat siapapun yang mendengar mampu memahaminya dengan mudah dan utuh dari satu ayat ke ayat lainnya. Dari situlah kekaguman Muhammad Rusli Malik muncul terhadap gerakan Muhammadiyah.

Berawal dari kekagumannya tersebut, beliau mulai memperlajari lebih banyak tentang Muhammadiyah, kemudian mendatangi banyak ustadz untuk belajar. Beberapa guru beliau ialah Ustadz Mansur Salim (Nahwu Sharaf), Ustadz Jamain (Matan Jurumiyah), Pak Musthafa Nuri, Pak Ahmad Tib Raya, Dr. Rahman Basalamah, Aris Matta, dan jejeran guru lainnya.

Tafsir Al-Barru

Penamaan al-Baruu dilandaskan pada Surah ke 52 ayat 28 yang di dalamnya disebutkan salah satu nama Allah.

“Sungguh, Kami dahulu (di dunia) berdoa kepada Nya. Sungguh Dial ah al-Barru (Maha Melimpahkan Kebajikan) al-Rahim.”

Dalam konteks ayat ini, al-Barru ialah cara Allah untuk menyeburkan dirinya sebagai sumber segala kebajikan. Di tengah pemberian nama, beliau mengalami dilema, sebuah kebetulan daerahnya memiliki nama Kabupaten Barru sehingga persoalannya menjadi mudah. Penulis juga mendasarkan pada fakta mulai jauhnya umat ini terhadap sifat-sifat al-Barru dan tidak populernya nama ini, sehingga mantaplah penamaan al-Barru sebagai nama kitab tafsirnya.

Meski kitab ini tidak populer, atau bahkan jarang di antara kita yang mengetahuinya, tidak ada salahnya mencoba membaca kitab tafsir satu ini. Karena selain tafsir, beliau memiliki konsistensi yang tinggi terhadap tema yang dibahas. Hirerarki ayat-ayatnya dibuat dengan sangat runtut sehingga sangat mudah dicerna pembaca. Kitab tafsir ini juga ditulis dengan materi yang luas namun tetap ‘ngena’. Materinya juga dibahas secara mendalam yang akan menggugah akal sehat.

Ayat per-ayatnya diberi poin untuk mempermudah pembaca. Terdapat di antaranya poin untuk tafsir, dan juga poin renungan. Bahasa yang digunakan sangat lugas, jelas, dan padat. Pada bagian akhir setiap ayat yang telah ditafsirkan, kita akan menemukan aplikasi dari ayat yang dibahas atau amalan praktis yang bisa kita coba dengan menyebutkan hadis pendukungnya. Kitab tafsir satu ini terbiang cukup tebal, karena untuk tafsir surah al-Fatihah dan al-Baqarah saja nyaris seribu halaman. Untuk mempermudah pembaca juga, penulis memberikan index pada akhir buku.

Jadi sebenarnya, sangat lazim kita mengagumi sesuatu, baik itu seseorang, tempat, atau apapun. Namun sayangnya yang kita temukan saat ini, fenomena kekagumanan tidak lagi berdampak pada hal positif sebagaimana yang dilakukan Muhammad Rusli Malik ini, melainkan sebaliknya. Sehingga sudah seharusnya rasa kagum yang kita miliki akan melahirkan sebuah karya positif yang berdampak baik bagi banyak orang. Wallahua’lam.

Judul buku: Tafsir al-Barru (Menerangi Sukma, Meluruskan Nalar, Menyingkap Tirai Kebenaran)

Penulis: Muhammad Rusli Malik

Cetakan: 1 Agustus 2012

ISBN: 978-602-18813-1-6 Jilid 1

Penerbit: al-Barru Press

Kota terbit: Bogor

Editor: Ananul

Anita Aprilia
Alumnus salah satu perguruan di Yogyakarta dengan bidang studi Ilmu Hadis