Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Kisah Nabi Musa Sebagai Basis Perjuangan

Nabi musa
Sumber: haibunda.com

Sepertiga isi al-Qur’an adalah kisah. Dari berbagai kisah, kisah Nabi Musa a.s. lah yang paling sering diungkap, di mana kisahnya tidak lepas dari perjuangan melawan kekuasaan Fir’aun yang zalim. Nama Nabi Musa sendiri disebutkan sebanyak 136 kali dalam al-Qur’an, sementara nama Fir’aun disebutkan sebanyak 74 kali. Yang menarik adalah nama Fir’aun disebutkan jauh lebih banyak daripada nama Nabi Muhammad saw. sendiri yang hanya 4 kali, juga dibanding kata wudhu (1 kali), waris (22 kali), shadaqah (23 kali), perkawinan (27 kali), dan perceraian (23 kali).

Nabi Musa sendiri diperkirakan hidup pada abad ke-13 hingga ke-12 SM, di mana Fir’aun (julukan raja yang berkuasa di Mesir) kala itu adalah Rhamses II. Tulisan ini tidak akan membahas secara rinci mengenai kehidupan Nabi Musa, melainkan untuk melihatnya dalam suatu sudut pandang yang berbeda. Meski demikian, tentu lebih afdhol untuk mengetahui sekilas mengenai kehidupannya.

Kehidupan Nabi Musa dan Upayanya Melawan Fir’aun

Nabi Musa adalah keturunan Bani Israil yang mana nenek moyangnya adalah Nabi Ya’qub a.s. yang hijrah dengan seluruh keluarganya dari Kanaan, Palestina menuju Mesir tatkala Nabi Yusuf a.s., anak Nabi Ya’qub, dengan karunia Allah, menjabat bendahara kerajaan Mesir. Pada masa Nabi Yusuf menjabat, keluarganya mendapat status terhormat. Namun seiring berjalannya waktu, keturunan Nabi Ya’qub yang dikenal dengan sebutan Bani Israil diperbudak oleh penguasa setempat.

Pada masa menjelang kelahiran Nabi Musa, diberlakukanlah undang-undang untuk membunuh bayi laki-laki dari Bani Israil sebab ketakutan Fir’aun akan adanya pemberontakan dari kalangan itu. Berkat izin Allah, bayi Musa dapat selamat bahkan dirawat dalam lingkungan istana Fir’aun. Meski hidup dalam asuhan Fir’aun yang mengaku dirinya tuhan bagi kaumnya, hati Musa tetap dijaga dengan hidayah Allah swt.

Baca Juga  Tafsir Al-Ibriz: Tafsir Fenomenal Berbahasa Jawa Karya Bisri Musthofa

Suatu hari Musa yang tak sengaja membunuh seorang Mesir karena Musa membela seorang Israili, melarikan diri ke Madyan. Di sana ia menikah dengan putri seorang imam dan tinggal selama beberapa tahun. Kemudian ia pulang ke Mesir. Dalam perjalanannya di lembah suci Thuwa, dirinya mendapat wahyu untuk menyadarkan Fir’aun dan menyelamatkan Bani Israil. Nabi Musa meminta agar Harun a.s., saudaranya, juga diangkat menjadi nabi untuk membantunya.

Di Mesir, perjuangannya bersama Nabi Harun melawan Fir’aun, ayah angkatnya, berlangsung lama, penuh seteru, dan dramatis. Berbagai mukjizat ditunjukkan Nabi Musa untuk menyadarkan Fir’aun, namun sia-sia bahkan Fir’aun menganggapnya sihir belaka. Hingga akhirnya datanglah perintah untuk membawa Bani Israil keluar dari Mesir menuju Tanah Yang Dijanjikan, Palestina. Musa yang membawa umatnya sesampainya di Laut Merah, dikepung oleh Fir’aun dan bala tentaranya. Maka hadirlah mukjizat Nabi Musa membelah lautan dan ia memimpin umatnya menyeberangi laut tersebut. Laut yang terbelah itu tiba-tiba kembali seperti semula ketika Fir’aun dan bala tentaranya mengejar Musa hingga mereka tenggelam di sana dan selamatlah Nabi Musa dan Bani Israil.

Kisah Nabi Musa Sebagai Basis revolusi

Adalah penting untuk dicatat bahwa kisah ini adalah kisah yang paling sering disampaikan al-Qur’an. Tentu semua kisah dalam al-Qur’an mengandung hikmah yang sepatutnya dipetik oleh orang-orang yang berakal. Meskipun para tokoh ini sudah lama tiada, namun hikmahnya harus selalu dapat kita lihat dan kontekstualisasikan.

Dalam analisis kalangan kiri, yakni mereka yang menghendaki perubahan atas status quo, kisah populer ini amatlah penting. Asghar Ali Engineer, seorang pemimpin gerakan progresif Dawoodi Bohra dan pemikir teologi pembebasan Islam dari sekte Syi’ah di India, melihat kisah ini dalam sudut pandang Marxian tentang perjuangan kelas.

Baca Juga  Beberapa Karakteristik Paradigma Tafsir Kontemporer (2)

Asghar, seperti Marx, memahami bahwa sejarah perjuangan kelas akan selalu ada di setiap zaman. Dalam hal ini diwakili oleh Fir’aun sebagai tiran otoriter dari kalangan borjuis yang selalu mengamankan status quo kekuasaannya dan Musa sebagai pemimpin perjuangan kelas proletariat. Karena itulah mengapa kisah Musa vs Fir’aun ini mendominasi kisah yang ada di al-Qur’an. Selain kisah Musa, Asghar juga melihat dari kisah dua anak Adam (Habil dan Qabil) di mana salah seorang di antara mereka membunuh saudaranya.

Selain itu, kita juga dapat melihat tokoh lain yang bersekongkol dengan Fir’aun. Yang tersebut dalam al-Qur’an adalah Qarun sebanyak 4 kali (QS. 28:76, 79; 29:89; 40:24) dan Haman sebanyak 6 kali (QS. 28:6, 8, 38; 29: 39; 40:24, 36). Kita tahu bahwa Qarun adalah seorang yang asalnya dari kalangan Nabi Musa. Namun ketika diberi Allah nikmat berupa kekayaan, ia malah sombong dan ingkar. Adapun Haman ialah seorang yang dipercaya oleh Fir’aun untuk mendirikan pencakar langit agar Fir’aun dapat melihat Tuhannya Musa.

Melawan Penindasan

Di sini kita melihat bahwa politisi tiran (diwakili oleh Fir’aun) biasanya tidak dapat berdiri sendiri. Ia bersekongkol dengan ekonom (diwakili oleh Qarun) dan teknokrat (diwakili oleh Haman). Relasi persekongkolan tiga hal ini cenderung untuk melanggengkan status quo demi mengamankan kedudukan mereka. Bahkan untuk memeras lebih banyak lagi penderitaan kalangan proletar untuk kepentingan mereka. Musa yang dianggap memiliki benih-benih pemberontakan senantiasa mereka hadang, meskipun tidak pernah berhasil sebab begitulah skenario Allah menyelamatkan hamba-Nya

Dari kisah ini kita dapat bercermin bahwa dalam upaya kita melakukan perjuangan melawan kesewenang-wenangan kekuasaan, kita mestilah senantiasa menghadirkan Allah dalam setiap gerak langkah. Pada saat yang bersamaan, kita juga memperhatikan visi profetik apa yang mendasari langkah kita, sebagaimana Musa mendasarkan perjuangannya karena wahyu.

Baca Juga  Tafsir Tematik (8): Menjadi Umat yang Berpikir

Kata lengah dan jumawa tidak boleh ada dalam kamus para pejuang. Kita lihat bagaimana Bani Israil meski telah diselamatkan oleh nabi mereka, namun tabiat mereka, terutama pandangan keagamaan, tidak mudah menerima sepenuhnya ajaran tauhid Nabi Musa. Hal ini terlihat dari bagaimana mereka menyembah patung anak sapi buatan Samiri dan juga meminta untuk melihat Allah. Mengapa?

Hegemoni. Diperbudak selama ratusan tahun membuat mereka mengalami hegemoni oleh kebudayaan penguasa. Superioritas bangsa Mesir yang menyembah dewa mereka dalam wujud patung (reifikasi: mewujudkan ide abstrak dalam wujud material) memberi pengaruh hegemonik dalam alam pikir Bani Israil tentang ide ketuhanan. Penyembahan mereka kepada patung anak sapi dan permintaan mereka agar diperlihatkan Allah adalah jejak hegemoni reifikasi-materialistik dari bangsa Mesir.

Kisah panjang nan populer ini patut menjadi  catatan penting bagi tiap pemimpin gerakan untuk tidak hanya perjuangannya melawan status quo (pihak eksternal), tapi juga memperhatikan spirit dan kesamaan visi para pejuang (pihak internal) berdasarkan tauhid dan persamaan sosial agar diberkahi oleh rahmat ilahi.

Penyunting: M. Bukhari Muslim