Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Khutbah Jum’at: Tujuan Penciptaan Manusia Menurut Al-Qur’an

Penciptaan Manusia
Gambar: www.dara.co.id

Khutbah Jum’at kali ini mengangkat tema, “Tujuan Penciptaan Manusia Menurut Al-Qur’an”.

أَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَاكَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ  يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَمُضِلَ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ اِلآّ اَللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ  وَأَشْهَدُ أَنَّ مُهَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٌ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

قآَلَ اَللهُ تَعَآلَي فِى ا لْقُرْآنِ الْكَرِيم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

اَمَا بَعْدُ

اُوْصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ وَاِيآيَ بِتَقْوَي اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Alhamdulillah, atas nikmat dan karunia-Nya lah, hari ini kita masih diberi nafas kehidupan untuk meningkatkan kadar ketaqwaan kita kepada Allah Swt. Menurut Raghib al-Ashfahani, ‘taqwa’ adalah memelihara sesuatu dari apa yang membahayakan (حفظ الشئ مما يؤذه وضره) (Al-Asfahany, 677). Muhammad Abduh, dalam kitab tafsirnya Al-Manar, menyebutkan bahwa ‘taqwa’ bermakna menjauhkan diri dari kemudharatan. Shalawat dan salam, marilah kita curahkan kepada Nabi Muhammad saw. Nabi akhir zaman, pengubah peradaban, penerang kegelapan, penuntun jalan kebenaran.

Jama’ah Shalat Jumat Rahimakumullah

Setidaknya ada dua tujuan utama penciptaan manusia di muka bumi yang telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Pertama, sebagai abdullah, yaitu hamba yang mengabdi kepada Allah. Tujuan yang pertama yaitu sebagai abdullah, telah dijelaskan di dalam surah Adz-Dzaariyaat [51] ayat 56.

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Tujuan Penciptaan Manusia

Tugas manusia sebagai abdullah merupakan realisasi dari mengemban amanah Allah swt. yaitu selalu taat, patuh dan tunduk atas segala perintah dan menjauhi semua larangan-Nya. Inilah yang dimaksud dari esensi ketakwaan. Sebagai abdullah manusia memiliki kewajiban untuk beribadah hanya kepada Allah Swt. baik dalam pengertian sempit, yaitu menegakkan shalat lima waktu, puasa Ramadhan, zakat, haji dan lainnya, maupun dalam arti yang lebih luas yaitu melaksanakan semua aktivitas, termasuk muamalah duniawiah semata-mata hanya untuk mencari dan mengharapkan keridhaan Allah Swt.

Baca Juga  Tafsir Tematik (10): Keragaman adalah Niscaya

Sebab itu, jika hari ini ada manusia tidak mau tunduk dan patuh menjalankan perintah-perintah Allah, justru malah mengerjakan hal-hal yang telah dilarang oleh Allah, maka dia keluar dari tujuan penciptaan yang pertama, yaitu sebagai abdullah. Karena jika dia disebut abdullah, maka seyogyanya hati, pikiran, perkataan dan perbuatannya haruslah mencerminkan layaknya abdullah. Hamba yang taat, tunduk dan patuh hanya kepada Allah semata. Bukan kepada yang lainnya. Keberadaan kita di dalam masjid ini, adalah bukti bahwa kita sedang menjelankan salah satu tujuan penciptaan manusia yang pertama, yaitu sebagai abdullah, hamba Allah.

Khalifatullah Sebagai Tujuan Penciptaan Manusia

Tujuan penciptaan manusia yang kedua adalah sebagai khalifatullah. Hal ini telah difirmankan dalam Surat Al-Baqarah [2] ayat 30:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.

Khalifah di sini bukan dalam pengertian sempit, yaitu khalifah dalam arti pemimpin pada umumnya (presiden, gubernur, bupati, camat, lurah dan lainnya), namun khalifah dalam arti yang lebih luas. Kata khaliifah dibentuk dari kata khilaafah yang berarti niyaabah yaitu menggantikan atau mewakili pihak lain (Tafsir At-Tanwir: 146). Menurut Al-Ashfahani, penggantian ini merupakan bentuk penghormatan kepada pihak yang diminta menggantikan (Al-Ashfahani, Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an: 94).

Di sini kita mengetahui bahwa yang meminta menggantikan adalah Allah dan yang diminta menggantikan adalah manusia. Dari pengertian ini, sebagaimana tertuang di dalam Tafsir At-Tanwir, dapat dipahami bahwa khalifatullah adalah wakil Alllah (Tafsir At-Tanwir: 148). Dengan demikian, peran kita sebagai Khalifatullah, wakil Allah, adalah peran yang sangat terhormat dan mulia. Karena kita mewakili yang Maha Terhormat dan Maha Mulia. Sebagai khalifaullah, kita harus mengelola kehidupan di muka bumi dengan sebaiknya mungkin karena ini merupkan amanah dan tanggung jawab yang sangat besar.

Jama’ah Shalat Jumat Rahimakumullah

Setidaknya ada empat karaker yang harus melekat pada seorang khalifatullah:

  • Sebagai khalifatullah hendaknya kita harus memiliki karakter Al-Mu’min, yaitu menjamin keamaan orang lain. Jangan sampai tangan dan lisan kita menimbulkan kegaduhan, menyakiti dan merugikan pihak-pikak lain. Sampai-sampai orang lain merasa tidak aman dan merasa terancam dengan keberadaan kita. Khalifatullah harus senantiasa memegang prinsip المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ (muslim ialah orang yang semua orang Islam selamat dari kejahatan lisan dan tangannya).
  • Sebagai khalifatullah kita juga harus selalu menegakkan kebenaran (Al-Haqq) dan senantiasa berlaku adil (Al-‘Adl). Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Maidah [5]: 8).

  • Sebagai khalifatullah kita harus senantiasa berprinsip خير الناس أنفعهم للناس (sebaik-baik manusia adalah yang paling berguna [Al-Naffi’] bagi manusia lainnya).
  • Karakter khalifatullah berikutnya yang juga sangat penting adalah karakter menjaga (Al-Hafidz), memelihara (Al-Wakiil) dan melindungi (Al-Wallyy). Artinya sebagai khalifatullah, kita harus memastikan bahwa setiap tindakan kita jangan sampai menimbulkan kekacauan dan kerusakan di muka bumi. Firman Allah:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik (Al-A’raf [7]: 56.

Baca Juga  Awan dalam Al-Quran: Studi Makna Sahab dan Ghamam Perspektif As-Sya'rawi

Jama’ah Shalat Jumat Rahimakumullah

Jika hari ini kita sebagai manusia tidak mencerminkan karakter-karakter khalifatullah sebagaimana disebutkan di atas, maka kita tidak pantas menyandang gelar sebagai khalifatullah, wakil Allah. Jika kita ingin tetap menyandang gelar khalifatullah, sesuai dengan Ketuhanan-Nya Yang Maha Rahman dan Maha Rahim, manusia harus mengelola kehidupan untuk mewujudkan kebaikan nyata yang dikehendakiNya (Tafsir At-Tanwir: 148). 

Itulah dua tujuan penciptaan manusia yang telah disebutkan di dalam Al-Qur’an, yaitu manusia sebagai Abdullah dan khalifatullah.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًا ۜ

قَيِّمًا لِّيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيْدًا مِّنْ لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا حَسَنًاۙ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.

قآَلَ اَللهُ تَعَآلَي فِى ا لْقُرْآنِ الْكَرِيم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

اُوْصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ وَاِيآيَ بِتَقْوَي اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Ma’assiral Muslimin, Sidang Jumat Rahimakumullah

Setidaknya ada beberapa tanda bahwa kita benar-benar Abdullah dan Khalifatullah. Tanda-tanda ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr [59]: 18.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ayat ini menggambarkan bahwa tanda bahwa kita Abdullah adalah beriman dan bertakwa. Sedangkan tanda bahwa kita Khalifatullah adalah selalu introspeksi dan memiliki visi-misi (berpandangan ke depan). Jawaharlal Nehru, mantan perdana menteri India pertama, pernah mengatakan bahwa kegagalan hanya datang ketika kita lupa dengan cita-cita, tujuan dan prinsip-prinsip hidup kita. Seorang ilmuan bernama Benjamin Franklin berkata bahwa gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan. Demikian khutbah ini disampikan. Semoga dapat motivasi kita bersama dalam meningkatkan kadar keimaan dan ketakwaan kita kepada Allah swt. Mari khutbah ini kita tutup dengan berdoa.  

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٌ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَلّلَهُمَّ اغْفِرْلِلْمُسِلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبُ مُخِيْبُ الدَّعْوَاتِ يَاقَظِيَ الْحَخَاتِ

اَلَّلهُمَّ اِنَّا نَسْاءَلُكَ سَلَمَتً فِي الدِّيْنِ وَعَافِيَتَ فِي الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ وَبَرَكَهً فِي الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ بِرَحْمَتِكَ يآاَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ.  رَبَّنَآ أَتِنَآ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَآ عَذَابَ النَّار. سُبْحَانَ رَبكَ رَبّ الْعِزَةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمُ عَلىَ الْمُرْسَلِيْن وَالحَمْدُ ِللهِ رَبّ ِاْلعآلَمِيْنَ وَلَذِكْرُ اللهِ أكْبَر

Penyunting: Bukhari

Baca Juga  Ziarah Kubur Ditinjau dari Perspektif Al-Qur’an