Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Khutbah Idul Adha: Perjuangan Nabi Ibrahim Menuju Suri Tauladan yang Sesungguhnya

Ibrahim
Gambar: detik.com

Nabi Ibrahim ini khaliidu rahmaan, satu tingkatan kekasih yang paling tinggi. Dikatakan khalid, karna tidak ada rongga dihatinya, kecuali disana ada cinta Allah

  • Khutbah Pertama

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لآ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَلاَنَعْبُدُ اَلاَّ اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْـدَهُ وَنَصَرَعَبِدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وقال تعالى، يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَ`قَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا  أَمَّا بَعْدُ

Jamaah Jumat yang berbahagia.

Melalui mimbar khutbah Jum’at yang singkat ini, khatib berwasi’at kepada jama’ah sekalian dan tentunya juga kepada diri sendiri, untuk selalu meningkatkan Taqwa kepada Allah SWT , Taqwa dengan menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Karna seperti  yang kita ketahui, keberhasilan! kesuksesan dunia dan akhirat! hanya untuk orang yang bertaqwa, surga? juga Allah persiapkan hanya kepada mereka yang bertaqwa surga? Allah ciptakan untuk orang yang bertaqwa! اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ

مَعَاشِرَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَ اْلمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ الله

Manusia merupakan makhluk yang suka mencontoh, cenderung untuk selalu meniru dan mengikuti orang lain yang dikaguminya, baik dalam kebaikan maupun keburukan. Tatkala, ia melihat seorang manusia yang ditokohkan, dia akan meniru segala tingkah lakunya, perbuatannya, bahkan seakan-akan ruh manusia yang ia contoh itu ada pada dirinya.

Tapi sayangnya, kita berada dalam masa krisis suri tauladan, krisis panutan, krisis idola. kita akan mendapati suatu kenyataan yang sangat memprihatinkan, karena kebanyakan dari kita justru mengagumi dan mengidolai orang-orang yang tingkah laku dan gaya hidup mereka sangat bertentangan dengan norma agama.

Bahkan kita lebih mengidolakan seseorang, yang kita tidak tau, apakah mereka bertuhan, kita lebih lebih mengenal nama-nama idola yang kita tidak tau seperti apa imannya, seperti apa akhlak nya, perilakunya ketika dibelakang kamera! Kita lebih mengenal orang orang tersebut ketimbang  nama-nama para Nabi Allah dan tokoh tokoh ulama yang telah berhasil meningkatkan muru’ah islam .

مَعَاشِرَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَ اْلمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ الله

Allah SWT telah mengutus para nabinya, untuk menjadi contoh bagi umat manusia. Allah berfirman kepada baginda rasulullah SAW setelah menyebutkan nama nabi- nabi ataupun manusia-manusia pilihann yang Allah utus kemuka bumi ini

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 90-91: Dengki Mengakibatkan Sesat

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُ ۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقْتَدِهْ

Merekalah manusia-manusia yang pantas dijadikan contoh! yang Allah telah memberikan petunjuk kepada mereka, maka dengan petunjuk merekalah, kita berjalan meniti dan mengikuti. (Alquran surat Al An’am ayat 90)

Hari ini umat islam di berbagai penjuru dunia mereka melaksanakan shalat Idul Adha, kemudian berqurban, sebagian ada yang berangkat haji! Melempari jamarot! Tawaf dirumah Allah, menyembelih qurban mereka, siapa yang kita contoh? Nabi Ibrahim AS.

Jama’ah, Kapankah Nabi Ibrahim dapat dijadikan contoh? Setelah melalui ujian ujian yang panjang sekali, Allah mengatakan وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ketika Allah menguji nabi ibrahim dengan kalimat kalimat, dengan fase-fase ujian yang panjang, setelah itu nabi ibrahim menyelesaikan ujian tersebut, lalu Allah SWT mengatakan إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَام “aku jadikan engkau imam bagi umat manusia, aku jadikan engkau panutan bagi umat manusia”.

Nabi  ibrahim tidak puas hanya dirinya yang menjadi panutan, dia meminta kepada Allah وَمِن ذُرِّيَّتِى “dan dari anak keturunanku yaAllah! Jadikan mereka panutan bagi umat manusia” kemudian Allah mengatakan لَا يَنَالُ عَهْدِى ٱلظَّٰلِمِينَ “orang orang dzalim gak bakal mendapatkan apa yang aku janjikan“[Quran Surat Al-Baqarah Ayat 124].

مَعَاشِرَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَ اْلمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ الله

Tatkala ketika Nabi Ibrahim diberi ujian yang sungguh luarbiasa, ia pernah dilemparkan kedalam api, bukan untuk mempertahankan jabatannya, bukan untuk mempertahankan harta yang ia miliki, beliau siap dilemparkan kedalam api, hanya untuk mempertahankan  “Laa ilaaha ilallah” kita lihat bagaimana pasukan dari raja namrud, mereka membuat api yang sangat besar, yang sangat tinggi, untuk menunjukkan kepada umat manusia, kalo mereka bisa menyiksa Nabi Ibrahim! Kenapa mereka tidak membuat api unggun yang cukup untuk membakar nabi ibrahim, lemparkan nabi ibrahim kesana, tidak Jama’ah, karena mereka ingin menunjukan kearogansiannya sebagai manusia.

Ketika Nabi Ibrahim dilemparkan kedalam api dengan manjanin dengan alat pelontar, diriwayatkan tiba tiba datang malaikat jibril menawarkan jasanya kepada Nabi Ibrahim. Lihat jamaah, bagaimana imannya nabi ibrahim, bagaimana keyakinan nabi ibrahim, ketika dalam perjalanan dari alat pelontar menuju api, jibril mengatakan“Yaa Ibrahiim, Yaa ibrahiim hal laka ilayya haajah!” Ibrahim, engkau butuh bantuan aku? Nabi Ibrahim mengatakan “kalo sama engkau ya jibril, aku tidak butuh pertolonganmu, karena aku makhluk dan engkaupun juga  makhluk , engkau tidak akan bisa berbuat apa-apa kecuali Allah yang menentukan, adapun kepada Allah aku sekarang butuh sekali bantuan Allah” kemudian Nabi Ibrahiim mengatakan “hasbunallah wa nikmal wakiil” cukup allah buat aku, sebaik baiknya penolong itu Allah! Apa yang Allah lakukan kemudian?

Apakah Allah menurunkan hujan untuk mematikan itu api? Allah mengirim angin untuk memadamkan itu api? Tidak! Allahu Rabbunnar. Allah pencipta api! Allah mengatakan

يَٰنَارُ كُونِى بَرْدًا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ

“Wahai api! Jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim”. Jama’ah, tatkala seorang hamba menyerahkan segala urusannya kepada Allah, tidak ada urusan yang besar dalam dunia ini. Kita tidak hentinya kita mengatakan Allahu Akbar, Allahu Akbar. Dalam shalat kita mulai dengan Allahu Akbar, rukuk kita katakan Allahu Akbar, sujud kita katakan Allahu akbar. Tapi kita masih bergantung kepada sesama makhluk? “ayna imaanuna” mana keyakinan kita kepada Allahu Akbar?

Baca Juga  Khutbah Jum'at: Melindungi Keselamatan Jiwa

مَعَاشِرَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَ اْلمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ الله

Apakah selesai ujian ibrahim? Belum selesai, Allah belum mengatakan engkau jadi imam bagi umat manusia, belum. Bertahun tahun Nabi Ibrahim tidak diberi keturunan, beliau tidak henti hentinya mengatakan “rabbi habli minassalihiin” terus beliau minta sama Allah, beliau tidak pernah mengatakan “YaAllah, aku ini nabimu, kenapa tidak diberi keturunan”. Beliau tidak pernah mengatakan hal tersebut. Kemudian Allah kabulkan doa nya ketika umur nabi ibrahim sudah mencapai 100 tahun.

Bertahun tahun hingga puluhan tahun beliau tunggu kedatangan anak pertamanya, dan ketika putranya lahir, Allah menyuruh nabi ibrahim meletakkan Nabi Ismail di Mekkah. Dari palestina berangkat ke Mekkah, Nabi Ibrahim membawa istri dan anaknya, kemudian diletakkan disana putra bersama istrinya dan Nabi Ibrahim melihat disekelilingnya tempat itu tidak ada manusia “bi wadzin ghairi li dzar’in” gak ada tumbuh tumbuhan disana, yang ada hanya gunung-gunung, dan beberapa pohon untuk bernaung disana.

Ketika Hajar dan Isma’il akan ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim karena perintah Allah setelah  dibekali air dan kurma, Nabi Ibrahim beranjak pergi dari sana. Hajar mengikuti Nabi Ibrahim, sambil mengatakan “Yaa ibrahiim ilaa man taqilunaa” wahai ibrahim, engkau menitipkan kami kepada siapa disini? Nabi ibrahim diam tidak menoleh kebelakang, kemudian dikejar lagi oleh Hajar dan mengatakan “Yaa ibrahiim, illa man taqilunaa”!. Sampai berkali kali Nabi Ibrahim tidak menjawab. Kemudian Hajar sadar mugkin pertanyaan dia yang salah karena sebagai istri dari seorang nabi. Maka dia merubah pertanyaannya kepada nabi ibrahim “Yaa ibrahiim, Allahu amaroka bi hadzaa” wahai ibrahim apakah Allah menyruhmu melakukan ini? Baru nabi ibrahim menjawab “iya”.

Maka hajar kemudian mengatakan silahkan engkau pergi, Allah tidak akan menelantarkan kami disini. Kalau Allah yg menyuruhmu, berangkatlah engkau dari sini.Seperti itu Allah menguji nabi Ibrahim sebelum dijadikan seorang panutan bagi seluruh manusia. Dan bahkan selepas ujian tersebut Allah kembali menguji Nabi Ibrahim.

Saat Nabi Ismail sudah remaja Nabi ibrahim datang ke Mekkah mengunjungi putranya, kemudian pada esok harinya Nabi Ibrahim mengatakan kepada Nabi Ismail قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىsetelah dihalangi bertahun tahun memandang anaknya, keika baru bertemu, Nabi ibrahim mengatakan, “wahai anakku, aku bermimpi semalam, bahwa Allah memerintahkan ku untuk menyembelih dirimu“. Allah kembali lagi menguji Nabi Ibrahim, apakah masih ada dihati nabi ibrahim selain Allah?

مَعَاشِرَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَ اْلمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ الله

Nabi Ibraahim ini khaliidu rahmaan, satu tingkatan kekasih yang paling tinggi. Dikatakan khalid, karna tidak ada rongga dihatinya, kecuali disana ada cinta Allah dan mahabbatullah disana. Kemudian dijawab oleh putranya يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ “Wahai ayahanda kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”

Ketika mau menyembelih Nabi Ismail, Allah gantikan dengan domba. Hari ini, kita mencontoh Nabi Ibrahim, bukan dengan menyembelih putra kita melainkan kita hanya mengorbankan sedikit dari harta kita, dari hewan ternak. Maka tidak pantas bagi kita untuk tidak berqurban bagi mereka yang mampu. Dan setelah perjuangan yang panjang, Nabi Ibrahim membangun rumah Allah, setelah itu baru pantas dijadikan suri tauladan dan Allah mengatakan إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامً

Baca Juga  Sekelumit Kisah Penghafal Al-Quran

Dalam surah Al-Mumtahanah ayat 4 Allah berfirman “Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,” kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, “Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.” (Ibrahim berkata), “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.

Coba kita baca dan mentadabburi ayat tersebut agar kita paham bagaimana contoh yang Allah berikan di diri nabi ibrahim buat kita.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

  • Khutbah Kedua

للَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

للَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَو باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ.

Penyunting: M. Bukhari Muslim