Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Khitan Perempuan Itu Hanya Tradisi Kuno, Bukan Hukum Agama

Khitan
Gambar: jawapos.com

Sebagai perempuan yang dibesarkan dalam tradisi Jawa dan sarat dengan nilai-nilai agama, awalnya ia mengira bahwa tradisi sunat atau khitan perempuan yang diturunkan di masyarakat secara turun-temurun merupakan bagian dari ajaran agama yang dibudayakan di Jawa. Budaya lokal. Namun, setelah membaca berbagai sumber literasi, termasuk buku  KH Husein Muhammad “Fiqh Perempuan”, saya dapat menyimpulkan bahwa khitan perempuan adalah produk budaya yang sudah usang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan bahwa khitan atau perempuan adalah bagian dari praktik sunat yang dilarang atau FGM (sunat perempuan) yang melanggar hak asasi manusia. FGM dapat menyebabkan infeksi vagina, disfungsi seksual, infeksi saluran kemih, infertilitas kronis, kista kulit. Serta komplikasi saat melahirkan, dan bahkan kematian.

Sunat didefinisikan dalam kamus bahasa Arab  sebagai sunat Kulup untuk pria dan sunat Nava untuk wanita. Kullup adalah kulit yang menutupi hashapa (alat kelamin laki-laki), dan nava adalah kulit yang menyerupai tombak ayam jantan yang terletak di atas parji (alat kelamin perempuan).

Tradisi dan Sejarah Khitan Perempuan 

Tradisi sunat perempuan dimulai di Mesir kuno sejak zaman firaun dan menyebar ke Arabia jauh sebelum perkembangan pesat Islam. Penemuan mumi perempuan dengan klitoris bercabang di abad ke-16 SM dan konfirmasi mutilasi alat kelamin perempuan di Mesir dari  2800 SM adalah bukti penyebaran cepat tradisi ini di  Mesir. 

Dalam Islam sendiri, sunat pertama kali dilakukan oleh Nabi Ibrahim pada usia 80 tahun. Sementara itu, Khazar, istri kedua Nabi Ibrahim, melakukan sunat perempuan pertama dan menindik  telinganya. Tindakan dianggap sebagai bentuk ritual untuk menyucikan jiwa. Jadi tidak ada yang salah dengan tradisi sunat Mesir kuno. Mesir Kuno adalah rumah bagi anak-anak Israel dan keluarga Firaun. Bani Israil  adalah keturunan Nabi Ishak, anak kedua Nabi Ibrahim. 

Baca Juga  Memahami Hadis dengan Teori Max Weber: Tindakan Sosial

Praktik sunat (khitan) perempuan di Mesir kemudian menyebar ke benua Afrika. Kemudian tradisi tersebut sampai ke Arabia, khususnya ke kota Madinah. Setelah pindah ke Madinah, Rasulula menemukan tradisi sunat dan menyarankan untuk tidak  berlebihan. Jika berlebihan dan mengganggu reproduksi, tentu Nabi melarangnya.

Pendapat Para Ulama    

Para sarjana berbeda pendapat tentang hukum sunat. Ada yang mengatakan itu adalah suatu keharusan bagi pria dan wanita. Di sisi lain ada yang mengatakan ini sunnah bagi laki-laki dan perempuan. Ada yang mengatakan itu adalah suatu keharusan bagi pria tetapi tidak untuk wanita.   

Menurut mazhab Hanafi dan Maliki, sunat laki-laki adalah sunnah mua’akkada dan bagi perempuan sunat adalah suatu kehormatan (jika dilakukan), bukan sunnah atau tidak. Berlebihan agar tidak memotong mulut. Sedangkan menurut Imam Syafi’i, sunat wajib bagi laki-laki dan perempuan. Namun, beberapa alasan yang diberikan oleh ulama Syafi’i dalam mendukung sunat paksa terutama untuk laki-laki.   

Perbedaan pendapat ini kemungkinan disebabkan oleh campur tangan tradisi dan budaya yang mempengaruhi kebijakan ijtihad ulama dalam penerimaan dan pemahaman teks-teks agama. Bangsa. Masyarakat sebelum Islam.     

Saat ini, antara 100 dan  130 juta wanita disunat, menurut berbagai sumber. Ini adalah jumlah yang  fantastis. Mereka biasanya disunat karena alasan agama daripada alasan tradisional. Ini juga dilakukan pada masa bayi, ketika karakter individu tidak dapat mendefinisikan hubungan mereka dengan diri mereka sendiri.

Pandangan Medis Tentang Khitan Perempuan       

Dari sudut pandang medis, kedokteran tidak pernah mengajarkan perempuan untuk disunat. Teori sunat khusus laki-laki disebut teori ‘sunat’. Oleh karena itu, tidak ada standar khusus tentang cara mempraktekkan sunat perempuan. Tidak semua rumah sakit telah memberikan aturan dan rekomendasi untuk sunat bayi baru lahir kecuali pasien menentukan lain.         

Baca Juga  Cara Meraih Ihsân

Sunat juga termasuk menyeka lembut dengan  kapas. Karena organ tubuh perempuan mengandung pembuluh darah yang sangat sensitif, penanganan yang ceroboh dapat menimbulkan akibat negatif. Salah satunya adalah hilangnya kepekaan terhadap rangsangan seksual, termasuk pelanggaran terhadap hak-hak perempuan.         

Hal ini tentunya dapat dijadikan acuan dalam menentukan kebijakan hukum sunat perempuan. Jika cedera anggota badan/tubuh  tidak memberikan manfaat, hukum defaultnya adalah haram. Islam melarang menyakiti diri sendiri dan  orang lain.         

Padahal, kepuasan dan kesenangan seksual adalah hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan. Sebagaimana dalam konsep Imam al-Ghazali, seseorang berhak atas kepuasan  istrinya dan kewajiban untuk memuaskan istrinya dan sebaliknya.

Penyunting: Bukhari Mengapa Atasan Wanita Mendapat Reaksi Berbeda Dari Pria Saat Mengkritik Karyawan