Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Keutamaan Anak Perempuan dalam Al-Qur’an dan Hadis!

anak perempuan
Sumber: https://www.quranhost.com

Mempunyai seorang anak merupakan anugerah terindah setiap orang di dunia. Sebuah keluarga dapat dikatakan keluarga bahagia apabila terdapat anak yang saleh dan salehah di dalamnya. Kehadiran anak dalam keluarga merupakan suatu hal yang wajid disyukuri oleh semua anggota keluarga, terutama orang tua. Baik anak lelaki maupun anak perempuan.

Selain itu, seorang anak juga merupakan amanah Allah Swt. Yang harus dipertanggungjawabkan orang tua. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan, keduanya memiliki keutamaan tersendiri yang tidak ternilai harganya. Mereka dalam jenis kelamin apapun istimewa.

Anak perempuan merupakan sebuah simbol ketulusan dan kasih sayang. Mendidik mereka dilakukan dengan penuh kelembutan, tidak terlalu kasar terhadapnya. Dalam hal ini Nabi Muhammad Saw. telah mencontohkan bahwasanya melarang memperlakukan anak perempuan dengan kasar. Banyak juga terdapat nas dalam Al-Quran yang secara implisit mengindikasikan keutamaan mereka.

Keutamaan Anak Perempuan

Terlepas dari konstruksi sosio-kultural masyarakat yang kerap kali tidak berpihak kepada mereka, anak perempuan merupakan anugerah terindah bagi orang tuanya. Tentu saja ini tidak dalam rangka mendikotomi seseorang berdasar jenis kelamin. Anak laki-laki juga memiliki banyak keistimewaan namun dalam hal ini telah banyak di uraikan, berbeda dengan perempuan yang sering tidak dipandang se-excited itu.

Tidak dapat dipungkiri bahwasanya perempuan kerap kali menjadi sasaran diskriminasi dan pengucilan meskipun ia masih di bawah umur atau masih anak-anak. Demikian ini telah terjadi sejak dulu. Sejak dimana islam belum datang, anak perempuan sudah dianggap hina dan aib di tengah keluarga. Hal itu terjadi karena kebodohan orang-orang masa jahiliyah dalam memandang anak perempuan.

Pada masa jahiliyah dijelaskan dalam beberapa riwayat bahwa suku arab yang gemar mengubur hidup-hidup bayi perempuan adalah suku Rabi’ah, suku Tamim, dan suku Kendah. Alasan mereka melakukan aitu ialah karena kegundahan akan menjadi rampasan perang dan mendapat aib, ketakutan tidak mampu menafkahi mereka, dan ada juga yang karena cacat sehingga memilih membunuhnya daripada menanggung malu.  

Sosio-Kultur Bangsa Arab

Melihat hal ini Allah berfirman dalam surah al-Takwir ayat 8-9

Baca Juga  Hukum LOA: Manusia Berkarya dalam Al-Qur'an

واِذَا الۡمَوۡءٗدَةُ سُٮِٕلَتۡ (8) بِاَىِّ ذَنۡۢبٍ قُتِلَتۡ​ (9)

Artinya: Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apa dia dibunuh.

Dalam ayat di atas, secara eksplisit Allah Swr. mengabrkan tentan kecemasan terhadap seluruh masyarkat Arab pra-Islam karena tidak ada satupun usaha untuk menghentikan kekjian tersebut. Penjelasan mengenai pembunuhan anak dan pertanyaan yang ada pada ayat di atas diringkas setelah tujuh kejadian besar. Sebagaimana hal ini sudah dijelaskan dari ayat sebelumnya.

“Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan, dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila ruh-ruh dipertemukan dengan tubuh.” Penjelasan tersebut mengisyaratkan bahwa pembunuhan merupakan salah satu peristiwa yang akan terjadi di hari akhir.

Penafsiran Ayat

Dalam kita Tafsir Al-Mishbah karya Quraish Shihab memberi alasan mengapa pembunuhan bayi perempuan pada masa jahiliyah yang diisyaratkan oleh Al-Quran dna sunah. Pertama, khawatir jatuh miskin dengan menanggung biaya hidup anak perempuan yang lahir. Kedua, khawatir jatuh miskin apabila mereka dewasa kelak. Ketiga, khawatir menanggung aib akibat menjadi tawanan perang. Dalam konstruksi struktural mereka, anak perempuan tidak memiliki kelebihan sama sekali.

Maka dari efek masa jahiliah inilah tentunya menjadi imbas kepada harkat dan martabat seorang perempuan. Nasib perempuan miris dan menyedihkan, karena mereka dipandang sangat hina dan tak bernilai sama sekali. Mereka sering sekali tidak mendapat hak yang selayaknya mereka dapat.

Kisah Sayyidah Maryam

Menengok sejarah di atas yang mana anak perempuan sangatlah di benci pada masa jahiliyah, padahal jika belajar lebih dalam lagi bahwasanya anak perempuan itu memiliki banyak keutamaan. Dalam hal ini berangkat dari kisah Imran yang dikaruniai seorang anak perempuan yang nantinya menjadi peempuan yang suci yaitu Maryam. Pembahasan ini tercantum dalam Al-Quran surah Ali-Imran ayat 36, Allah Swt. berfirman,

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّى وَضَعْتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلْأُنثَىٰ ۖ وَإِنِّى سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّىٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ

Baca Juga  Menyongsong Resesi 2023 Sebagai Seorang Muslim

Artinya: Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk”.

***

Ayat ini merupakan kisah dimana Imran bersama istrinya yang tengah mengandung, Imran bernazar untuk mempersembahkan anaknya untuk menjaga rumah Allah yakni Baitulmaqdis. Oleh sebab itu, Imran dan istrinya mengharapkan seorang anak laki-laki yang kuat, untuk menjadi penerusnya sebagai penjaga Baitulmaqdis dan berjuang di jalan Allah. Namun Allah berkehendak lain, anak yang lahir ialah seorang perempuan. Dengan hal ini Imran merasa sedikit kecewa dengan mengatakan “Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan”.

Setelah beberapa waktu Imran menyadari dan menerima kenyataan bahwa ia di anugerahi seorang anak perempuan, serta meyakini bahwa terdapat hikmah di balik itu semua, Imran menamainya dengan maryam. Apa yang dulu pernah di nazarkan oleh Imran. Ia menyerahkan anaknya untuk berkhidmah di Baitulmaqdis tetap dilaksanakan untuk menjadi seorang abdi Tuhan yang taat dan beriman.

Kemudian istri Imran juga berdoa agar bayi perempuannya selalu dalam lindungan Allah Swt. dan terjaga dari godaan setan yang terkutuk yang dapat menjatuhkannya. Maryam pun tumbuh menjadi seorang perempuan suci yang sangat dimuliakan. Dalam hal ini bahkan rasuluallah Saw. juga bersabda, “Tidak seorang bayi pun yang dilahirkan melainkan ia disentuh setan sewaktu ia dilahirkan, sehingga ia menangis dengan suara keras, kecuali maryam dan putranya”. (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Dalil Hadis Nabi Saw.

Selain itu juga terdapat keutamaan seorang perempuan, hal ini di isyaratkan dalam hadis. Dari Aisyah, ia berkata

 جَاءَتْنِى امْرَأَةٌ وَمَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا فَسَأَلَتْنِى فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِى شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَأَخَذَتْهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا شَيْئًا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ وَابْنَتَاهَا فَدَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَحَدَّثْتُهُ حَدِيثَهَا فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « مَنِ ابْتُلِىَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

Baca Juga  Kedudukan Anak Perempuan dalam Pembagian Harta Warisan Menurut Hukum Islam

“Ada seorang wanita masuk ke tempatku dan bersamanya ada dua anak gadisnya. Wanita itu meminta sesuatu. Tetapi aku tidak menemukan sesuatu apa pun di sisiku selain sebiji kurma saja. Lalu aku memberikan padanya. Kemudian wanita tadi membaginya menjadi dua untuk kedua anaknya itu, sedangkan ia sendir tidak makan sedikit pun dari kurma tersebut. Setelah itu ia berdiri lalu keluar.Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke tempatku, lalu saya ceritakan hal tadi kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Barangsiapa yang diberi cobaan sesuatu karena anak-anak perempuan seperti itu, lalu ia berbuat baik kepada mereka maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang untuknya dari siksa neraka.” (HR. Bukhari, no. 5995 dan Muslim, no. 2629)

Dalam hadis yang lain, dari Anas bin Malik, Nabi Saw. bersabda, yang artinya, “Siapa yang mendidik dua anak perempuan hingga ia dewasa, maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aku dan dia.” Lantas Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam mendekatkan jemarinya. (HR. Muslim no 2631). Artinya begitu denkat dengan nabi, sebagaimana dekatnya jemari satu sama lain.

Penjelasan Hadis

Hadis tersebut menjelaskan bahwasanya seorang anak perempuan dapat mengantarkan kedua orang tuanya untuk masuk surga. Mereka juga menjauhkan mereka dari siksa neraka, apabila orang tuanya berhasil mendidik dengan baik dan penuh kasih sayang. Begitu juga sebaliknya, orang tua yang tidak dapat mendidik anak perempuan dalam keluarga nya, maka akan menanggung segala dosa dari anak perempuan tersebut. Maka melihat hal ini bahwasanya anak perempuan dan anak laki-laki memiliki hikmah dalam penciptaaanya. Lalu secara kedudukan dalam keluarga, anak perempuan juga mempunyai keutamaan. Pengabdian mereka terhadap orang tua, dalam beberapa kasus jauh lebih tulus daripada anak laki-laki. Sehingga yang menyebutkan bahwa anak perempuan tidak lebih utama dari anak laki-laki sama sekali tidak dibenarkan dalam Al-Quran.