Tanwir.ID Kanal Tafsir Berkemajuan

Keteladanan Sosok Abu Hurairah

abu hurairah
sumber: unsplash.com

Hadis merupakan sumber hukum dalam Islam yang di dalamnya terdapat 2 komponen penting yang meski diketahui. Ada sanad dan matn. Tatkala sedang membaca hadis, tak jarang kita menemukan nama Abu Hurairah pada penggalan sanad hadis yang disandingkan dengan Rasulullah.

Karena tidak dapat dipungkiri, panjangnya rangkaian sanad pada satu hadis membuat para penulis buku atau artikel yang di dalamnya terdapat hadis hanya mencantumkan Rasulullah dan sanad awalnya saja, yakni seorang sahabat yang langsung bertemu dengan Rasulullah.

Biografi Abu Hurairah

Menurut pendapat yang rajih, namanya pada masa jahiliyahnya ialah Abu Syams. Hal ini ditetapkan oleh Imam Bukhari, Imam Tirmidzi, dan al-Hakim. Setelah Abu Hurairah masuk Islam, Rasulullah mengganti namanya menjadi Abdullah atau Abdurrahman. Di antara keduanya, nama Abdurrahman lebih rajih dibanding Abdullah.

Ia dilahirkan dari Bani Daus bin ‘Adtsan. Sementara Daus berasal dari al-Azd, al-Azdnya sendiri berasal dari Kabilah Yamaniyah Qathaniyah. Silsilahnya terjaga sampai kepada kakek neneknya yaitu al-Azd bin al-Gauts. Hal ini telah dijelaskan oleh seorang pakar sejarah yang terpercaya, Khalifah bin Khayyath.

Ibnu Ishaq, seorang pengarang kitab sirah yang populer memberikan komentar terhadap Abu Hurairah, ia mengatakan bahwa Abu Hurairah merupakan orang yang mulia. Dia memiliki kedudukan yang tinggi dan sangat dipercayai di kalangan Bani Daus, sampai Bani Daus sangat senang dengan keberadaannya.

Ia merupakan seorang sahabat yang selalu memburu kebaikan, mengambil kesempatan untuk berbuat baik kapanpun itu. Ia telah mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya demi mendapatkan keistimewaan dari kebaikannya. Dalam memperlajari al-Quran, ia menimba  ilmunya langsung dari Ubay bin Ka’ab yang merupakan salah satu dari 4 sahabat Rasulullah dengan hafalan yang sangat baik.

Dari ilmu yang didapatkannya, ia kemudian menjadi seorang pengajar al-Quran dengan jumlah murid lebih dari dua. Di antaranya adalah Abu Ja’far Yazid bin al-Qa’qa al-Makhzumi al-Madani yang meruapakan salah seorang ahli qira’ah. Hal tersebut menunjukkan kepada kita, bahwa Abu Hurairah berjuang keras untuk memancarkan kebaikan kepada semua orang yang ditemuinya, dengan harapan mendapatkan berkah yang tak akan padam dalam hidupnya.

Diriwayatkan dari Abu Utsman al-Nahdi, ia berkata, “Aku pernah bertandang kepada Abu Hurairah selama 7 hari. Keluarganya memiliki kebiasaan untuk saling bergantian menjadikan malam menjadi tiga bagian. Tatkala seorang dari mereka shalat, kemudian dia akan membangunkan yang lainnya.” Abu Hurairah juga menjelaskan bahwa kegitannya tiap malam dibagi menjadi tiga bagian. Sepertiga digunakannya untuk shalat, sepertiga untuk tidur, dan sepertiga lagi untuk mengulang-ulang hadis yang didapatnya.

Ia memiliki kebiasaan yang amat mulia dalam ber amar ma’ruf nahi munkar. Setiap harinya, ia akan berjalan menuju masjid-masjid milik kaum Anshar yang ada di seantero kota Madinah. Di sana ia mengajar dan memperdengarkan hadis-hadis dari Rasulullah. Sehingga tidak heran jika kemudian banyak sekali orang dari Bani Zuraiq yang meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah.

Selain hal-hal di atas, masih banyak lagi kepribadiannya yang mengagumkan dan sangat patut untuk kita teladani. Sebagai seorang sahabat yang setia kepada Rasul, ia mendapatkan banyak keutamaan yang bertambah-tambah. Dalam banyak hal, kita dapat mencontoh kegigihan Abu Hurairah dalam belajar dan mengajarkan ilmunya, menyambangi berbagai tempat demi menyampaikan pesan kebaikan dari Rasulullah.

Editor: Ananul

Anita Aprilia
Alumnus salah satu perguruan di Yogyakarta dengan bidang studi Ilmu Hadis