Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Kesunnahan Menangis Saat Membaca Al-Quran

Sumber: istockphoto.com

Alquran adalah pedoman hidup manusia, yang mengatur segala aspek kehidupan. Alquran mengajarkan apa arti kehidupan sesungguhnya. Kandunganya membahas pelajaran yang bisa direalisasikan kehidupan sehari-hari. Alquran bisa menjadi sindiran bagi pembacanya atas tingkah lakunya. Membaca al-Qur’an juga bisa menjadi bahan renungan bagi pembacanya, bahkan sampai menangis meneteskan air mata.

Nampaknya Alquran tidak cukup hanya sebagai bahan bacaan saja yang satu hurufnya dinilai sepuluh kebaikan. Tidak kalah pentingnya Alquran selayaknya sebagai bahan renung bagi pembacanya. Penghayatan yang dalam, serta disangkut-pautkan dengan diri akan menggetarkan jiwa bahkan sampai tersungkur memohon ampun kepada sang maha esa.

Itulah yang dilakukan oleh salafusshalihin (orang-orang shaleh terdahulu). Imam Muhyidin Abu Zakariyah An-Nawawi dalam kitabnya Al-Adzkar An-Nawawi Juz 1, hal. 165 mengatakan bahwa anjuran bagi pembaca Alquran untuk menangis, jika tidak bisa menangis maka pura-pura lah paksa untuk menangis.

Pernyataan ini didukung sebuah hadis riwayat Imam Al-Baihaqi dan Ibnu majjah bahwa Raulullah Saw. meminta pembaca Alquran pura-pura menangis jika tidak bisa menangis dengan sendirinya.

اِنَّ هَذَا الْقُرْاَنَ نَزَلَ بِخُزْنٍ فَاِذَا قَرَاْتُمُوْهُ فَابْكُوْا فَاِنْ لَمْ تَبْكُوْا فَتَبَاكَوْا

Artinya: Sesungguhnya Alquran ini diturunkan dengan kepedihan, jika kalian membacanya, maka menangislah, jika tidak bisa menangis, maka pura-puralah untuk menangis. (Ibnu majjah, Sunan Ibn Majjah, hal.424).

Perlu digaris bawahi pura-pura menangis dalam hal ini adalah suatu paksaan untuk melatih diri memiliki jiwa yang peka. Bukan pura-pura menangis agar diangap khusyuk oleh makhluk.

Menangis Saat Membaca Al-Quran Adalah Implikasi Kekhusykuan

Lebih lanjut Imam Nawawi mengatakan bahwa menangis saat membaca Alquran sangat disunnahkan, sebab menangis ketika membaca Alquran adalah ciri-ciri orang-orang yang arif dan hamba-hamba yang saleh.

Baca Juga  Mengapa Engkau Menangis?

فَاِنَّ الْبُكَاءَ عِنْدَ الْقِرَاَةِ صِفَةُ الْعَارِفِيْنَ وَشَعَارُ عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ

Artinya: Sesungguhnya menangis ketika membaca Alquran adalah sifatnya orang-orang arif dan syiar hamba-hamba Allah yang saleh. (Muhyiddin Abu Zakariyah An-Nawawi, Al-Adzkar An-Nawawi,[ Beirut, Darul Kutub Al-Islamiyah: 2004], juz 1 hal. 165).

Imam Nawawi juga mengatakan bahwa menangis ketika membaca Alquran adalah suatu implikasi kekhusyu’an. Ia mengambil pijakan dari QS. Al-Isra: 109 yang berbunyi:

وَيَخِرُّوۡنَ لِلۡاَذۡقَانِ يَبۡكُوۡنَ وَيَزِيۡدُهُمۡ خُشُوۡعًا

Artinya: Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah kusyuk.

Lebih lanjut Ibnu Mas’ud meriwayatkan hadis yang menceritakan dirinya pernah disuruh oleh Rasulullah Saw. untuk membacakan Alquran dihadapanya. Lalu Rasulullah Saw. pun menangis. Di dalam shahih Bukhari dimaktub sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ قَالَ لِيْ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَاْ عَلَيَّ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ اَقْرَاُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ اُنْزِلَ قَلَ نَعَمْ فَقَرَاْتُ سُوْرَةُ النِّسَاءِ حَتَى اَتَيْتُ اِلَى هَذِهِ الْاَيَةِ (فَكَيْفَ اِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ اُمَّةٍ بِشَهِيْدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيْدًا) قَالَ حَسْبُكَ الْاَنَ فَالْتَفِتُّ اِلَيْهِ فَاِذَاعَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ

Artinya: Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata: Rasulullah Saw. pernah bersabda kepadaku “Bacakan Alquran untukku”. Aku pun berkata “Wahai Rasulullah, apakah aku akan membacanya untuk anda, padahal kepada engkaulah Alquran diturunkan? Rasulullah menjawab “Iya”. Lalu aku pun membacakan surat An-Nisa, hinga aku sampai pada ayat, Dan bagaimanakah sekiranya kami mendatangkanmu sebagai saksi atas mereka. Lalu Rasulullah Saw. bersabda “Cukuplah”. Kemudian aku menoleh ke arah Rasulullah dan ternyata kedua mata beliau sudah meneteskan air mata. (Al-Bukhari, Sahih Bukhari, [Beriut, Daru Tuq An-Najah: 1422H], Juz 6, hal. 196).

Begitu lembutnya hati Rasulullah Saw, sehingga menangis ketika dibacakan Alquran oleh Ibnu mas’ud. Tidak hanya Rasulullah Saw yang tak tahan menahan air mata ketika dibacakan Alquran. Para sahabat dan tabiin hingga salafussalihin pun berketar hatinya, disertai deraian air mata ketika membaca Alquran.

Baca Juga  Khittah Salat: Pantaskah Menjadikan Salat Sebagai Instrumen Demo?

Kisah Sahabat dan Tabiin Menangis ketika Membaca Al-Quran

Di dalam buku Al-Buka-u Inda Qira’atil al-Quran karya Abdullah bin Ibrahim Al-Luhaidan, menceritakan bagaimana sikap beberapa sahabat Nabi Saw. beserta para tabiin dan atba’ al-attabiin ketika membaca ayat-ayat Alquran khususnya ayat-ayat yang menyentuh hati mereka sehingga mereka hanyut dalam tangisan yang mendalam.

Diceritakan oleh Aisyah r.a bahwa Abu Bakar sangat lembut hatinya. Tiap kali membaca Alquran air matanya tak terbendung. Ketika beliau sedang membaca Alquran dalam shalatnya di masjid depan rumahnya, beberapa wanita kafir yang sedang lewat berhenti karena mendengar tangisannya yang terus-menerus.

Umar bin Khattab sahabat Nabi yang terkenal keras pendirianya, suatu ketika sedang menjadi imam shalat dan membaca surat Yusuf, sampai pada ayat 86 air matanya tak terbendung mengalir sampai ke dada. Ayat ini menjelaskan bahwa pengaduan tentang segala hal harus kepada Allah Swt. semata. Ia kemudian tidak bisa keluar rumah beberapa hari. Para sahabat yang menjenguknya mengira ia sakit.

Abdullah bin Abbas r.a menangis tersedu-sedu sambil mengulang-ngulang QS. Qaf ayat 19 yang menjelaskan bahwa kematian pasti terjadi bagi setiap orang. Sakaratul maut pasti adanya dan semua orang pasti mengalaminya.

Abdullah putra Umar r.a menangis dengan sekeras-kerasnya ketika membaca QS. Al-Baqarah: 284. Ayat ini menjelaskna bahwa tidak ada kata samar dihadapan Allah. Abdullah mengetahui isi hati kita, ampunan dan siksaan adalah hak Allah. Putra Umar ini juga menangis ketika membaca QS. Al-Hadid ayat 16 yang mengur manusia mengapa mereka menunda-nunda bertaubat kepada Allah Swt.

Sahabat lain Abu Musa Al-Asy’aru r.a dan Abdurrahman bin Auf juga menangis ketika membaca QS. Al-Infithar ayat 6 sambil menyebut dirinya manusia bodoh, karena kurang memikirkan sebab-sebab perbuatan dosanya.

Baca Juga  Tafsir Q.S Al-Kahfi Ayat 13-14: Pemuda yang Dirindukan Surga

Itulah sekelumit kisah dari para sahabat dalam mendalami Alquran, mereka hanyut dalam tangisan bukan karena sedih, tangisan mereka adalah bukti khusyukan mereka, bukti kelembutan hati mereka dan bukti ketaatan mereka. Hal tersebut bisa menjadi contoh bagi kita untuk ikut serta mendalami isi Alquran dan hanyut dalam tangisan.

Jika kita belum bisa menangis dalam membaca Alquran maka paksa hati ini untuk menangis. Ambil ayat-ayat yang menyentuh diri kita, yang menyindir prilaku kita, lalu resapi seraya meminta Ampun kepada sang maha esa. Wallahuaalam

Editor: An-Najmi