Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Kesetaraan Gender Dalam Tantangan Isu-Isu Modernitas

Kesetaraan Gender
Pict by: Google

Pada beberapa tahun belakangan ini, kesetaraan gender menjadi persoalan yang polemik di kalangan masyarakat modern. Tidak hanya di masyarakat modern, di kalangan umat Islam pun, gender juga menjadi perdebatan yang belum menemukan titik penyelesainnya. Kesetaraan gender telah menjadi keharusan dalam zaman modernitas ini.

Perbedaan gender sebenarnya tidak menjadi masalah jika tidak menyebabkan ketidakadilan hak-hak antara perempuan dan laki-laki. Akan tetapi dalam kenyataannya, perbedaan gender telah menciptakan ketidakadilan. Upaya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki masih sulit diwujudkan jika pekerjaan di sektor publik masih mendiskriminasikan antara kaum perempuan dan kaum laki-laki. Muncul beberapa pemikiran bahwa ada pekerjaan yang boleh dan tidak boleh dikerjakan oleh perempuan maupun laki-laki.

Adanya Kesalahfahaman

Beberapa orang mungkin akan salah paham dalam mengartikan istilah kesetaraan gender. Karena mereka tidak begitu mengetahui tentang kesetaraan gender maka mereka akan membuat makna-makna yang menggelikan mengenai kesetaran gender.

Beberapa orang mengatakan keseteraan gender adalah sebuah pemahaman yang datang dari barat untuk merubah perempuan menjadi laki-laki dan laki-laki menjadi perempuan, inilah salah satu contoh pemahaman makna kesetaraan gender yang menggelikan.  

Istilah kesetaraan gender memang istilah yang baru-baru dikenal belakangan ini dan bahkan istilah gender sendiri belum ada dalam kamus bahasa indonesia. Istilah gender ini memang datang dari kalangan bangsa barat dan diperkenalkan oleh para feminis. Pada intinya, kesetaraan gender adalah suatu cara untuk menjadikan manusia saling menghargai keadilan antara perempuan dan laki-laki.

Masalah Kesetaraan Gender Dalam Al-Quran

Dalam beberapa ayat di dalam al-Quran, muncul beberapa masalah kesetaraan gender. Misalnya muncul masalah kesetaraan dalam proses penciptaan laki-laki (Nabi Adam as) yang terbuat dari tanah dan proses penciptaan perempuan (Hawa) dari tulang rusuk Nabi Adam as. Dalam tugas-tugas ibadah keagamaan muncul masalah kesetaraan bahwa tidak ada perempuan yang menjadi Nabi, tidak ada perempuan yang menjadi imam sholat saat jama’ah umum (hal ini didasarkan penafsiran ayat-ayat tentang sholat dengan didasari hadis Nabi).

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 13: Pandangan Terhadap Orang Beriman

Dalam pernikahan muncul masalah kesetaraan bahwa dalam perceraian, hanya laki-laki yang memiliki hak menjatuhkan talak dan dalam perwalian saat pernikahan, hanya perempuan yang harus menikah dengan didampingi wali. Dalam pembagian warisan juga muncul masalah kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Dan masalah kesetaraan ini juga muncul dalam masalah pembagian tugas publik dan domestik antara laki-laki dan perempuan.

Berdasarkan beberapa pernyataan diatas, terlihat jelas bahwa perempuan memiliki kedudukan kedua setelah laki-laki.  Menurut Asghar Ali Engineer, seorang feminis Muslim dari India. Beliau mengatakan bahwa masalah-masalah kesetaraan di atas dapat diatasi dengan menafsirkannya secara kontekstual. Karena secara konstektual, al-Quran memang menyatakan adanya kelebihan tertentu kaum laki-laki atas perempuan.

Era Modernitas dan Perubahan

Kehidupan manusia pada saat ini memasuki era modernitas dimana terjadi perubahan-perubahan yang cukup pesat di semua bidang. Hal itu memunculkan ketidakadilan dalam kesetaraan gender. Bentuk ketidakadilan dalam kesetaraan gender yang berupa pengecualian dan sebagainya kini tidak hanya terjadi dalam dunia nyata bahkan di dunia maya tampil menjadi ajang untuk melakukan tindakan-tindakan ketidakadilan.

Modernisasi yang menawarkan berbagai perubahan di berbagai bidang memberikan peluang bagi perempuan  untuk memenuhi haknya, mendapatkan kebebasan dan menyuarakan hak-haknya. Perempuan saat ini, tidak lagi berada pada urusan rumah tangga seperti mencuci, memasak dan segala hal aktivitas yang berhubungan dengan rumah tangga, tetapi pada saat ini mereka juga diberi kebebasan untuk berperan selayaknya laki-laki di area publik.

Modernisasi memunculkan beberapa masalah baru lagi, seperti sebagian besar perempuan yang tidak kuat dalam arus modernisasi yang sangat ketat, memilih untuk menjadi pekerja seks. Sebagian yang lain ada yang tetap menjadi buruh pabrik, buruh tani dan lain sebagainya yang terkadang pekerjaan-pekerjaan ini sering dipandang sebelah mata dalam sosial masyarakat.

Baca Juga  Frasa Zawj dan Azwāj dalam Penafsiran Amina Wadud

Meskipun penindasan terhadap perempuan tidak sekejam pada saat awal perjalanan sejarah. Di mana kaum perempuan hanya merasakan manfaat keperempuannya dalam lingkup rumah tangga saja. Namun arus modernisasi ini menambah persoalan baru lagi bagi perempuan karena perannya di ruang publik tidak sepenuhnya mendapatkan pengakuan secara totalitas. Baik itu di bidang sosial, bidang ekonomi, sampai bidang pendididikan.

***

Keseteraan gender yang diperjuangkan oleh para feminisme, untuk mengangkat derajat perempuan, tidak selamanya berdampak baik bagi perempuan di ruang publik. Terkadang malah muncul maksud terselubung yang tidak disadari oleh perempuan pada umumnya dengan dalih atas dasar kesetaraan gender.

Muncul pula permasalahan baru, misalnya untuk perempuan yang bekerja, contohnya di bidang komunikasi, dituntut untuk berpenampilan menarik, memiliki tubuh yang ideal sehingga kecantikan fisik menjadi syarat utama dalam bidang tersebut. Terlihat jelas bahwa perempuan masih menjadi obyek kekuasaan laki-laki.

Maka dari itu, untuk melepaskan diri dari dampak-dampak buruk modernitas, perempuan membutuhkan ilmu pengetahuan yang memadai dan keimanan serta ketakwaan yang kuat sebagai dasar untuk meraih sukses secara intelektual yang dengan itu bisa menjawab segala persoalan-persoalan kesetaraan gender di ruang publik.

Upaya dalam keadilan dan kesetaraan gender juga harus lebih ditegakkan agar tidak terjadi kekerasan, tidak ada lagi ketidakadilan antara perempuan dan laki-laki untuk alasan apapun, dan tidak ada lagi perilaku diskriminasi antara perempuan dan laki-laki.

Editor: Ananul N H

Anesti Meilu Wiranti
Mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta