Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Kesempurnaan Sujud: Bukti Ketundukkan Seorang Hamba

sujud
Sumber: https://id.pinterest.com/

Sebagai umat muslim, kita telah mengetahui bahwa sujud merupakan salah satu gerakan dalam rukun shalat yang tidak boleh ditinggalkan. Jika salah satu rukun shalat ditinggalkan dengan sengaja, maka tidak akan sah shalat yang dilakukan tersebut. Begitupula dengan sujud, jika ditinggalkan dengan sengaja maka tidak akan diterima amalan shalat yang dilakukan. Sujud merupakan gerakan shalat yang paling menunjukkan ketundukan seorang hamba di hadapan penciptanya.

Posisi sujud dapat menjadi salah satu kesempatan bagi setiap muslim untuk memperbanyak doanya. Sebab pada posisi ini merupakan kondisi terdekat manusia kepada Rabnya, sehingga doa-doa yang dipanjatkan lebih berpeluang untuk diijabah oleh Allah. Pernyataan tersebut sesuai dengan riwayat yang termaktub dalam hadits shahih bahwa, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَ كْثِرُوا الدُّعَاءَ

Kondisi terdekat seorang hamba kepada Rabnya adalah ketika dia sedang sujud. Karena itu, perbanyaklah berdoa. (HR. Muslim 1111, Ahmad 9460 dan yang lainnya)

Mengingat sujud merupakan kondisi terdekat hamba kepada Rabnya, maka penting bagi setiap hamba untuk memposisikan dirinya dengan sujud yang sempurna sebelum memanjatkan doa-doanya dikala sujud. Sebab kesempurnaan sujud dapat berpengaruh terhadap kekhusyukan dan kenyamanan seorang hamba ketika sedang berinteraksi dengan Tuhannya. Seperti halnya ketika seorang siswa sedang belajar, namun posisi duduknya tidak nyaman maka konsentrasi siswa tersebut akan terganggu. Sehingga aktivitas belajar siswa tersebut tidak dapat berjalan dengan baik hanya karena posisi duduknya yang tidak sempurna.

Lantas bagaimana sujud sempurna yang telah diajarkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam?

Tata Cara Sujud

Secara umum, tata cara sujud yang benar bertumpu pada tujuh anggota badan yang meliputi dahi dan mencakup hidung, dua telapak tangan, dua lutut dan dua ujung-ujung kaki. Ketentutan tersebut bersandar pada hadits dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Baca Juga  Urgensi Maqashid Syari'ah dalam Membuat Fatwa

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الجَبهَةِ, وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَاليَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ, وَأَطْرَافِ القَدَمَيْنِ

Aku diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan: dahi dan beliau berisyarat dengan menyentuhkan tangan ke hidung beliau-, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua kaki… (HR. Bukhari 812 dan Muslim 1126)

Adapun bentuk sujud yang sempurna berdasarkan hadits-hadits shahih ialah sebagai berikut:

  • Menempelkan dahi dan hidung di lantai

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah tidak menerima shalat bagi orang yang tidak menempelkan hidungnya ke tanah, sebagaimana dia menempelkan dahinya ke tanah.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 2710, Abdurrazaq 2982, dan dishahihkan al-Albani)

  • Meletakkan kedua tangan di lantai dan sejajar dengan pundak atau telinga

Dari Abu Humaid, beliau menceritakan cara sujud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Kemudian beliau sujud, beliau letakkan hidungnya dan dahinya, beliau bentangkan kedua tangannya ke samping, dan beliau letakkan kedua tangannya sejajar dengan pundaknya.” (HR. Abu Daud 734, Turmudzi 271 dan dishahihkan al-Albani)

  • Merapatkan jari-jari tangan dan menghadapkannya ke arah kiblat

Sahabat Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu bercerita,

“Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika rukuk, beliau merenggangkan jari-jarinya, dan ketika sujud beliau merapatkan jari-jarinya.” (HR. ad-Daruquthni 1298, Ibnu Hibban 1920 dan dishahihkan al-Albani)

Sahabat al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu bercerita,

“Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam menghadapkan jari-jarinya kea rah kiblat ketika sujud” (HR. Baihaqi dalam al-Kubro 2804 dan sanadnya shahih)

  • Mengangkat kedua hastanya dan membentangkan keduanya ke samping sehingga jauh dari lambung

Sahabat Abu Humaid radhiyallahu ‘anhu bercerita,

“Apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud, beliau letakkan kedua tangannya di lantai, namun siki tidak ditaruh di lantai, dan juga tidak dirapatkan.” (HR. Bukhari 828 dan Ibnu Hibban 1869)

  • Kedua tumit dirapatkan dan jari-jari kaki ditekuk menghadap kiblat
Baca Juga  Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi: Agama Bukanlah Candu!

Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita,

“Saya kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –sebelumnya beliau tidur disampingku- lalu aku dapati beliau dalam kondisi sujud, merapatkan kedua tumitmya, jari-jari kakinya dihadapkan kiblat.” (HR. Baihaqi dalam al-Kubro 2827, Hakim 832 dan dishahihkan oleh ad-Dzahabi)

  • Meregangkan antara paha dan perut.

Abu Humaid radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

“Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud, beliau renggangkan kedua pahanya, tanpa sedikitpun menyentuhkan paha dengan perut beliau. (HR. Abu Daud 735 dan dishahihkan oleh As Syaukani dalam Nailul Authar)

Sujud Sempurna

Ketika posisi sujud telah sempurna, inilah kesempatan bagi hamba-Nya untuk memanjatkan doa-doa di dalam sujud sesuai hadits Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam. Seringkali dipahami oleh masyarakat bahwa yang dimaksud memperbanyak doa sujud ialah dengan memperbanyak doa hanya di sujud terakhir saja.

Sebagian ulama tidak membenarkan jika hanya mengkhususkan sujud terakhir saja untuk memperbanyak doa, sehingga sujudnya lebih lama dibandingkan dengan sujud-sujud yang lain. Syekh al-Utsaimin mengatakan: “Memperpanjang sujud terakhir ketika shalat bukanlah termasuk sunnah. Yang sesuai Sunnah Nabi SAW adalah seseorang melakukan sholat, antara rukuk, bangkit dari rukuk (i’tidal), sujud, dan duduk di antara dua sujud itu hampir sama lamanya”. Maka jika ingin memperbanyak doa pada saat sujud dapat dilakukan pada saat sujud-sujud yang lain dalam shalat.

Editor: An-Najmi Fikri R