Tanwir.ID Kanal Tafsir Berkemajuan

Keselarasan Ajaran Stoisisme dan Islam

stoisisme filsafat kebahagiaan
sumber: unsplash.com

Nyatanya, hidup memang tidak selalu menyenangkan, tidak semulus yang kita bayangkan, atau sebahagia yang kita harapkan. Islam sudah mengajarkan banyak cara agar hidup senantia menyenangkan. Bahkan Allah Swt sendiri sudah mengklaim bahwa dengan mengikuti Islam, hidup manusia akan “selamat”, sesuai namanya.

Hal ini menarik karena Allah Swt tidak menggunakan kata bahagia melainkan selamat. Mengenai bagaimana cara hidup lebih senang dan bahagia, ada sebuah pandangan yang kemunculunnya jauh sebelum agama-agama ada. Ia adalah stoisisme.

Apa itu Stoisisme?

Sekitar tahun 300 sebelum masehi, seorang pedagang dari Syprus pergi menyebrangi laut mediterania dari Phoenichia ke Peiraeus. Kapal yang ditumpanginya karam dan barang dagangan yang ia bawa juga lenyap, padahal barang itu bernilai sangat tinggi pada masanya. Terdamparlah ia di suatu kota berperadaban maju bernama Athena. Disana banyak filsuf-filsuf terkemuka.

Di tengah kesulitan, pedagang yang bernama Zeno itu bertahan hidup dan belajar dengan filsuf-filsuf tersebut, hingga menyebarkan pemikirannya sendiri. Ia mengajari murid-muridnya di sebuah selasar, yang dalam bahasa Yunani disebut stoa. Maka sejak saat itu, pandangan Zeno dan pengikutnya dikenal dengan stoisisme.

Stoisisme bukan sebuah agama, menurut Haidar Bagir dalam bukunya Buku Saku Filsafat, stoisisme bukan termasuk filsafat spekulatif dan tematik, melainkan sebuah pandangan hidup mendalam dengan memerhatikan emosi manusia.

Ajaran Inti Stoisisme

Stoisisme sangat berfokus pada emosi manusia. Jadi ajaran inti dari pandangan ini adalah mengenai pengendalian emosi negatif, yang menurut stoik – penganut ajaran stoisisme – merupakan sumber ketidakbahagiaan.

Hal pertama yang perlu manusia ketahui adalah bahwa ia harus hidup harmonis dengan alam, menyesuaikan dengan kodratnya sebagai manusia, yaitu ia memiliki akal. Hal ini sangat ditekankan dalam stoisisme karena manusia harus selalu rasional atau menggunakan akalnya. Kalau tidak, dengan sangat jelas ia bisa disebut binatang.

Bagaimana seharusnya menggunakan akal? Pertama, tentu manusia tidak mengikuti hawa nafsunya, karena ini tidak menunjukkan sikap berbeda dengan hewan. Kedua, dalam pandangan stoisisme, ada hal yang bisa kita kendalikan dan ada yang tidak (things we can control and not).

Hal yang dapat diri sendiri kendalikan hanya dua, pikiran dan tindakan. Termasuk di dalamanya ide, gagasan, opini, harapan, dan sebagainya. Lalu, hal yang tidak bisa kita kendalikan adalah diluar dua yang telah disebutkan; kekayaan, pendidikan, kecantikan, pangkat, jabatan, dan lain-lain.

Manusia dapat dikatakan rasional saat ia memikirkan dengan baik hal yang ada di bawah kendalinya. Saat ia memikirkan dan mulai memusingkan hal selain itu – hal di luar kuasanya – maka ia sudah tidak rasional. Ini bukan berarti stoisisme mengajarkan seseorang berpasrah diri saja, melihat banyak hal tidak dalam kendalinya.

Disinilah stoisisme berpesan bahwa manusia tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang seharusnya tidak ia pikirkan. Hal-hal yang terjadi di luar kendalinya itu sudah menjadi hukum alam dari kejadian-kejadian sebelumnya dan bertali-tali. Jadi solusinya adalah amor fati, sikap untuk mencitai apa yang terjadi saat ini.

Kemudian, manusia dianjurkan untuk mengasah empat virtue atau kebajikan, yaitu wisdom, kemampuan untuk mengambil keputusan dalam situasi apapun; justice, memperlakukan orang lain dengan adil dan jujur; courage, keberanian berbuat dan teguh pada prinsip yang benar; dan temprance, disiplin dan kontrol diri atas emosi sebagaimana dikutip dari Filosofi Teras.

Hal yang menarik dalam stoisisme adalah anggapan bahwa kebahagiaan bukan saat seseorang mendapatkan apa yang ia inginkan, melainkan saat ia memiliki kemampuan untuk tidak menginginkan. Hingga sampai pada titik merasa cukup. Dan menurut stoisisme, sesungguhnya kebahagiaan itu kokoh berasal dari dalam diri, bukan dari luar.

Keselarasan dengan Ajaran Islam

Berbicara mengenai pengendalian emosi, Islam juga menerapkan beberapa prinsip salah satunya adalah yang tersebut dalam hadis nabi,

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

Janganlah engkau marah, maka bagimu surga.” (HR. Ibnu Abid Dunya, hadis ini shahih)

Kedua pandangan baik stoisisme dan Islam melihat dan menerangkan dahsyatnya dampak destruktif dari emosi negatif, sehingga harus dikurangi.

Kemudian, jika dalam stoisisme ada amor fati, maka Islam mengusung sikap syukur. Allah Swt berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

Tampak bahwa dalam ayat ini, Islam mengajarkan untuk menerima apa yang Allah Swt. tetapkan dan berikan kepada manusia dan jangan mengingkarinya.

Pentingnya sikap menerima dan merasa cukup, Islam tampilkan dengan sikap qana’ah dan tawakkal. Kemudian mengenai kebahagiaan dan kebaikan berasal dari dalam diri disampaikan Rasulullah Saw:

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Atau ditunjukkan adanya konsep nafsul muthma’innah atau jiwa yang tenang, yang menurut Imam al-Ghazali adalah jiwa yang mampu melenyapkan syahwat.

Bolehkah Muslim Menggunakan dan Menerapkan Ajaran Stoisisme?

Selagi nilai-nilai tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam, insyaallah tidak ada larangan. Pandangan ini hanyalah salah satu cara kita memahami ajaran Islam lewat logika.

Namun, apapun ilmu yang didapat dari luar sumber Islam, maka seyogyanya kita menelisik kebenaran dan kesesuainnya dengan ajaran kita terlebih dahulu dan menjadikannya alat pendukung untuk memperkuat pemahaman keislaman kita jika tidak ada yang bertentangan. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Editor: Ananul