Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Kepemimpinan Perempuan; Tafsir QS. At-Taubah: 21 dan An-Nisa’: 34

Sumber: istockphoto.com

Zaman sekarang kesetaraan gender adalah pembahasan yang tidak ada habis-habisnya. Karena terdapat berbagai pendapat antara gender laki-laki dan perempuan. Sehingga, banyak kita jumpai wanita zaman sekarang yang menjunjung tinggi kesetaraan gender. Kesetaraan gender berawal dari relasi antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai peran terhadap masyarakat. Dalam hubungan tersebut sering kali permasalahan timbul sekitar pembagian peran karena beranggapan bahwa laki-laki lebih unggul dan dianggap lebih dominan, sedangkan bagi perempuan mempunyai keterbatasan dalam peran domestik apalagi dalam kepemimpinan. Maka dari itu, kita coba untuk menggali dalam Al- Qur’an dengan mengungkap pemahaman yang kontroversial terkait kesetaraan gender.

Hakikatnya, AL-Qur’an adalah rahmatan lil ‘alamin yang diturunkan untuk memberikan pencerahan kepada manusia, termasuk kepemimpinan. Di mana ayat-ayatnya berobesesi untuk mewujudkan keadilan dan persamaan dalam masyarakat. Maka, prinsip utama dalam menafsirkan ayat al-qur’an adalah menjaga keadilan dan persamaan.

Tafsir QS. At-Taubah: 21

Para ahli tafsir bersepakat bahwa Ratu Balqis dan Nabi Sulaiman adalah representasi kepemimpinan ratu dan raja dalam Al-Qur’an yang membuktikan bahwa kesetaraan gender dalam Islam benar adanya, tanpa terhalang kodrat yang banyak diciptakan oleh pemikiran masyarakat sendiri. At-Thabari melukiskan kepempinan Ratu Balqis adalah ratu yang super power (adidaya) dibuktikan dengan ayat lahaa ‘arsyun adhiim (27:23) dan tidak dijumpai ayat lahaa ‘arsyun adhiim yang mengisahkan kerajaan dan merujuk pada seorang perepmpuan (dhamir ha). Seementara seperti yang sudah kita ketahui bahwa nabi sulaiman mempunyai beberapa kemampuan, seperti kemampuan bekerjasama dengan jin dan burung, kemampuan menguasai setan, kemampuan mengeksploitasi di dasar laut, kemampuan merekayasa angin, berkomunikasi dengan serangga dan hewan. Nabi Sulaiman perlu mengerahkan semuanya untuk menghadapi kekuatan Balqis, bayangkan saja seberapa hebat Ratu Balqis dengan kepemimpinannya.

Baca Juga  Islam Sangat Mendukung Kesetaraan Gender

Kisah tentang Ratu Balqis di ceritakan tidak kurang dalam 2 surah Al-Qur’an (an-naml dan al-anbiya) yang didalamnya sarat akan makna kehidupan, setidaknya Al-Qur’an memberi isyarat terdapat tokoh perempuan yang mengendalikan kekuasaan besar dan disekelilingnya terdapat banyak tokoh laki-laki.

Dalam kalangan ahli tafsir, kenyataan yang diperankan Ratu Balqis dan isyarat persamaan hak-hak politik antara laki-laki dan perempuan sebenarnya diisyaratkan lebih sesuai dengan visi dan misi Al-Qur’an daripada paham keagamaan yang cenderung menolak kepemimpinan perempuan.

***

Al-Zamakhsyari dalam pemabahsaanya terkait kisah Sulaiman dan Balqis memberikan ketegasan berdasarkan dalil AL-qur’an kepada perepmpuan untuk bisa berperan sebagai pemimpin. QS. At-Taubah: 21):

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah)menjadi penolong bagai sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana.”

Sekali lagi, ayat ini menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan dapat menjadi penguasa atau pemimpin dalam arti menyeru kepada kebaikan dan menyeru untuk taat kepada Allah. Dalam ayat ini menunjukkan bahwa seseorang bisa memegang otoritas (tidak dalam rumah tangga saja) melainkan juga dalam menguasai wilayah. Perempuan diidealisasikan memiliki kemandirian berpolitik dan mempunyai kemampuan untuk mengelola ekonomi guna mendapatkan kehidupan yang layak. Oleh karena itu, semua penafsiran yang bersifat menindas perempuan sudah semestinya ditinjau ulang karena tidak sepaham dengan Al-Qur’an.

Tafsir QS. An-Nisa’: 34

Banyak orang yang menganggap bahwa kodrat perempuan adalah menjadi ibu rumah tangga, melayani laki-laki, dan melahirkan. Mereka berlandaskan pada surah An-Nisa’ ayat 34, yang berbunyi:

Baca Juga  Mengenal Ulama Perempuan Zubaidah binti Abu Ja'far

“kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) dan sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena allah telah memelihara mereka (wanita). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta’atimu, maka jangnlah kmau mencari-cari jalan untuk menusyuzkannya. Sesungguhnya Allah maha tinggi lagi maha besar “ 

Para ahli tafsir, seperti Ibnu katsir dan Al-Zamakhsyari, memberi beberapa hal yang perlu diperhatikan;

Asal usul ayat ini turun dalam kaitan urusan rumah tangga, bukan dalam lingkungan publik. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawaih, seorang lelaki Anshar datang dengan istrinya yang bertengkar lalu sang istri mengadu kepada Nabi Muhammad bahwa ia dipukuli hingga berbekas, maka turunlah ayat ini.

Ayat ini menggunakan kata rijal yang menunjuk kepada kapasitas tertentu yang dibebankan budaya terhadap lelaki tertentu, bukan menggunakan kata dzakar yang berarti merujuk pada setiap laki-laki.

***

Tentang qawwam, “lelaki sebagai pemimpin terhadap perempuan” Ibnu Katsir memilih menerjemahkan sebagai pelindung atau pemelihara. Jika dikatakan dalam tafsir modern, misalnya oleh Abdullah Yusuf Ali, kata itu sama maknanya dengan mengepalai atau membiayai.

At-Thabari mengartikannya dengan penanggung jawaban yakni laki-laki bertanggung jawab untuk mendidik dan membimbing istri di jalan Allah sebagai kewajibannya kepada Allah.

Muhammad Abduh, ahli tafsir modern, yang terkenal dengan karyanya Al-Manar, tidak memutlakkan kepemimpinan laki-laki kepada perempuan. Karna ayat tersebut menggunakan kata qawwam (atau yang lebih tegas menunjuk laki-laki mempunyai kelebihan di atas perempuan). Akan tetapi ayat tersebut mengatakan “oleh karena Allah telah memberikan kelebihan di antara mereka atas sebagian yang lain”. Tidak mutlak dan tidak selamanya laki-laki memiliki kelebihan di atas perempuan.

Baca Juga  Membaca Narasi Perempuan dalam Gerakan Radikal

Perempuan Berhak Untuk Memimpin

Zaman ini bukan zaman jahiliyah lagi, dimana perempuan dikubur hidup-hidup karena dianggap sebagai aib. Islam datang dengan konsep relasi gendernya mengubah tatanan dan struktur masyarakat secara mendasar. Semula perempuan tidak dikenal memeproleh warisan, bertindak sebagai saksi, dan aktif di berbagai kegiatan publik. Maka Islam memberikan garansi bahwa perempuan dapat bahkan harus bisa menerima warisan, bertindak sebagai saksi, melakukan kegiatan publik termasuk pemimpin komunitas, baik komunitas rumah tangga maupun komunitas kemasyarakatan yang lebih luas.

Dengan keadaan zaman yang sudah tua ini, semoga kita tergolong dalam orang yang cerdas, bijaksana sebagai khalifah dimuka bumi yang setia berpedoman terhadap Al-Qur’an dan Hadist. Sehingga membuat diri kita lebih baik lagi dalam belajar dan mencintai Allah dan Rasul-Nya. Amiin.

Editor: An-Najmi