Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Kepemimpinan Ideal Nabi dalam Tafsir Ar-Razi

kepemimpinan
Sumber: https://www.premiumtimesng.com

Nabi Muhammad saw merupakan makhluk Allah yang paling mulia kepribadiannya. Hati dan pekertinya yang mulia tidak jarang membuat seseorang tergugah akan nilai Islam sesungguhnya. Sebegitu mulianya sehingga tidak ada seorang pun yang dapat menggambarkan secara sempurna kemuliaan pekertinya kecuali Allah Swt. Salah satu ringkasan penggambaran pekerti nabi terdapat dalam QS. al-Qalam (68:4) “sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlaq yang luhur.” Akhlak ini juga hadir pada aspek kepemimpinan Nabi.

Pada kesempatan kali ini, penulis akan mencoba menelaah makna  QS. Al-Imran ayat 159 melalui Tafsir al-Mafatih al-Ghaib karya Muhammad Fakhruddin al-Razi. Umumnya, tafsir ini biasa disebut juga dengan Tafsir al-Razi atau Tafsir al-Kabir. Pendekatan tafsir al-Razi ini dilakukan dengan cara bi al-ra’yi (pendekatan logika), sedangkan metode dan corak tafsir yang digunakannya adalah dengan metode tahlili dan bercorak teologis-filosofis-fiqh.

Kepemimpinan Nabi Muhammad

Kiranya penting bagi kita sebagai ummat Nabi Muhammad saw hendaknya berusaha meneladani akhlaknya. Salah satunya adalah berusaha meneladani karakter kepemimpinan nabi yang tidak lain agar seorang pemimpin dapat mengatur dan mengelola kekuasaannya dengan teratur demi terwujudnya kehidupan yang lebih baik. Karakter kepemimpinan nabi telah disinggung dalam QS. al-Imran ayat 159 sebagai berikut:

فَبِمَا رَحۡمَةࣲ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِیظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِی ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ یُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِینَ﴾ [آل عمران ١٥٩]

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah  meraka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dengan urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.

Penggunaan huruf mim pada kata fabima rahmatin merupakan zaidah yang berfungsi untuk menguatkan (al-taukid). Asbab al-nuzul turunnya ayat tersebut adalah peristiwa Perang Uhud dimana tak sedikit pasukan kaum muslimin yang mendurhakai perintah rasulullah saat perang berlangsung. Sehingga kaum muslimin yang semula memenangkan peperangan terpaksa kalah karena dipukul mundur oleh musuh.

Baca Juga  Polemik Kewajiban Bercadar: Kajian Tafsir Q.S An-Nur Ayat 31
***

Meskipun sebagian umat muslim kala itu telah berbuat kesalahan yang besar, namun nabi bersikap lemah lembut terhadap mereka. Hal ini merupakan gambaran kemuliaan pekerti nabi kepada ummatnya. Tentu sikap ini juga merupakan bentuk kasih sayang dan rahmat Allah, sehingga Allah melimpahkan kelembutan pada hati nabi, tidak pula membuat nabi bersikap keras dan berhati kasar. Maha suci Allah Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sekiranya Rasulullah bersifat keras dan berhati kasar, tentu kaum muslimin saat itu akan menjauh dan meninggalkan Rasulullah. Namun Allah menyatukan mereka dan menjadikan rasulullah bersikap lemah lembut. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr:

 “aku melihat sifat-sifat Rasulullah dalam kitab-kitab terdahulu seperti itu,dimana beliau tidak bertutur kata kasar dan juga tidak berhati keras, tidak suka berteriak di pasar,tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahtan, tetapi beliau itu senantiasa memberikan maaf.”

***

Ayat tersebut memberi petunjuk bahwa Allah telah mengampuni mereka dengan menuntun Rasulullah agar memaafkan mereka dan memohonkan ampunan untuk mereka. Selain itu, Allah juga memberi tuntunan untuk bermusyawarah. Musyawarah secara bahasa berasal dari kata syawara yang memiliki arti mengambil madu dari sarang lebah. Dalam Tafsir Mafatih al-Ghaib dijelaskan bahwa musyawarah yang dimaksud adalah dalam hal dunia dan peperangan.

Meskipun Nabi Muhammad adalah orang yang paling cerdas, namun ilmu tentang makhluk (keduniawian) itu tiada batasnya. Nabi bersabda: “engkaulah yang paling mengetahui urusan duniamu, dan akulah yang paling mengetahui urusan agamamu.” Tidak ada suatu kaum yang bermusyawarah kecuali akan mendapat petunjuk dari urusan-urusannya. Sebagai contoh maksud hal duniawi yang relevan dengan masa kini diantaranya seperti urusan politik, ekonomi atau kemasyarakatan. Kemudian setelah bermusyawarah mengenai suatu masalah dan telah membulatkan tekat atas hasil dari musyawarah tersebut, hendaknya bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.

Baca Juga  Telaah Rasionalitas Pohon Zaqqum dalam Al-Qur'an

Karakter Kepemimpinan Ideal

Beberapa poin tersebut merupakan sedikit gambaran mengenai karakter kepemimpinan Nabi Muhammad saw. Usaha agar tercapainya model kepemimpinan seperti nabi hendaknya perlu ditunjang  dengan menerapkan sifat-sifat yang ada pada diri nabi atau rasul. Di antarnya ada empat, yaitu:

  1. Shiddiq: jujur, dalam artian jujur dan benar perbuatannya, tidak melawan atau melanggar aturan
  2. Amanah: dapat dipercaya, dalam artian amanah dalam mengemban dan melaksanakan kewajiban.
  3. Tabligh: menyampaikan, dalam artian berani menyampaikan kebenaran dan tidak takut melawan kemunkaran.
  4. Fathonah: cerdas, dalam artian memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual untuk membantu menemukan penyelesaian masalah.

Demikianlah sedikit telaah keteladanan karakter kepemimpinan Rasulullah menurut tafsir Mafatih al-Ghaib. Semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Semoga karakter-karakter tersebut ada dalam diri  setiap pemimpin di dunia, terlebih Indonesia khususnya.