Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Kemenangan Sejati

kemenangan
Sumber: pixbay.com

Hari raya Idul Fitri sebagai momentum diraihnya kemenangan sejati. Kado istimewa dari Ramadhan yang telah pamit untuk pergi. Ruang terlahir kembalinya setiap Mukmin pada fitrah ilahi dan insani.

Fitrah ilahi dapat dimaknai sebagai kemenangan spiritual. Kemenangan dalam memeluk erat kekuatan iman dan takwa yang telah terpupuk kuat pada bulan Ramadhan. Kemenangan yang menghantarkan setiap Insan kembali mengokohkan diri untuk dekat dengan Sang Pencipta.

Dari Anas bin Malik RA pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, bahwa Allah berfirman, “Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR Bukhari).

Fitrah insani pun dapat dimaknai sebagai kemenangan sosial. Kemenangan dalam mengedepankan nilai-nilai kedamaian dan menegasikan nilai-nilai kebencian.

Allah berfirman, “Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa yang berbuat demikian untuk mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.” (QS an-Nisa’: 114).

Idul Fitri di Tengah Pandemi

Sampai detik ini, pandemi masih mendera. Namun, tidak menyurutkan rasa semangat dalam diri kita untuk bersahaja mempererat tali silaturahmi dan ukhwah. Semua dijalani dengan penuh kegembiraan, meskipun dalam beberapa momen dilakukan melalui media digital. Bersuka cita meminta dan memberi maaf karena-Nya sebagai ikhtiar utama dalam menggapai kesucian.

Allah berfirman, “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang bertakwa (133), (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan (134).” (QS Ali Imran: 133-134).

Baca Juga  Esensi Lebaran; Di Balik Tabir Larangan Mudik

Rasulullah SAW menjadikan hari raya Idul Fitri sebagai hari raya yang istimewa. Di dalamnya dipenuhi dengan nilai-nilai kebaikan. Maka, beruntunglahia yang memanfaatkan momentum istimewa ini.

Dari Anas bin Malik RA berkata, Rasulullah SAW datang ke Madinah yang saat itu penduduknya mempunyai dua hari yang mereka gunakan untuk bersenang-senang. Maka nabi bersabda, “Aku datang kepada kalian sedang kalian mempunyai dua hari untuk bersenang-senang, padahal Allah telah menggantinya dengan dua hari yang lebih baik darinya, yakni hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha.” (HR Ahmad).

***

Hari raya Idul Fitri sebagai wahana elite dalam menebarkan nilai-nilai kasih sayang antarsesama. Hendaknya, kebahagiaan yang tersaji pun dapat dirasakan bukan untuk umat Muslim semata, akan tetapi juga untuk umat yang lainnya.

Wallahua’lam.