Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Kemajuan Umat Islam Artificial Intelligence, Nyata Atau Wacana?

artificial
Sumber: freepik.com

Artificial Intelligence (AI) atau dikenal sebagai kecerdasan buatan menjadi pembahasan yang cukup banyak dibicarakan oleh berbagai kalangan, mulai dari ilmuan, akademisi, bahkan masyarakat umum. Ilmuan dan akademisi mungkin tidak akan terlalu jauh pendekatannya terhadap Artificial Intelligence, tetapi mengapa masyarakat umum juga ikut dalam pusaran pembahasan? Hal ini dikarenakan dampak dari Artificial Intelligence sendiri memengaruhi kehidupan masyarakat umum. Sudah bukan rahasia lagi bahwa sektor-sektor yang selama ini manusia jalankan mulai mendapat tantangan besar dengan hadirnya Artificial Intelligence.

Artificial Intelligence sebagai sebuah keniscayaan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini secara tidak langsung mulai bersinggungan dengan hal-hal terkait Islam. Mulai dari peran kaum muslimin dalam dunia kerja/industri yang perlahan tergeser sampai wacana penerapan Artificial Intelligence dalam program ulama/ustadz untuk menjawab persoalan umat. Lantas bagaimana sudut pandang agama Islam terhadap Artificial Intelligence (AI) ini?

Artificial Intelligence dalam Tinjauan Agama

Sampai saat ini belum ada definisi mutlak dari Artificial Intelligence. Selama ini Artificial Intelligence mengacu pada John McCarthy yang mendefinisikannya sebagai sains dan teknik untuk menjadikan mesin yang cerdas/pintar (Zakree, 2015). Kecerdasan buatan berkaitan dengan perkembangan komputer yang dapat terlibat dalam proses berpikir seperti manusia seperti pembelajaran, penalaran, dan koreksi diri.Definisi tersebut juga telah berubah seiring berjalannya waktu, karena perkembangan yang pesat. Definisi yang lebih baru berbicara tentang “meniru kecerdasan perilaku manusia,” yang merupakan definisi yang jauh lebih kuat (Joost, dkk, 2009).

Membicarakan Artificial Intelligence dalam tinjauan Islam artinya secara umum adalah bagaimana sudut padang Islam mengenai ilmu pengetahuan (umum) dan kemajuan teknologi. Apakah ada secara gamblang Al Quran atau hadis menyebut ilmu pengetahuan dan teknologi? Quraish Shihab sebagaimana dikutip dalam Islam dan Ilmu Pengetahuan (Nata, 2018: 49-50) menyatakan bahwa untuk membahas hubungan ayat al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan bukan dengan melihat adakah ayat dalam al-Qur’an yang membahas ilmu pengetahuan seperti teori-teori, tetapi dengan melihat apakah ada ayat-ayat yang menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau sebaliknya serta melihat adakah ayat yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan.

Dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang mengisyaratkan bahwa Islam mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan juga teknologi. Allah Swt berfirman:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ۖ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

Baca Juga  Keteguhan Ulama dalam Menuntut Ilmu

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Q.S Al-Hadid: 25).

Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan penggalan ayat yang membahas besi sebagai alat yang kaya manfaat, mulai dari alat perang sampai zaman modern ini dijadikan teknologi (alat transportasi, komunikasi, dll) yang hal itu mengerucut pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Hamka, Juz 9, 1989: 7192).

Dalam salah satu hadis, dikisahkan bahwa nabi melihat pengelolaan kurma yang berbeda oleh sahabat agar mengahsilkan buah yang bagus. Nabi memberi komentar bahwa jika tidak melakukan hal demikian pun kurma akan tetap bagus, namun kelak ternyata kurma hasil pengelolaan yang umum atau biasa nabi ketahui menghasilkan kurma yang biasa bahkan tergolong jelek. Nabi pun bertanya “Kenapa kurma itu bisa jadi jelek seperti ini? Maka sahabat menjawab “Wahai Rasulullah, Engkau telah berkata kepada kita begini dan begitu…”. Mendengar keterangan yang diberikan oleh sahabat, Nabi pun berkata:

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

Artinya: “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.” (HR. Muslim)

Dari penjelasan tadi, dapat diketahui bahwa pada dasarnya Islam tidak menghalangi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mana dalam ayat 25 surah Al-Hadid membicarakan besi yang kaya akan manfaat dan manusia didorong untuk bisa mengembengkan dan memanfaatkan alat tersebut (besi) untuk kebermanfaatan manusia itu sendiri. Pengakuan nabi mengenai sahabat yang lebih tahu urusan dunia karena mendapati hasil kurma yang lebih baik dengan pengelolaan yang baru atau berbeda juga menunjukan bahwa kreativitas manusia dalam urusan dunia dengan melakukan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat ditekankan dalam agama Islam. Lantas bagaimana apabila pembahasannya spesifik pada Artificial Intelligence sendiri?

Waktu telah membuktikan bahwa hadirnya ilmu pengetahuan serta produk hasil ilmu pengetahuan itu sendiri berupa penemuan-penemuan alat baru (teknologi) pada dasarnya memudahkan pekerjaan manusia. Artificial Intelligence sendiri memiliki perbedaan mendasar dari teknologi-teknologi yang ada sebelumnya. Pada penemuan atau teknologi yang ada sebelumnya, alat (teknologi) dibuat dan dioperasikan langsung oleh manusia. Artificial Intelligence meski dibuat dan dioperasikan (maintenance) oleh manusia tetapi memiliki program yang telah dirancang mirip kecerdasan manusia. Artinya Artificial Intelligence bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang manusia rutin dilakukan tanpa campur tangan manusia dalam proses pengerjaannya.

Baca Juga  Rezekimu Akan Mengejarmu Di Manapun Kamu Berada

Jelas bahwa Artificial Intelligence ini sangat menguntungkan dan bermanfaat bagi umat Islam dengan catatan bahwa umat Islam mampu menguasai dan menggunakan Artificial Intelligence itu sendiri. Bisa dibayangkan bagaimana kelak umat Islam punya basis teknologi kecerdasan buatan untuk memproduksi beranekaragam kebutuhan, mewadahi fasilitas pendidikan umat Islam untuk menyongsong masa depan, peningkatan fasilitas kesehatan umat Islam yang lebih modern, menyiapkan fasilitas dakwah Islam yang memiliki jangkauan manfaat yang lebih luas, dll, yang mana semua itu mengarahkan manfaat dan peluang bagi umat Islam di masa depan dengan adanya Artificial Intelligence. Perlu digarisbawahi sebagaimana diungkapkan di awal paragraf ini, keuntungan dan kebermanfaatan Artificial Intelligence bisa dicapai umat Islam dengan catatan umat Islam mampu menguasai dan menggunakan Artificial Intelligence itu sendiri, mengapa demikian?

Masalah Kompleks dan Pendekatan Solusi

Artificial Intelligence sangat menguntungkan dan bermanfaat bagi umat Islam dengan catatan bahwa umat Islam mampu menguasai dan menggunakan Artificial Intelligence itu sendiri. Nyatanya sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini, umat Islam dilihat dari negara-negara muslim atau bermayoritas penduduk muslim masih dalam status berkembang bahkan mendapat predikat negara gagal. Tentu disini tidak mebahas satu-dua negara muslim yang maju dan kaya semacam Arab Saudi ataupun Dubai, tetapi secara umum kondisi negara yang penduduknya bermayoritas muslim yang tersebar di seluruh benua.

Umum diketahui negara-negara berkembang masih berkutat berjuang melawan beranekaragam masalah yang ada di internal negara. Satu hal yang menjadi perbedaan antara negara maju dan berkembang adalah keterbukaan akan ilmu pengetahuan serta kemajuan teknologi dalam kehidupan masyarakatnya. J.J Solomon dan Francisco R. Sagasti sebagaimana dikutip dalam buku Islam dan Sains: Upaya Pengintegrasian Islam dan Ilmu Pengetahuan di Indonesia,mengungkapkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi berperan dalam peningkatan perekonomian dan kesejahteraan umat manusia, sayangnya hal ini belum bisa disadari oleh banyak negara berkembang bahkan sering dianggap keliru (Dede, 2016: 114).

Inilah masalah yang harus disadari oleh umat Islam ketika harus saling terhubung dengan Artificial Intelligence. Bukan terlarangArtificial Intelligence karena panjang lebar telah dibahas di atas tadi bahwa Islam sangat mendorong umatnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan juga manfaat serta keuntungan yang akan didapat dengan adanya Artificial Intelligence, tetapi lebih apakah saat ini umat Islam sudah siap dengan Artificial Intelligence?

Masa Depan Umat Islam dengan Tekhnologi

Edukasi mengenai pentingnya keterbukaan akan ilmu pengetahuan dan teknologi (secara umum) jauh lebih dibutuhkan saat ini dibanding menerima Artificial Intelligence dalam kehidupan umat Islam saat ini. Sikap konservatif sebagian umat Islam terhadap ilmu pengetahuan umum dan teknologi adalah akar masalah yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Perlahan namun pasti Artificial Intelligence ini sudah mengambil peran yang sebelumnya dilakukan oleh manusia termasuk umat Islam.

Baca Juga  Kenapa Memilih Islam Moderat?

Dua peran yang disebutkan di atas sebelumnya yakni supir yang diambil alih oleh teknologi auto-driver ataupun admin/costumer service yang digantikan oleh chatbot adalah sedikit contoh dari kurang siapnya umat Islam saat ini terhadap Artificial Intelligence. Hasilnya hanya akan memunculkan banyak pengangguran dari kalangan umat Islam yang harus diakui saat ini kebanyakan berada di posisi pekerja. Dengan meningkatnya kesadaran akan keterbukaan ilmu pengetahuan dan teknologi, diharapkan umat Islam meningkat lagi kegiatan literasinya serta memiliki semangat tinggi untuk bisa mengembangkan diri lebih baik di masa yang akan datang, termasuk di dalamnya adalah penguasaan akan Artificial Intelligence.

Dahulu umat Islam berperan besar dengan penemuan-penemuan hebat ini (algoritma, aljabar, robotika, dll) yang bahkan sekarang dipakai di teknologi saat termasuk di dalamnya penerapan programArtificial Intelligence. Tetapi itu dulu, untuk saat ini umat Islam belum bisa berbuat atau mengambil peran yang banyak dalam perkembangan teknologi terlebih soal Artificial Intelligence.

Umat Islam terlalu sering dibuat tidur dengan kebanggaan di masa lalu sampai lupa masa dan zaman telah berbeda. Sudah saatnya umat Islam bangkit dengan sikap terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang tentunya dilandasi oleh ketaqwaan kepada Allah Swt dengan harapan di masa depan Artificial Intelligence bisa dikuasai dan dimanfaatkan oleh seluruh umat Islam agar kemajuan umat Islam menjadi nyata bukan hanya sekedar wacana dan bisa membawa kembali Islam pada masa kejayaan yang mana peradaban tinggi diisi oleh umat Islam. 

Editor: An-Najmi Fikri R