Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Kekuasaan Itu Bergulir: Tafsir Surah Ali ‘Imran Ayat 140

Bergulir
Gambar: https://www.reqnews.com/

Menulis tema ini barangkali akan cukup sensitif. Sebab bisa disangka melakukan ayatisasi atau bahkan yang lebih kejam politisasi ayat atas peristiwa yang terjadi belakangan. Karena itu dalam tema ini tidak akan dibahas satu tokoh atau aktor tertentu. Pesan ini adalah pesan universal, yakni pesan untuk semua. Bahwa kekuasaan itu selalu bergulir dan mengenal batas.

Tuhan lewat firman-Nya yang agung telah mengingatkan umat manusia akan hal ini. Yakni pada QS. Ali Imran: 140. Berikut kita kutipkan ayatnya:

‎إِن یَمۡسَسۡكُمۡ قَرۡحࣱ فَقَدۡ مَسَّ ٱلۡقَوۡمَ قَرۡحࣱ مِّثۡلُهُۥۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَیَّامُ نُدَاوِلُهَا بَیۡنَ ٱلنَّاسِ وَلِیَعۡلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَیَتَّخِذَ مِنكُمۡ شُهَدَاۤءَۗ وَٱللَّهُ لَا یُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِینَ

“Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan Allah mengetahui orang-orang beriman (yang sejati) dan sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Allah tidak menyukai orang-orang zalim.”

Firman ini turun berkaitan dengan umat Islam yang pada Perang Uhud mengalami kekalahan. Pada bagian pertengahannya Tuhan menayangkan firman yang menarik, “Masa (kejayaan dan kehancuran) kami pergilirkan di antara manusia.”

Tafsir Ali Imran Ayat 140

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menafsirkan bagian ini sebagai ujian bagi kaum muslimin dan meminta mereka bersabar serta mengambil pelajaran dari kekalahan yang diperoleh.

‎ نُديل عَلَيْكُمُ الْأَعْدَاءَ تَارَةً، وَإِنْ كَانَتِ الْعَاقِبَةُ لَكُمْ لِمَا لَنَا فِي ذَلِكَ مِنَ الْحِكَمِ

Kami sekali-kali akan menguji kalian dengan musuh-musuh, dan kemenangan akan bersama kalian jika kalian bisa mengambil hikmah (pelajaran) dari peristiwa yang telah terjadi.

Sementara Tafsir al-Mawardhi menafsirkan ayat ini dengan mengutip pernyataan al-Hasan dan Qatadah. Dua ulama itu menyebut ayat ini berisi kaidah hukum alam atau sejarah yang akan berlaku bagi siapapun dan kapanpun.

‎قالَ الحَسَنُ، وقَتادَةُ: أيْ تَكُونُ مَرَّةً لِفِرْقَةٍ، ومَرَّةً عَلَيْها والدُّوَلَةُ: الكَرَّةُ، يُقالُ: أدالَ اللَّهُ فُلانًا مِن فُلانٍ بِأنْ جَعَلَ الكَرَّةَ لَهُ عَلَيْهِ.

al-Hasan dan Qatadah berkata: Giliran itu akan diperuntukkan untuk satu kelompok sekali dan kelompok lain sekali. Dikatakan: Allah memberikan giliran kepada mereka berada di atas dari yang lain.

Audiens atau mitra bicara yang hendak dituju pada ayat ini adalah dua orang: pertama, pihak yang kalah dan berada di bawah dan kedua, pihak yang di menang dan berada di atas.

Baca Juga  Apakah Al-Quran Merupakan Produk Budaya?

Kekuasaan Itu Bergulir

Untuk yang pertama diingatkan agar jangan bermuram durja. Sebab posisi yang hari ini diterima tidak akan selamanya. Asal kita selalu mau belajar dan memetik hikmah dari apa yang telah terjadi. Di antaranya ialah dengan bejalar cara-cara menang dari mereka yang telah memenangkan pertarungan. Jadi ada Al-Qur’an memberikan catatan. Syarat dan ketentuan berlaku. Bahwa kekalahan akan bergulir dan berputar jika pihak yang kalah mau terus belajar.

Sementara untuk yang kedua, diingatkan untuk tidak terlalu berbangga diri dan melampaui batas. Hari ini boleh jadi kita berada di atas angin, tapi soal hari nanti tidak ada yang tahu. Posisi kita akan selalu berputar, bergulir dan dipergilirkan. Apalagi jika mempertontonkan gaya yang pongah dan jumawa. Merasa bahwa semuanya selalu bisa diatasi dan dikendalikan.

Sekali-kali bahwa perasaan yang demikian adalah perasaan yang melenakan. Kita tidak sadar bahwa dengan sikap pongah dan jumawa itu kita tengah memupuk api perlawanan terhadap diri kita sendiri. Bahkan pada posisi ini, orang atau kawan yang semula mendukung kita, bisa jadi berbalik arah menentang dan mengusahakan kejatuhan kita.

Pada kali pertama mungkin kita bisa mengatasi segala bentuk amarah dan perlawanan. Namun jangan lupa, bahwa api amarah dan perlawanan akan terus bertambah dan berlipat ganda. Hingga pada akhirnya kita dibuat kewalahan olehnya dan tersungkur.

Belajar dari Sejarah

Banyak cerita yang telah membuktikan tentang ini. Kisah tentang pemimpin bertangan besi yang “mati” di tangan rakyatnya tidak sedikit. Ada cerita tentang eks Presiden Turki Mustafa Kemal Attaturk, eks Presiden Libya Mu’ammar Khadafi, eks Presiden Irak Saddam Husein, eks Presiden Mesir Husni Mubarak dan beberapa tokoh lainnya.

Baca Juga  Tafsir HAMKA: Mungkinkah Lailatul Qadr Terjadi di Luar Ramadhan?

Terlepas misalnya dari adanya keterlibatan Amerika di balik jatuhnya beberapa nama seperti Saddam dan Khadafi. Akan tetapi keduanya tetaplah pemimpin yang dianggap otoriter dalam memimpin rakyatnya.

Negara kita pun pernah mengalami demikian. Soekarno dan Soeharto adalah contohnya. Siapa yang menyangka pemimpin seberkharisma Soekarno dapat diturunkan oleh rakyatnya sendiri. Sejarah masih mencatat bagaimana ia begitu dielu-elukan pada masa-masa awal menjadi presiden. Begitupun dengan Soeharto. Sang jenderal dengan kekuasaan 32 tahun lamanya.

Tak ada yang mengira kalau ia dapat dijatuhkan dan dilengserkan. Apalagi jika melihat kondisi saat itu. Seluruh instrumen negara dalam genggamannya. Dari TNI, polisi hingga parlemen. Tapi toh nyatanya Soeharto jatuh juga. Ia jatuh oleh ulah dan sikapnya sendiri. Ia merawat amarah rakyat yang kian hari kian muak dengan sikap dan tingkahnya.

Harusnya orang-orang yang hari ini tengah merasa di atas angin belajar dari nama-nama tersebut. Bahwa kekuasaan itu terus bergulir dan mengenal batas. Sikap melampaui batas hanya akan menjadi api yang memakan pelakunya sendiri.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.”

Muhamad Bukhari Muslim
Mahasiswa Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kabid RPK PC IMM Ciputat. Banyak menulis tentang tafsir, isu keislaman aktual dan pemikiran-pemikiran intelektual muslim kontemporer.