Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Kedudukan Wanita Sebelum Islam

Wanita
Sumber: kembangpete.com

Sebelum Islam dan Rasulullah datang, wanita sama sekali tak memiliki nilai di mata manusia. Keberadaannya tak dihiraukan, kelahirannya tak diinginkan. Wanita kerap kali diperlakukan tidak manusiawi. Pembunuhan terhadap bayi wanita yang baru lahir, diperjual-belikan menjadi budak, pemuas nafsu laki-laki selalu menjadi panorama yang biasa.

Hal demikian mencerminkan betapa jahiliyah masyarakat Arab pada masa itu. Hal tersebut akan terus dicatat sejarah sebagai keterbelakangan pemikiran dan kesalahan peradaban dunia. Saat wanita yang dari rahimnya seorang anak laki-laki lahir, laki-laki justru memiliki posisi yang sangat menguntungkan. Berbeda dengan sosok yang melahirkannya dengan susah payah.

Kelahiran mereka seperti membawa berkah yang tiada putusnya, kebanggaan mengisi relung jiwa, dan kemuliaan seperti menghampiri tiba-tiba. Mereka melupa dengan sengaja, bahwa mereka lahir dari rahim seseorang bernama ‘wanita’ yang akhirnya dibunuh, dijual, diperbudak, dikubur, dan kekejian lainnya. Na’udzubillah

Wanita Sebelum Islam

Wanita sebelum Islam dianggap sebagai pembawa sial, yang dinikahi ketika mereka suka, dan akan dicelakakan bila mereka murka. Diperlakukan sesuka hati. Tidak hanya masyarakat Arab yang memperlakukan wanita dengan demikian keji. Peradaban Yunani Kuno, Romawi, dan India pun melakukan hal yang sama. Berikut ulasannya:

Peradaban Yunani Kuno

Jika kita menyisihkan sedikit waktu untuk membaca sejarah, maka kita akan menemukan di dalam buku-buku dan mitologi-mitologi Yunani, bahwa tak jarang dewa-dewa mereka berselingkuh kemudian memiliki anak di luar pernikahan. Dewa-dewa mereka terkenal gemar mesum, hingga muncullah Hercules, Perseus, Theseus, atau Gilgames yang merupakan manusia setengah dewa.

Di dalam Yunani, terdapat dewa tertinggi yang bernama Zeus. Zeus sering melakukan hubungan di luar nikah. Sehingga wajar, jika pada akhirnya hal tersebut menjadi alasan dan inspirasi laki-laki Yunani Kuno untuk melakukan hubungan di luar nikah.

Baca Juga  Tuhan Itu Nyata (1): Gugatan Dawkins Terhadap Tuhan

Masih dalam peradaban Yunani Kuno, pelacuran merupakan hal yang wajar bahkan telah menjadi bagian dari kehiduapan masyarakatnya. Bukan hanya terkenal dengan hubungan di luar nikah, bahkan Yunani Kuno melakukan jual beli terhadap wanita layaknya budak. Lebih mirisnya, wanita hanya memiliki posisi sekedar pemuas nafsu.

Peradaban Romawi

Romawi memiliki landasan hidup yang tidak jauh dari Yunani Kuno. Hanya saja, Romawi lebih sadis, lebih tertata, dan lebih ekspansif ketimbang Yunani Kuno. Dalam pandangan Romawi, ketika wanita mulai tidak disukai, ia boleh dibunuh oleh suaminya. Wanita dianggap hanya sebagai objek seksual yang digunakan untuk melampiaskan nafsu, bukan untuk dikasihi.

Hal tersebut bahkan kita lihat sendiri dari hasi karya seni Yunani-Romawi Kuno. Di mana mereka dengan sangat jelas menganggap bahwa wanita hanya untuk dieksploitasi seksualnya.

Peradaban India

Dalam tradisi Hindu, terkenal suatu kegiatan atau ritual yang diberi nama Sati. Isi dari kegiatan ini adalah aksi membakar diri untuk janda yang ditinggal mati. Ketika suami mereka meninggal dan dibakar, maka sebagai seorang istri mereka harus mengakhiri hdup mereka sebagai bukti loyalitas.

Selain empat peradaban tersebut, sejarah sebenarnya telah mengukir dengan tajam, bahwa hampir semua peradaban yang ada di dunia ini memperlakukan wanita dengan tidak manusiawi. Semakin dibaca dan ditelaah, memang sangat menyedihkan, namun begitulah sejarah mengukir kekejaman dan kebiadaban terhadap wanita.

Wanita Setelah Islam

Hingga akhirnya Islam datang. Islam mengubah sejarah kelam tersebut dengan pencerahan melalui al-Quran, nasihat, dan kritik bagi keterbelakangan berpikir. Islam memberikan harapan hidup bagi wanita, harapan merdeka, hingga menjadi pembela dari kekejaman yang tak kunjung usai dilakukan oleh para penindas.

Allah menegaskan dalam Q.S al Hujurat ayat 13, bahwa laki-laki dan wanita memiliki peranan yang sama dan berasal dari keturunan yang sama. Melalui firman-Nya tersebut, Allah bahkan menyatakan bahwa yang menjamin seseorang hidup mulia bukanlah perkara dia laki-laki atau wanita, bukan hartanya, bukan keturunan, dan bukan pula tahtanya, melainkan ketakwaannya.

Baca Juga  Lebih Utama Mana, Menghafal atau Memahami Al-Qur’an?

Akhirnya, laki-laki bisa saja lebih mulia daripada wanita karena ketakwannya. Begitupun sebaliknya. Wanita bisa saja lebih mulia daripada laki-laki karena ketakwaannya. 

Editor: M. Bukhari Muslim