Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Keberagamaan Qurani Berbasis Eko-Maqasidi

Sumber: https://pdmj.co.id/

Sesungguhnya manusia memiliki ikatan emosional yang kuat dengan lingkungan di mana mereka hidup dan bertempat tinggal. Berbicara manusia, artinya juga berbicara tentang lingkungan hidupnya. Demikian sebaliknya, berbicara lingkungan hidup, berarti berbicara tentang ontologi manusia. Dan ini merupakan konsep yang qurani.

Manusia tanpa lingkungan hidup adalah sebuah abstraksi (Otto Soemarwoto, 2001: 18). Lingkungan hidup, dengan demikian, berada pada posisi sentral dan fundamental bagi kehidupan. Ia menjadi “penentu” bagi keberlangsungan hidup umat manusia di muka bumi.

Sebut saja sebagai tempat tinggal, bercocok-tanam, beranak-pinak, bersujud (baca; beribadah) dan seterusnya dari urusan yang profan hingga urusan-urusan transendental. Meminjam istilah Mujiyono Abdillah (2001: 2), manusia adalah makhluk lingkungan (homo ekologis).

Bertolak dari betapa penting arti lingkungan bagi kehidupan umat manusia, kitab suci Al-Qur’an sebagai sumber fundamental dalam penggalian hukum Islam. Kemudian mempunyai perhatian yang besar terhadap konservasi lingkungan. Perhatian Al-Qur’an itu ditunjukkannya dalam banyak surat dan ayat-nya yang membahas tentang eksistensi lingkungan. Meski penggunaan term berserta derivasinya relatif berbeda-beda.

Terma Lingkungan dalam Al-Qur’an

Dalam linguistik Arab, istilah lingkungan masyhur dikenal dengan al-bi’ah. Yusuf al-Qardawi (2000: 12) memberi pengertian terminologis atas al-bi’ah. Yaitu sebuah lingkungan tempat manusia hidup, bertempat tinggal baik saat bepergian maupun sekedar mengasingkan diri. Serta tempat kembali baik dalam keadaan sadar maupun terpaksa. Lingkungan di sini, bersifat dinamis yang meliputi benda bergerak seperti manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Serta bersifat statis yang meliputi benda “mati” seperti alam semesta, dan bangunan.

Al-Qur’an memperkenalkan istilah lingkungan dengan beragam term; al-alamin, as-sama’, al-ard dan al-bi’ah itu sendiri. Kata al-alamin disebut sebanyak 71 kali dengan spesifikasi, 46 berkonotasi pada seluruh spesies dan sisanya berkonotasi pada manusia (Muhammad Fuad Abdu al-Baqi, 1996: 589-591).

Kemudian kata as-sama’ beserta derivasinya, secara kuantitas, disebutkan sebanyak 387 kali dalam Al-Qur’an. Dengan spesifikasi, 210 dalam bentuk tunggal dan 177 dalam bentuk plural (Muhammad Fuad Abdu al-Baqi, 1996: 445-450). Secara bahasa as-sama’ sendiri memiliki arti langit, jagad raya, ruang angkasa dan ruang waktu (Lisan al-Arab, Jil. VIII: 79).

Baca Juga  Manfaat Tafsir Ilmi bagi Penguatan Pendidikan Keimanan

Adapun kata al-ard disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 485 kali dengan dua varian makna. Pertama, bermakna lingkungan planet bumi yang sudah jadi, dengan konotasi tanah sebagai ruang tempat organisme. Kedua, bermakna lingkungan planet bumi dalam proses penciptaan dan kejadiannya (Muhammad Fuad Abdu al-Baqi, 1996: 33-40).

Terakhir, kata al-bi’ah yang disebutkan sebanyak 18 kali dalam Al-Qur’an. Meski hanya terdapat 6 ayat yang berkonotasi pada lingkungan sebagai ruang bagi kehidupan. Enam ayat tersebut yaitu QS. Ali Imran (2): 21, QS. al-A’raf (7): 74, QS. Yunus (10): 93, QS. Yusuf (12): 56, QS. an-Nahl (16): 41, dan QS. al-Ankabut (29): 58.

Manusia Sebagai Khalifah

Begitu luas makna serta cakupan lingkungan dalam Al-Qur’an. Sehingga tidak saja meliputi lingkungan sebagai ruang hidup tetapi juga meliputi planet bumi, ruang angkasa dan angkasa luar yang kesemuanya berada dalam sistem (ekosistem) yang seimbang. Dalam teori geografi, keseimbangan ekosistem di dalam bumi memiliki hubungan erat dengan ekosistem di luar bumi. Karena itu, manusia yang oleh Allah SWT didaulat sebagai khalifah di muka bumi (QS. (2): 30) mengemban tanggung jawab atas keseimbangan ekosistem.

Sebab, banyak tesis yang menunjukkan bahwa manusia lah yang paling bertanggung jawab atas adanya kerusakan di muka bumi. Pemanfaatan sumber daya alam secara eksploitatif, berdampak serius pada terjadinya bencana-bencana alam di berbagai belahan dunia (M. Hasan Ubaidillah, 2010: 27). Padahal, manusia sebagai khalifah bumi telah diberikan tanggung jawab untuk mengelola alam sekaligus memanfaatkannya guna memenuhi kebutuhan hidupnya, sekedarnya saja.

Krisis ekologis, sebagaimana pandangan seorang filsuf Islam keturunan Persia, Sayyed Hossein Nasr (1976: 14). justru disebabkan oleh krisis spiritual manusia pada era modern ini. Bagi Nasr, adanya berbagai kerusakan yang terjadi akibat kemajuan sains, teknologi, dan ekonomi kapitalis pada dasarnya bertolak dari krisis spiritual. Sains, teknologi dan ekonomi yang merupakan kebutuhan manusia modern seharusnya tidak dipisahkan dari jangkauan spiritual sebagai chek and ballance.

Oleh karena aspek spiritual dan qurani ini dikesampingkan. Sehingga membuat manusia cenderung merasa memperoleh kebebasan dalam mengeksploitasi aset-aset alam tanpa batas, sebagai identitas dari paradigma humanism-antroposentris.

Relasi Manusia dan Alam

Seiring dengan itu, Al-Qur’an sendiri telah memberikan “perhatian” sebagaimana yang termaktub dalam surat ar-Ruum ayat 41. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar”. Terhadap ayat ini, M. Quraish Shihab (2002: 76) mengajukan tafsir bahwa alam raya ini telah diciptakan oleh Allah dalam satu sistem yang sangat serasi dan manusiawi.

Baca Juga  Wawasan Al-Qur'an Tentang Lingkungan Hidup Sesuai Urutan Mushaf

Tetapi manusia justru bertindak destruktif, sehingga terjadi ketidakseimbangan pada sistem kerja alam. Quraish Shihab menekankan bahwa kerusakan-kerusakan di muka bumi sejatinya disebabkan oleh perbuatan manusia yang durhaka. Akibatnya, Allah memberikan balasan kepada sebagian manusia akibat dari perbuatan dan pelanggaran mereka sebagai khalifah, agar mereka kembali pada jalan yang dikehendaki-Nya.

Menyadari hal itu, Ali Yafie (1994: 10-15) mengungkapkan bahwa, terdapat dua doktrin dasar yang merupakan dua kutub di mana manusia hidup di muka bumi. Pertama, rabb al-’alamin. Dalam hal ini, Al-Qur’an telah menegaskan bahwa Allah SWT adalah Tuhan semesta alam. Bukan Tuhan manusia dan sekelompoknya saja, sehingga baik manusia maupun alam adalah sama di hadapan-Nya.

Kedua, rahmatan lil alamin, berarti manusia diberikan amanat untuk mewujudkan segala perilakunya dalam bingkai kasih sayang atas alam semesta. Suri teladan seperti ini terekam jelas dalam ritual-ritual keagamaan. Misalnya, dalam pelaksanaan ibadah haji, seseorang yang berihram tidak boleh mencabut (mematikan) pohon dan membunuh binatang. Sebuah pesan ekologis yang cukup kuat terbaca jelas dalam doktrin keagamaan yang bersifat ritualistik dan qurani.

Konservasi Lingkungan

Tentang konservasi lingkungan berbasis teologis semacam ini perlu diketengahkan seiring ancaman krisis ekologi global. Ada banyak riset yang kemudian berusaha menjadikan maqashid as-syariah (tujuan-tujuan syariat) sebagai pintu masuk untuk mengeksplorasi anasir-anasir syariat terkait dengan konservasi lingkungan.

Ini disebabkan oleh karena konservasi lingkungan sendiri telah banyak disinggung dalam Al-Qur’an. Al-Syathibi (w. 790 H/1388 M), misalnya, dalam al-Muwaafaqat-nya menformulasikan maqashid as-syariah ke dalam lima komponen dasar, dalam terminologi usul fikih masyhur disebut “al-dharuriyyat al-khams”, yaitu; memelihara agama, jiwa, keturunan, harta, dan akal (Al-Sythibi, tt: 5). Proteksi terhadap lima komponen tersebut merupakan cita-cita ideal syariat Islam guna menghadirkan kemaslahatan bagi semesta alam sehingga pemeliharaannya bersifat mutlak.

Baca Juga  Surah An-Ni’am Bukti Manusia Harus Bersyukur

Paradigma Maqashidi untuk Kemaslahatan Lingkungan

Jamak dipahami, paradigma agama Islam adalah rahmatan lil alamin. Di mana ada maslahat, di situlah terdapat syariat (Masdar Farid Mas’udi, 2002). Tetapi jika diperhatikan lebih jauh, teori al-dharuriyyat al-khams al-Syathibi relatif bersifat domestik yang hanya mementingkan keterpeliharaan lima komponen yang, dalam hemat saya, nampak antroposentris, sehingga tidak cukup memadai untuk mendukung secara penuh konservasi lingkungan.

Padahal, keterpeliharaan lima komponen tersebut sulit diwujudkan secara baik tanpa terlebih dahulu melakukan pemeliharaan atas lingkungan (hifz al-bi’ah). Inilah, antara lain, yang menjadi kegelisahan Yusuf al-Qardawi ketika melihat adanya kealpaan konservasi lingkungan dalam rumusan normatif maqashid as-syariah. Al-Qardawi kemudian merumuskan hifz al-bi’ah sebagai sebuah unsur pokok di dalam maqashid as-syariah (Yusuf al-Qardawi, 2001: 53-70). Sehingga, konservasi lingkungan menjadi bagian integral syariat Islam dan qurani, yang sama wajibnya dengan memelihara agama, jiwa, keturunan, harta dan akal.

Pada akhirnya uraian singkat ini menegaskan bahwa keberagamaan (Islam) qurani adalah suatu corak keberislaman yang menjadikan Al-Qur’an sebagai acuan utamanya. Berhubung Al-Qur’an tidak saja menekankan pada relasi vertikal tetapi juga relasi horizontal-yang antara lain berupa pelestarian lingkungan. Maka keberagamaan qurani dalam konteks ini memperjuangkan nilai-nilai ekologis yang dipandangnya merupakan salah satu tujuan diturunkannya syariat Islam (eko-maqasidi). Hari ini hingga masa yang mendatang, tugas seorang muslim (khalifah) adalah merevitalisasi semangat keberagamaannya yang berorientasi pada konservasi lingkungan tempat mereka hidup dan bersujud kepada-Nya. Wallahu a’lam.