Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Keagungan Al-Qur’an: Kitab yang Dapat Menggetarkan Hati

al-quran
Sumber: freepik.com

Al-Qur’an secara ilmu kebahasaan berakar dari kata qaraa yaqrau qurana yang bearti “ bacaan atau yang dibaca”. Al-Qur’an juga berasal dari qara’a, yang bearti menghimpun dan menyatukan. Sedangkan Qira’ah berarti menghimpun huruff-huruf dan kata-kata yang satu dengan yang lainnya dengan susunan yang rapih.Mengenai hal ini Allah berfirman,

Artinya:“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di didadamu) dan  (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (Al-Qiyamah: 17-18)

Secara general al-Qur’an didefinisikan sebagai kitab yang berisi himpunan kalam allah,suatu mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan malaikat Jibril, ditulis dalam mushaf yang kemurniannya senantiasa terpelihara.dan membacanya merupakan amal ibadah. Al-Qur’an juga merupakan pedoman hidup bagi manusia di dunia dan di akhirat.

Al-Qur’an Sebagai Naungan Hidup

Hakikat memahami al-Qur’an ketika manusia mencoba mengupas keagungan al-Qur’an al-Karim, maka ketika itu pulalah manusia harus tunduk mengakui keagungan dan kebesaran Allah swt. Karena dalam al-Qur’an terdapat lautan makna yang tiada batas, lautan keindahan bahasa yang tiada dapat dilukiskan oleh kata-kata, lautan keilmuan yang belum terfikirkan dalam jiwa manusia dan berbagai lautan-lautan lainnya yang tidak terbayangkan oleh indra kita.

Oleh karenannya mereka yang telah dapat berinteraksi dengan al-Qur’an sepenuh hati, dapat merasakan ‘getaran keagungan’ yang tiada terhinngga ,yang dapat menjadikan orientasi dunia sebagai sesuatu yang teramat kecil dan sangat kecil sekali. Sayid Qutub, di dalam muqadimah FI Dzilalil Qur’an nya mengungkapkan:

Hidup di bawah naungan Al-Qur’an merupakan suatu kenikmatan. Kenikmatan yang tiada dapat dirasakan, kecuali hanya oleh mereka yang benarbenar telah merasakannya. Suatu kenikmatan yang mengangkat jiwa, memberikan keberkahan dan mensucikannya…. Dan Al-Hamdulillah… Allah telah memberikan kenikmatan pada diriku untuk hidup di bawah naungan Al- Qur’an beberapa saat dalam perputaran zaman. Di situ aku dapat merasakan sebuah kenikmatan yang benar-benar belum pernah aku rasakan sebelumnya sama sekali dalam hidupku.”

Baca Juga  Tawassul Dalam Perspektif Al-Qur’an Dan Hadis

Keindahan Al-Qur’an

Suatu ketika,Abu jahal, Abu Lahab dan Akhnas bin syariq,yang secara sembunyi-sembunyi mendatangi rumah Rasulullah Saw. Pada malam hari untuk mendengarkan lantunan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca oleh rasulullah saw. Dalam shalatnya mereka bertiga memiliki posisi yang tersendiri, yang tidak diketahui oleh yang lainnya. Hingga ketika rasulullah saw.usai melaksankan shalat,mereka bertiga memergoki satu sama lainnya di jalan.Mereka bertiga saling mencela,dan membuat kesepakatan untuk tidak kembali mendatangi rumah Rasulullah saw.

Namun pada malam berikutnya,ternyata mereka bertiga tidak berkuasa menahan gejolak jiwanya untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat tersebut.Mereka bertiga mengira bahwa yang lainnya tidak akan datang kerumah rasulullah saw.,dan mereka pun menempati posisi mereka masing –masing.Ketika rasulullah saw. Usai melaksanakan shalat,mereka pun memergoki yang lainnya dijalan. Kemudian pada malam berikutnya, gejolak jiwa mereka benar-benar tidak dapat dibendung lagi untuk mendengarkan Al-Qur’an,dan mereka pun menempati posisi sebagaimana hari sebelumnya.

Dan manakala Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat mereka bertiga kembali memergoki yang lainnya. Akhirnya mereka bertiga membuat ‘mu’ahadah’ (perjanjian) untuk sama-sama tidak kembali ke rumah Rasulullah Saw guna mendengarkan Al-Quran. Masing-masing mereka mengakui keindahan al-Qur’an namun hawa nafsu mereka memungkiri kenabian Muhammad saw.

Selain itu terdapat juga ayat yang mengungkapkan keagungan dan keindahan al-Qur’an. Allah Swt mengatakan,

لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗوَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ – ٢١

Artinya: “Kalau sekiranya  Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.”( Al-Hasyr’:21)

Editor: An-Najmi Fikri R

Risna Dewi
Mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam UM Bengkulu