Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Kata Istawa dalam Q.S Thaha Ayat 5 Perspektif Semiotika De Saussure

Dalam mempelajari ‘ulum al-Qur’an, tentunya kita mengenal ayat yang beragam macamnya, terutama ayat mutasyabihat. Imam as-Suyuti dalam karangannya al-Itqan menjelaskan bahwa mutasyabihat adalah ayat yang maknanya tidak jelas, dan untuk memastikan pengertiannya tidak ditemukan dalil yang kuat. Hal yang termaktub tentang ayat mutasyabihat, salah satunya ayat tentang istawa. Di mana, ayat tersebut merupakan ayat yang menyebutkan perbuatan Allah, yaitu mengesakan adanya keserupaan antara Allah dan makhluknya. Seperti halnya dalam QS. Thaha ayat 5, yang berbunyi:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Artinya: (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy (QS. Thaha: 5).

Memahami makna ayat Al-Qur’an memang butuh metode penafsiran. Tentu saja tidak ada salahnya kalau memahaminya berdasarkan perspektif semiotika Ferdinand de Saussure.

Semiotika Ferdinand de Saussure

Ferdinand de Saussure adalah seorang ahli linguistik yang dilahirkan di Jenewa tahun 1857. Bahkan, oleh kalangan linguis dunia, beliau dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern. Baginya, bahasa merupakan suatu sistem tanda dan merancang sebuah konsep yang sangat canggih tentang ilmu bahasa beserta aspek terapannya.

Saussure juga menyadari bahwa sistem tanda yang disebut bahasa, hanyalah salah satu di antara sistem tanda lainnya dalam kehidupan manusia. Dalam satu kalimat, beliau mengungkapkan gagasan bahwa pada suatu saat harus ada sebuah teori tentang tanda yang mencakup semua sistem dan mengusulkan atas sebutan terhadap teorinya dengan “Semiologi”.

Semiologi maupun semiotika, tidak ada yang membedakan di antara keduanya, yaitu sama-sama mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda mempunyai arti. Maka dari itu, Saussure memperkenalkan lima distingsi yang harus dipahami, yaitu:

  • Penanda dan Petanda

Penanda adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna (aspek material) yakni apa yang dikatakan dan apa yang ditulis atau dibaca. Sedangkan penanda, adalah gambaran mental, yakni pikiran atau konsep aspek mental dari bahasa.  

  • Wadah dan Isi
Baca Juga  Telaah Ayat Sungai dengan Pendekatan Semiotika Ferdinand de Sausure

Istilah Wadah dan Isi ini, diibaratkan dengan expression dan content. Dengan maksud bahwa satu berwujud bunyi sedangkan yang lain berwujud idea.

  • Langue dan Parole

Langue adalah hasil pemikiran bersama yang dapat bersifat kolektif karena berada di luar jangkauan individu untuk mengubahnya. Sedangkan parole adalah ucapan bahasa individu melalui kombinasi penggunaan konsep atau suara yang mewakili mereka.

  • Sinkronis dan Diakronis

Sinkronis adalah kata atau makna yang tidak bisa diubah. Sedangkan diakronis, adalah makna yang dapat berubah dikarenakan faktor historis.

  • Sintagmatik dan Paradigmatik

Sintagmatik adalah hubungan antar rantai ujaran yang ada dan yang nyata, serta memiliki hubungan antar unsur yang terdapat dalam suatu tuturan yang tersusun secara berurutan. Sedangkan paradigmatik adalah hubungan antara unsur-unsur bahasa dalam keseluruhan sistem bahasa yang saling menggantikan.

Semiotika Kata Istawa dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan wahyu Allah Swt, petunjuk dalam bahasa simbol yang berisikan pesan-pesan yang sifatnya menyeluruh dan mutlak kebenarannya. Hal ini, sama sekali tak terlepas dari rangkaian huruf-huruf Arab beserta susunan dalam sebuah kata dan kalimat. Sedangkan semiotika yang mengkaji Al-Qur’an, orientasinya lebih menitik beratkan pada cara kerja dan fungsi tanda yang di kandung dalam Al-Qur’an.

Salah satu objek kajian yang menarik adalah tentang kata istawa. Di mana, dalam Al-Qur’an selalu dijelaskan bahwa kata istawa mengandung makna bertempat atau bersemayam, terlebih lagi disandingkan kepada Allah. Konsep semiotika Ferdinand de Saussure bisa menjadi perspektif yang cocok dalam menafsirkan makna dari hal tersebut, dengan metode signifier dan signified. Sehingga, nantinya bisa menyingkap makna istawa yang sebenarnya.  

Di dalam Al-Qur’an, kata istawa yang berkaitan dengan sifat Allah muncul sebanyak 9 kali. Salah satunya dalam QS. Thaha ayat 5 yang berbunyi:

Baca Juga  Urgensi Mempelajari Kaidah Tafsir Menurut M. Quraish Shihab

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Artinya: (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy (QS. Thaha: 5).

  • Signifier Istawa

Kata istawa memiliki makna yang berarti bertempat atau menetap (at-Tamakkun wa al-Istiqrar), contoh makna ini, tertera dalam firman Allah tentang perahu Nabi Nuh “Wastawat ‘Ala al-Judiy” (QS. Hud: 44) yang artinya bahwa perahu telah berlabuh atau bertempat dan menetap di atas gunung al-Judiy.

  • Signified Istawa

Para ulama’ sepakat bahwa dalam memahami ayat mutasyabihat, harus dipahami dengan cara metode takwil. Maka, termasuk dalam memahami makna kata istawa, kata tersebut harus dipahami dengan cara metode takwil. Artinya, tidak boleh dipahami dalam makna dzahirnya yang seakan-akan bertempat atau bersemayam yang sebagaiman tidak menunjukkan kesesuaian bagi keagungan Allah Swt.

Hal ini, juga berlaku pula istawa tidak boleh dipahami sebagai makna bahwa Allah Swt menempel pada Arsy, walaupun memang diartikan menempel tanpa dengan sifat duduk. Karena sifat menempel (al-Ittishal) dan terpisah (al-Infishal) adalah termasuk sifat-sifat benda.

Al-Imam al-Hafizh Muhammad Murtadla az-Zabidi al-Husaini dalam kitab Ithaf as-Sadab al-Muttaqin meriwayatkan dengan sanad yang seluruh perawinya dari keturunan Rasulluah hingga bersambung kepada as-Sayyid al-Imam as-Sajjad Ali ibn al-Husain ibn Ali ibn Abi Thalib atau dikenal dengan Ali Zain al-Abidin, bahwa Ali ibn al-Husain dalam risalahnya dengan sebutan ash-Shahifah as-Sajjadiyyah berkata: “Maha Suci Engkau ya Allah, Engkau tidak diliputi oleh tempat”. Beliau juga berkata: “Maha Suci Engkau ya Allah, Engkau tidak dibatasi oleh apapun, dan Engkau bukan benda”.

Makna Istawa

Dari penjelasan yang tertera, dapat disimpulkan bahwa kata istawa dalam QS. Thaha: 5 tidak boleh dijadikan dalil untuk menetapkan bahwa Allah Swt bertempat dan bersemayam di atas Arsy. Dengan demikian, pentakwilan istawla dengan makna yang sesuai bagi keagungan Allah di antara makna-makna istawa adalah makna istawla atau qahara, yang berarti menguasai.

Baca Juga  Mengenal 5 Kaidah Menafsirkan Al-Qur'an Al-Sa’di

Mensifati Allah dengan istawa atau qahara adalah sesuai dengan keagungannya, karena salah satu nama Allah sendiri adalah al-Qahhar yang berarti maha menguasai. Dalam banyak ayat Al-Qur’an, Allah telah memuji dirinya dirinya sendiri dengan menamakan dirinya sebagai al-Qahhar.

Dari keterangan di atas, dapat diketahui bahwa menerangkan makna kata istawa dalam bahasa Arab adalah bertempat yang kedudukannya tinggi. Dengan demikian, makna ini tidak membawa adanya penyandangan diri terhadap sifat Allah, maka secara signified, ulama’ telah sepakat supaya ditakwilkan dengan makna islawla atau qahara.

Editor: An-Najmi Fikri R