Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Kajian Al-Dakhil dalam Tafsir Al-Jilani: Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir

Sumber: http://www.hajij.com/

Kajian Al-Dakhil dalam penafsiran Al-Quran disebabkan dua faktor. Pertama, ketika Rasulullah berdakwah kepada para ahli kitab bangsa Yahudi seperti Bani Quinuqa’, Bani Nadir, dan Bani Quraizah, dari sinilah kemudian menjadi penyebab masuknya dakhil ke dalam suatu penafsiran. Karenanya, di dalam suatu pertemuan tersebut terjadi interaksi antara Nabi Muhammad serta para sahabat dengan ahli kitab.

Kedua, masuknya para kaum Yahudi keagama Islam yang mana mereka meriwayatkan hadis palsu, maupun riwayat-riwayat yang belum jelas dasarnya dan sanadnya, serta penjelasan global tentang kisah-kisah yang terdapat pada Al-Quran. Dari situlah menjadikan penyebab masuknya al-dakhil dalam penafsiran Al-Quran.

Adapun di dalam artikel ini, yakni mengambil kitab Tafsir al-Jilani yang mana merupakan kitab tafsir dengan penggunaan bentuk al-Iqtirani, yaitu perpaduan antara Tafsir bi al-Matsur dan Tafsir bi al-Ra’yi. Syekh Abdul Qodir al-Jailani memadukan antara riwayat yang kuat dan shahih, dengan hasil ra’yi. Berikut artikel ini akan menjelaskan tentang al-dakhil dalam tafsir Al-Jilani surat Al-Kahfi ayat 60 sampai 70 yang dimana akan menjelaskan tentang kisah Nabi Musa dan Nabi Khaidir dengan mengetahui bentuk al-dakhil dalam penafsirannya.

Al-Dakhil dalam Tafsir Al-Jilani Surat Al-Kahfi Ayat 60 sampai 70

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam tafsir Al-Jilani hanya sedikit ditemukan al-dakhil baik dari segi hadis dhaif, maudhu’, ataupun israilliyat. Tidak hanya itu, namun dibuktikan dengan adanya hadis shahih yang terdapat pada kitab Shahih Bukhari  pada nomor 4725, 4726, dan 4727, dan kitab Ahadist al-Anbiya’ pada bab  Nabi Khidir kepada Nabi Musa  nomor 3400 dan 3401. Sehingga tafsir dalam ayat tersebut termasuk katagori dari Ashil (penafsiran yang sudah valid dan otentik sumber dasarnya. Kisah tersebut termasuk Ashil lebih jelasnya kisah tersebut juga dijelaskan dalam kitab Shahih Bukhari.

وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبا ٦٠

Dan Ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai kepertemuan dua buah lautan: atau aku akan  sampai bertahun-tahun”.

Dalam tafsir Al-Jilani dijelaskan bahwasanya pada ayat ini diceritakan tentang Musa yang berkata kepada Yusya’ bin Nun (Khodimnya Nabi Musa); bahwa ia tidak akan berhenti berjalan hingga sampai pada pertemuan dua laut yang terletak di Romawi dan Persia disisi Timur.

Baca Juga  Tahap Penelitian dengan Kajian Semantik Toshihiko Izutsu

Berdasarkan kitab-kitab tafsir yang lain seperti tafsir Jalalain dan Baidhawi tidak ada redaksi atau penjelasan yang berbeda semuanya sama. Begitu juga dengan sumber yang valid lain seperti Shahih Bukhari yang berstatus shahih pada hadis nomer 4725, 4726, dan 4727. Di mana hadis tersebut juga sama dari segi penjelasan di dalamnya. Sehingga dalam tafsir Al-Jilani pada ayat ini termasuk katagori  Al-Ashil atau tafsir yang memiliki sumber dan dasar yang valid dan jelas.

***

Adapun ayat berikutnya yakni:

Maka tatkala mereka sampai kepertemuan dua laut itu, mereka akan lalai ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu (al-Kahfi: 61)

Dalam Tafsir Al-Jilani ketika Nabi Musa dan Yusa’ sudah sampai tujuan yakni di pertemuan dua laut itu. Keduanya lupa dengan ikan bawaannya disaat perjalanan. Nabi Musa pun juga lupa untuk mengingatkan Yusa’, kemudian ikan yang mereka bawa tersebut melompat mengambil jalannya ke laut. Di mana ikan tersebut mengambil jalannya karena Allah telah membuatkan jalan untuk ikan itu. Kata سَرَبٗا berarti sebagai lubang panjang yang tidak bisa tembus. Hal semacam ini bisa terjadi karena Allah telah menahan arus aliran air untuk ikan tersebut. Kemudian ikan tersebut masuk kedalamnya dengan meninggalkan bekas seperti lubang, yang tak bisa tembus karena sudah membeku.

Dijelaskan dalam hadis Shahih Bukhari nomor 4276, bahwasannya ketika mereka berada dibayang-bayang batu besar ditempat air yang mengalir. Disaat itulah ikan yang berada dikeranjang itu  melompat-lompat, sedangkan Nabi Musa tertidur. Maka muridnya berkata: “Aku tidak akan membangunkannya sampai ia terbangun sendiri”. Akan tetapi muridnya lupa untuk memberitahukan pada Nabi Musa kalau ikannya melompat dari keranjang dan terjebur ke laut. Namun Allah menahan laju air tersebut sehinggan membentuk bekas laju ikan itu. Lalu ia melingkarkan kedua ibu jarinya dan dua jari lainnya hingga terbentuk seperti lubang.

Baca Juga  Analisis Semiotika Q.S Al-Ahzab Ayat 59 Perspektif Michael Halliday

***

Bisa disimpulkan bahwa tafsir pada ayat di atas, dikatagorikan Ashil yang mana penafsirannya yang masih otenteik. Dalam arti penjelasan yang valid dengan didukung dari sumber hadis yang shahih dan tidak ada sisipan yang menyimpang. Kemudian dalam ayat lainnya disebutkan:

Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita: Sesungguhnya kita sudah merasa lelah karean perjalanan kita ini” (al-Kahfi: 62)

Tafsir ayat ini ketika Nabi Musa dan Yusa’ sudah melewati dua laut itu, hingga tiba waktu makan siang pada hari esoknya. Karena saking laparnya dan letihnya Musa meminta Yusya’ untuk membawa makanan yang telah mereka bawa saat perjalanan untuk dimakan bersama. Berdasarkan hadis Shahih Bukhari nomor 4725 dengan redaksi: “Bawalah makanan kita kemari! Sesungguhnya kita merasa letih dan lapar karena perjalanan kita saat ini. Selanjutnya Rasulullah bersabda, “Belum berapa jauh Musa melewati tempat yang diperintahkan untuk dicarinya”.

Dari uaraian di atas, bisa disimpulkan pada penafsiran ayat ini tidak ditemukan dakhil atau penafsiran yang menyimpang dengan melihat sumber hadis yang shahih sehingga penasfiran ayat ini katagori Al-Ashil.

Selain itu, dari penafsiran al-Jilani terhadap kisah Nabi Musa dan Khidir A.S adalah sebagai berikut:

Musa berkata kepada Khidir:” Bolehkan aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (al-Kahfi: 66).

***

Dalam penafsirannya bahwasanya Nabi Musa meminta Nabi Khidhir untuk mengajarinya tentang ilmu-ilmu yang tidak dimiliki oleh Nabi Musa sendiri, seperti ilmu tentang sesuatu hal yang ghaib dan hakikat dengan apa yang telah dimiliki oleh Nabi Khidhir, dengan argumentasi bahwa menambah ilmu itu sangat dianjurkan dalam Islam untuk mencari petunjuk dan tuntunan.

Baca Juga  Mengenal Sederet Mukjizat Nabi Musa

Orang tua itu berkata: “Wahai Musa aku memiliki ilmu dari Allah yang sudah diajarkan kepadaku yang kamu tidak mengetahuinya dan begitu juga kamu memiliki ilmu yang tidak ku miliki”. Musa berkata:” Bolehkah aku mengikutimu?” Dia menajawab:” Kamu tidak akan sabar mengikuti aku. Dan bagaimana kamu yang belum memeiliki pengetahuan yang cukup tentang hall itu”.

Kalau melihat penafsiran Al-Jilani dalam ayat tesebut tak ada dakhil di dalamnya dengan rujukan hadis Shahih Bukhari, maka kemudian ini dikatagorikan sebagai Al-Ashil. Ayat lainnya yaitu:

Dia menjawab:” Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar dan tak akan sanggup bersamaku (al-Kahfi : 67).

***

Dalam penafsiran Al-Jilani ini bahwasanya Nabi Khidir memberi tahu kepada Nabi Musa bahwa Nabi Musa tak akan mampu dan sanggup bersamaku. Dikarenakan perbeedaan pengetahuan yang dimiliki sangatlah berbeda. Kalau Nabi Musa hanya sebatas pengetahuan syariat yang temaktub dalam kitab nya Taurat. Sedangkan Nabi Khidir beliau sudah melebihi itu yakni dengan pengetahuan hakikat; yang mana pengetahuan semacam ini penuh dengan suatu yang samar dan sulit untuk dimengerti. Adapun uraian diatas atau ayat diatas temasuk katagori Al-Ashil karena  memang sudah masyhur dikalangan mufassir juga sama.

Dia berkata:” jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri yang menjelaskannya (al-Kahfi: 70).

Dalam penafsirannya bahwa Nabi Khidhir memberikan syarat kepada Nabi Musa yang mana syarat tersebut adalah larangan bertanya sesuatu apapun yang ditemui dan yang dilakukan oleh Nabi Khidhir sampai Nabi Khidhir menjelaskannya sendiri. Nabi Musa pun menerima syarat itu sebagai bentuk ta’dhimnya seorang murid kepada guru.

Penafsiran ayat ini juga menyesuaikan hadis shahih yang ada seperti Shahih Bukhari nomor 4725 sampai 4727. Jelaslah dalam penafsiran ayat ini tak dijumpai dakhil, maka penafsiran ini masih tekatagori Ashil. 

Editor: An-Najmi