Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Kaidah Tafsir: Makna Huruf مِنْ yang Terletak Sebelum Mendahuluinya

kaidah
Sumber: https://mahadumar.id/

Huruf مِنْ adalah salah satu kata depan yang ada dalam kaidah tafsir. Kata depan adalah semua kata yang dapat membantu menunjukkan benda atau kegiatan dalam keterangan waktu dan tempat. Dalam hal ini, kata depan dikatakan mirip dengan kata keterangan, seperti di atas, di depan, dan di bawah. Dilihat dari segi maknanya dalam kaidah tafsir, kata tersebut merujuk pada huruf jar seperti مِنْ  yang berarti “dari”, إِلىَ “ke-”, عَنْ “dari”,  عَلىَ “di atas”, dan فِي “di dalam”. Dalam kaidah tafsir, kata depan diartikan sebagai huruf jar. Dalam kaidah tafsir, terdapat satu kaidah yang menyinggung tentang makna huruf مِنْ yang terletak sebelum mubtada’, fa’il dan maf’ul bih.

Kaidah Tafsir Huruf مِنْ

Dalam kaidah tafsir, terdapat satu qaidah yang berbunyi:

“اذا جاءت “من” قبل المبتداء أو الفاعل أو المفعول فهي لتأكيد النفي و زيادة التنكير و التنصيص في العموم”

“مِنْ yang ditempatkan sebelum mubtada’, fa’il, atau maf’ul berfungsi untuk menekankan penegasian, menambah penyangkalan, atau menyatakan keumuman”

Berdasarkan kaidah di atas, dapat disimpulkan bahwa huruf مِنْ yang terletak sebelum mubtada’, fa’il dan maf’ul bih berfungsi sebagai penegasian (penolakan), menambah penyangkalan, dan menyatakan keumuman.

Mubtada’ adalah kata yang berkedudukan sebagai pokok dalam kalimat, sedangkan kata pelengkapnya adalah khabar yang berkedudukan sebagai prediket. Secara umum, mubtada’ selalu terletak di depan khabar, begitupun sebaliknya. Akan tetapi, dalam hal tertentu, susunan mubtada’ dan khabar dapat dibalik. Dalam susunannya yang normal, mubtada’ jarang dimasuki oleh kata depan (huruf jar), seperti مِنْ. fa’il adalah isim yang mutlak dirofa’kan oleh fi’ilnya.

Dalam bahasa Indonesia, fa’il sering disebut sebagai pelaku atau subjek dari suatu perbuatan. Sedangkan dalam bahasa Arab, Fa’il biasanya terletak setelah Fi’il dan sebelum maf’ul yang nantinya membentuk jumlah fi’liyah. Maf’ul adalah kata yang berkedudukan sebagai objek penderita yang pada umumnya selalu diletakkan sesudah fi’il. Maf’ul dari sebuah kata kerja transitif dapat langsung dijadikan sebagai objek tanpa perantara huruf jarr, seperti مِنْ, إِلىَ, عَنْ, عَلىَ.

Baca Juga  Israiliyat: Contoh dan Cara Menyikapinya

Cara Kerja Kaidah Huruf مِنْ

  1. Mubtada yang didahului oleh  مِنْ. Contoh terdapat dalam QS. Al-An’am/ 6: 38 yang berbunyi:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ وَلا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

Artinya: “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan“.

ما dalam ayat tersebut adalah ما nafiyah yang bermakna tidak ada.  Lafal دَابَّةٍyang terdapat sesudahnya merupakan mubtada’. Pada dasarnya, ayat ini berbunyi وما دابة في الأرض. Akan tetapi, di dalamnya terdapat من yang diletakkan sebelum دابة sebagai mubtada’. Penggunaan kata مِنْ sebelum mubtada’ ini bertujuan untuk menegasikan (nafy) dalam ayat tersebut.

2. Fa’il yang didahului oleh مِنْ.

Sebagaimana yang terdapat dalam QS al-Maidah/5: 19 yang berbunyi:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَى فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنْ بَشِيرٍ وَلا نَذِيرٍ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu“.

Kata yang menjadi fokus dari ayat tersebut ialah lafal بشير  dan نذير. Keduanya berkedudukan sebagai fail dari kata kerja جاءنا. Susunan yang sebenarnya dari ayat ini ialah ما جاءنا بشير ولا نذير. مِنْ yang terdapat sebelum lafal بشير  itu menegaskan makna ما nafy yang terdapat sebelumnya. Ayat yang dimasuki huruf مِنْ menegaskan bahwa sesungguhnya tidak ada satupun pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan datang kepada mereka.

Baca Juga  Kaidah Mutarādif: Makna Lafadz Mathar dan Ghaits dalam Al-Qur'an

3. Maf’ul bih yang didahului oleh مِنْ.

Hal ini sebagaimana terdapat dalam contoh QS Maryam/19: 98 yang berbunyi:

وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْنٍ هَلْ تُحِسُّ مِنْهُمْ مِنْ أَحَدٍ أَوْ تَسْمَعُ لَهُمْ رِكْزًا

Artinya: “Dan berapa banyak telah Kami binasakan umat-umat sebelum mereka. Adakah kamu melihat seorang pun dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar?

Kata yang menjadi pembahasan dalam ayat ini adalah أحد yang terletak sesudah من . أحد dalam ayat ini seharusnya dinashab sehingga berbunyi أَحَداً karena ia berkedudukan sebagai maf’ul bih. Ia menjadi majrur karena didahului oleh huruf من. Penambahan من dalam ayat ini pada hakikatnya untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya kalian pada hakikatnya tidak akan pernah melihat seorang pun dari mereka atau kamu mendengar suara mereka.

Editor: An-Najmi

Ma'rifatul Ainiyah
Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains Lamongan. Hobinya membaca dan traveling