Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Jurusan IAT bukan Jalan untuk menjadi Nabi: Refleksi QS. Al-Isra’[7]: 84

jurusan IAT

Kuliah dengan mengambil jurusan IAT (Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir) menjadi jalan yang jarang sekali dilewati. Bahkan menjadi opsi terakhir yang dilakukan oleh para hunter (baca: pegiat) PTKIN dan PTS di Indonesia. Meskipun demikian, konsentrasi ini terkesan menjadi destinasi favorit dalam beberapa tahun terakhir. Sebut saja di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (PTKIN terbaik Indonesia). Pada tahun 2021 yang lalu menempati peringkat pertama yang paling diminati secara nasional; pada proses penerimaan mahasiswa baru dengan prodi nilai rata-rata diterima tertinggi (keagamaan) jatuh pada kontrentrasi IAT. Kasus lainnya, Institut PTIQ Jakarta juga menerima jumlah mahasiswa yang tidak sedikit pada periode 2021/2022 dengan 934 peminat.

Jurusan IAT di PTKIN Indonesia

Berdasarkan data tersebut, menunjukkan bahwa jurusan ini tampaknya telah mencapai klimaksnya sebagai jurusan yang “mulai dilirik” oleh hunter PTKIN dan PTS di Indonesia. Apalagi, peminat pada jurusan ini bukan hanya berlatarbelakang dari tamatan Madrasah Aliyah Negeri-Swasta dan pesantren, tetapi juga dari tamatan SMA atau bahkan SMK yang jauh sekali dengan rumpun keilmuan berbasis pada IAT. Bagaimana tidak, jurusan ini banyak sekali mendiskusikan berbagai persoalan keagamaan yang cukup rumit dalam berbagai ranah seperti teologis, perbincangan diskursus Al-Qur’an, pemikiran Islam, dan masih banyak lainnya.

Pada satu sisi, jurusan IAT patut disyukuri karena ia bukan lagi bagaikan “rumah hantu” yang sepi akan peminatnya. Di sisi lainnya, jurusan ini mendiskusikan belbagai diksursus keilmuan yang tidak semua mahasiswa mampu melaluinya. Persoalannya bukan jatuh pada proses pembejalaran di bangku perkuliahannya, tetapi jurusan ini diasumsikan oleh masyarakat luas bahwa aktivitas mahasiswa hingga menjadi sarjana tidak lain dan tidak bukan hanya menghafal Al-Qur’an sebagaimana di pesantren yang secara konsen mencetak para hafidzh dan hafidzah Al-Qur’an. Sehingga,implikasinya para sarjana di tuntut harus hafal Al-Qur’an, memiliki suara bagus, bisa ceramah, bahkan tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa sarjana IAT dituntut menjadi insan kamil yakni nabi utusan Tuhan.

Baca Juga  Tiga Aspek I’jāz Al-Qur’an Menurut Quraish Shihab

Sarjana IAT dan Pandangan Masyarakat

Pemahaman yang sedemikian rupa merupakan missunderstanding yang perlu adanya usaha untuk diluruskan agar ekspektasi dan presure terhadap sarjana IAT tidak dilakukan berkepanjangan dan tidak berkesudahan. Lebih penting daripada itu, eksistensi mereka para sarjana IAT perlu diberdayakan sebagaimana keahliannya selama mengenyam di bangku perkuliahan. Menurut hemat penulis, keragaman ahli yang lahir dari para sarjana IAT harus menjadi maklumat dalam penetapan profesi dan kegiatan mereka di masyarakat. Keahlian masing-masing individu tidak bisa disetarakan secara general bahwa sarjana IAT ialah superhero yang telah hafal, khatam Al-Qur’an, memiliki suara indah nan merdu, mampu ceramah dan lain-lainnya. Syair Arab atau Mahfudzat berbunyi:

لا تحتقر من دونك فلكل شيء مزية

Artinya: janganlah kamu menghina orang lain, karena segala sesuatu itu memiliki kelebihan.

Menjawab kegelisahan-kegelisahan yang dihadapi oleh para sarjana IAT di masyarakat sejatinya telah tergambarkan pada QS. Al-Isra’[7]: 84 yang berbunyi:

قُلْ كُلٌّ يَّعْمَلُ عَلٰى شَاكِلَتِهٖۗ فَرَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ اَهْدٰى سَبِيْلًا

Artinya: Katakanlah (Muhammad), “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.

Ayat ini sejatinya membicarakan tentang kegeraman nabi Muhammad atas perilaku orang-orang kafir quraisy terhadap kejatahan dan pertikaian. Namun, ide moral yang terkandung di dalam ayat ini bahwa setiap individu tidak bisa dipaksakan untuk melakukan berbagai hal dengan otoditak, artinya ia memiliki keterbatasan yang kerap dilakukan oleh pihak lainnya.

Refleksi Ayat

Setiap orang memiliki peran yang unik dan berbeda dalam kehidupan. Ini dapat dilihat dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pekerjaan, keluarga, dan masyarakat. Dalam lingkungan kerja, setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda, seperti manajer, pegawai, atau pekerja. Manajer memiliki tanggung jawab untuk mengelola dan mengarahkan perusahaan, sementara pegawai dan pekerja memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan tugas-tugas yang ditentukan.

Baca Juga  5 Tips Menjaga Kesehatan Mental Menurut Perspektif Islam

Dalam lingkungan keluarga, setiap orang juga memiliki peran yang berbeda. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memberi pendidikan kepada anak-anak; sementara anak-anak memiliki tanggung jawab untuk belajar dan menjadi anggota keluarga yang baik.

Dalam masyarakat, setiap orang memiliki peran yang berbeda, seperti politisi, pejabat, atau warga sipil. Politisi memiliki tanggung jawab untuk membuat dan mengimplementasikan undang-undang. Sementara pejabat memiliki tanggung jawab untuk menjalankan pemerintahan dan melayani warga negara. Dan warga sipil memiliki tanggung jawab untuk mematuhi undang-undang dan ikut serta dalam proses demokrasi.

Secara umum, setiap orang memiliki peran yang unik dan penting dalam kehidupan. Dalam bekerja sama dengan orang lain, kita dapat mencapai kesejahteraan dan kemajuan bersama. Di akhir dari pada artikel ini, saya ingin mengutip tagline Albert Einstein yang mengatakan bahwa “Semua orang itu jenius. Tetapi jika anda menilai ikan kemampuannya untuk memanjat pohon, percayalah itu adalah bodoh”. Artinya, ikan sejatinya hanya mampu lihai berenang di air. Dan ia tidak akan pernah bisa sampai kapanpun memanjat pohon ketika melihat monyet dengan lihainya memanjat pohon dari satu titik ke titik lainnya.

Wallahu A’lam.

M. Riyan Hidayat
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Bisa dihubungi melalui: Twitter: @ayasriyan, Instagram: @ayasriyan