Tanwir.ID Kanal Tafsir Berkemajuan

I’rab al-Qur’an: Instrumen Penting dalam Makna Ayat

i'rab al-qur'an
sumber: unsplash.com

Penafsiran al-Qur’an, salah satunya didukung oleh kemampuan ilmu bahasa Arab. Seorang yang fokus pada kajian al-Qur’an, bahkan mufassir  hendaknya memiliki kecakapan dalam bahasa Arab dengan berbagai instrumen ilmu di dalamnya, seperti nahwu (gramatika), sharaf (morfologis), dan ilmu lainnya.  Dalam kaitan ini, para pakar ilmu al-Qur’an mengembangkan salah satu komponen ilmu bahasa dalam penafsiran al-Qur’an, yang disebut dengan i’rab al-Qur’an. Ilmu ini penting diketahui, karena redaksi al-Qur’an memiliki struktur, susunan, dan kaitan satu teks dengan teks lainnya. Paparan redaksi tersebut dapat diketahui secara meluas dan mendalam pada instrumen ilmu i’rab al-Qur’an.

I’rab al-Qur’an

Kata i’rab dapat diartikan perubahan tanda baca pada sebuah teks. Imam al-Shanhaji atau yang dikenal dengan Ibn al-Ajurumi, mendefinisikan i’rab sebagai perubahan akhir kata karena perbedaan fungsi kalimat yang terdapat pada teks tersebut. Pengertian ini disinggung pula oleh al-Imrithi dalam nazhm al-Ajurumiyah, dengan pendapat yang relatif sama dengan al-Shanhaji. I’rab dalam pandangan al-Imrithi bermakna perubahan (tanda baca/bunyi) akhir kata baik tampak maupun tidak tampak tanda bacanya (taqdir aw lafzh). Perubahan ini karena perbedaan fungsi kalimat yang menyertainya.

Al-Qur’an turun berbahasa Arab. Struktur dan kaitan antara teksnya memiliki pola tertentu yang dapat dipahami melalui gramatika bahasa. Ilmu nahwu yang membahas tentang i’rab menjadi sandingan penting dalam memahami makna melalui paparan redaksinya. Sehingga, makna dan kandungan ayat tidak dapat dipahami secara utuh apabila tidak disentuh oleh gramatika. Bahkan, para pakar bahasa, salah satunya adalah al-Imrithi berpendapat sebuah teks tidak dapat dipahami, apabila tidak dibedah oleh ilmu gramatika.

Imam al-Nuhas

Pada Siyar A’lam al-Nubala dan Thabaqat al-Nahwiyyin, disebutkan seorang pakar i’rab alQur’an.  Beliau adalah al-Nuhas. Nama lengkap al-Nuhas adalah Ahmad bin Muhammad bin Isma’il bin Yunus al-Muradi al-Mishri al-Nahwi. Beliau orang Mesir dan dipandang sebagai ahli nahwu yang terpandang. Laqab-nya adalah Abu Ja’far.

Imam al-Nuhas merupakan ulama yang memiliki keutamaan dalam ilmu yang mendalam.  Ketika belajar di Baghdad, ia berguru kepada al-Zujaj dan al-Akhfasy, dua ulama pendahulunya di bidang bahasa Arab. Ilmu teks berkenaan dengan teori huruf diperoleh dari Abu Hasan bin Syanbud dan Abu bakar al-Dijwani.  

Beliau adalah ulama yang cerdas. Tulisannya lebih bagus daripada lisannya. Abdul Rahman bin Ahmad bin Yunus berkata bahwa al-Nuhas adalah ahli nahwu dan penulis hadis. Beberapa tulisannya adalah I’rab al-Qur’an, Isytiqaq al-Asma al-Husna, Tafsir Abyat Sibawaih, Kitab al-Ma’ani, al-Kafi fi al-Nahw, dan al-Nasikh wa al-Mansukh. Ahli ilmu nahwu ini wafat pada Dzulhijah pada tahun 338 H.

Kitab I’rab al-Qur’an

Dalam bidang ilmu al-Qur’an terutama perspektif gramatika, al-Nuhas menulis kitab, yang diberi judul I’rab al-Qur’an. Struktur teks pada al-Qur’an dijelaskan secara rinci pada setiap ayat sesuai dengan mushaf al-Qur’an. Rincian setiap teks pada ayat dari awal sampai akhir surat menjadikan kitab ini terbilang tebal. Pada cetakan Dar al-Ma’rifah (2008), Lebanon, tebal kitab mencapai 1390 halaman, yang ditahkik oleh Syaikh Khalid al-‘Ali.

Rincian kajian i’rab pada kitab ini memuat pula aspek qira’at. Penulis kitab menjelaskan struktur i’rab dan proses i’lal (perubahan bentuk huruf ‘illat) dalam morfologis (sharaf). Perbedaan pandangan pakar ilmu nahwu diperjelas dalam setiap aspek teks yang perlu pendalaman sampai dijelaskan aspek maknanya. Pendapat tersebut diperjelas pula dalam aspek bahasa dan kaitan bahasa dengan pemiliknya. Apa yang dilakukannya ini menjadi nutrisi yang sehat bagi pemerhati yang fokus pada kajian ini.

Paparan pada kitab ini dituturkan secara ringkas tanpa memanjangkan sesuatu yang tidak penting. Tentang pentingnya kajian ini, al-Nuhas mengutip pendapat Umar bin Khaththab, “Pelajarilah I’rab al-Qur’an sebagaimana engkau menghapalnya (al-Qur’an)”. Pendapatnya ini sekaligus menjadi paragraf awal pembuka untuk masuk pada kajian tiap ayat.

Pada setiap teks kitab ini, kita bisa menyelaminya dengan seksama, terutama berkaitan dengan fungsi kalimat berdasarkan pendapat ulama. Pada lafal basmalah, misalnya, kita bisa menemukan penjelasan bahwa lafal ism di-khafadh-kan oleh huruf ba penambah (za’idah). Posisi ba’  dan kata setelahnya menurut al-Fara’ pada posisi nashab dengan makna kami memulai dengan basmalah, dengan lafal ibtada’tu atau abda’u. Ulama Bashrah memandang bahwa posisi basmalah pada rafa’ dengan variabel kata ibtida’i (permulaanku) dengan basmalah. Namun, Ali bin Hamzah al-Kasa’i berpendapat tidak ada tempat bagi ba dalam struktur fungsi kalimat.

Paparannya ini menunjukkan metode pembahasan dengan mendasarkan pada pakar sebelumnya. Pada teks seperti ini, terlihat dengan kepiawaian al-Nuhas dalam merangkai pendapat pakar, sekaligus kehati-hatian dalam kejujuran ilmiah.

Kaitan antara teks dan makna di dalamnya meneguhkan posisi penting kajian ini dalam membedah makna teks pada al-Qur’an. Makna ayat tidak bisa diketahui secara mendalam tanpa dukungan ilmu ini.

Editor: Rubyanto