Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Introspeksi Diri Melalui Ayat-Ayat Al-Quran

introspeksi diri
Sumber: https://www.islampos.com

Alquran merupakan satu-satunya kitab yang komperehensif sepanjang zaman. Kandunganya sangat kompleks, mampu menilisik ke berbagai dimensi kehidupan. Mengingat kitab ini merupakan kalam ilahi yang tujuanya untuk kebahagiaan hidup manusia baik di dunia maupun akhirat. Memahami ayat dan melakukan introspeksi menjadi hal penting menuju hidayah Al-Qur’an.

Selain sebagai kitab pedoman bagi umat manusia, kitab ini juga mampu menggalih potensi diri lewat pengibaratan ayat-ayat yang tercantum didalamnya. Salah satu orang yang pernah melakukan introspeksi diri lewat Alquran adalah Ahnaf bin Qais. Ia mencari jati diri serta mengukur kualitas diri lewat kalam ilahi. Namun apa yang terjadi? Tidak ditemukan ayat yang sesuai dengan kualitas dirinya selain Q.S Al-Taubah [9] ayat 102.

Introspeksi Diri Melalui Al-Qur’an

Kisah ini dipaparkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya al-zuhd hal. 288. Ahnaf bin Qais berkata: “Aku periksa diriku berdasarkan al-Quran, kemudian tidak kudapati sesuatu dalam diriku yang lebih serupa denganku melainkan ayat QS. At-Taubah: 102.

Kisah lengkapnya, suatu ketika Ahnaf bin Qais duduk termenung agak lama, tiba-tiba ia teringat firman Allah Swt. QS. Al-Anbiya’ ayat 10:

لَقَدۡ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَيۡكُمۡ كِتٰبًا فِيۡهِ ذِكۡرُكُمۡ‌ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ

Sungguh kami telah turunkan kepada kamu sebuah kitab yang didalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya.

Setelah merenungi ayat tersebut, Ahnaf bin Qais kemudian mengambil kitab suci Al-Quran. Ahnaf bin Qais berkata dalam hati “Kitab suci ini telah menjelaskan segala sifat manusia dan tingkatanya. Maka saya ingin tahu siapakah aku ini? Termasuk kelompok manakah diriku ini?”

Ayat pertama yang dijumpainya adalah QS. Adz-Dzariat [51] ayat 17-18:

كَانُوۡا قَلِيۡلًا مِّنَ الَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُوۡنَ, وَبِالۡاَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُوۡنَ

Baca Juga  Makki dan Madani: Komponen Dasar Memahami Al-Qur'an

Mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam dan waktu pagi sebelum fajar, mereka selalu memohon ampun.

Tanda Orang Bertakwa

Menurut ayat ini, tanda orang bertakwa adalah sedikit tidur untuk memperbanyak salat malam dan memohon ampun kepada Allah Swt. Ahnaf bin Qais meneteskan air mata dan berkata “Wahai Allah, sungguh aku tidak termasuk dari mereka yang engkau sebut dalam firmanmu ini”.

Kemudian Ahnaf bin Qais membuka Al-Quran untuk kedua kalinya, dan tiba-tiba matanya tertuju pada QS. Ali Imran [3] ayat 134 yang berbunyi:

الَّذِيۡنَ يُنۡفِقُوۡنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالۡكٰظِمِيۡنَ الۡغَيۡظَ وَالۡعَافِيۡنَ عَنِ النَّاسِ‌ؕ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الۡمُحۡسِنِيۡنَ‌ۚ

(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang menginfakkan (hartanya), baik pada waktu lapang, maupun sempit, dan mereka yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Orang menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Pengaruh Introspeksi Diri Qur’ani

Ayat ini sangat menyentuh hati Ahnaf, ia sadar bahwa ayat tersebut menjelaskan ciri orang yang bertakwa adalah selalu menafkahkan hartanya baik diwaktu sempit maupun lapang. Mereka juga memiliki hati yang lapang, mudah memaafkan saudaranya, karena sadar bahwa hidup ditengah masyarakat dengan beraneka watak, status, kepentingan, aliran faham tidak selamanya seirama. Mereka sadar bahwa siapapun bisa melakukan kesalahan termasuk diri mereka sendiri.

Setelah membaca ayat tersebut, Ahnaf bin Qais berkata lagi “Wahai Allah, saya tidak termasuk kelompok ini”. Ahnaf bis Qais belum juga menemukan potret dirinya. Ia tak menyerah dan terus membuka Alquran untuk ketiga kalinya. Kemudian  Ahnaf menemukan QS. Al-Hasyr [59] ayat 9 yeng berbunyi:

وَيُـؤۡثِرُوۡنَ عَلٰٓى اَنۡفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٌ ؕ وَمَنۡ يُّوۡقَ شُحَّ نَـفۡسِهٖ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ

dan mereka mengutamakan (orang-orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapapun yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Ayat ini merupakan pujian Allah yang diberikan kepada sahabat Anshar yang memberikan seluruh kebutuhan untuk saudaranya yang baru datang dari Makkah. Padahal sahabat Anshar sendiri bukan berlebih, tapi mereka lebih mementingkan orang lain dari pada mereka sendiri.

Baca Juga  Inklusivitas Tadabbur ala Hisyam Masyhadani: Tadabbur Untuk Semua!
***

Setelah membaca ayat ini Ahnaf bin Qais sekali lagi berkata “wahai Allah, sungguh saya tidak termasuk kelompok ini.”‌  Ahnaf bin Qays diam beberapa saat lalu berkata lagi “Wahai Allah aku belum menemukan potret diriku”.

Ahnaf bin Qais kembali membuka lagi Al-Quran untuk keempat kalinya dan menemukan firman Allah QS. As-Shaffat ayat 35-36 yang berbunyi:

انَّهُم كَانُوۡۤا اِذَا قِيۡلَ لَهُمۡ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُۙ يَسۡتَكۡبِرُوۡن, وَيَقُوۡلُوۡنَ اَٮِٕنَّا لَتٰرِكُوۡۤا اٰلِهَـتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجۡـنُوۡنِ

Sungguh, mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka La ilaha illallah (tiada tuhan selain Allah), mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, “Apakah sungguh kami harus meninggalkan sesmbahan-sesembahan kami karena mengikuti seorang penyair gila.

Ayat tersebut merupakan sindiran untuk kelompok yang tak acuh bahkan sinis terhadap nasihat agama. Mereka menganggap para penganjur kebaikan di tengah kemaksiatan sebagai orang-orang yang tidak waras. Ahnaf bin Qais berkata “Wahai Allah, jauhkan aku dari sifat-sifat yang tercela ini.”

***

Ahnaf bin Qais tak menyerah, ia ingin tahu kualitas dirinya seperti apa. Sehinga sampailah ia pada QS. At-taubah ayat 102:

وَاٰخَرُوۡنَ اعۡتَرَفُوۡا بِذُنُوۡبِهِمۡ خَلَطُوۡا عَمَلًا صَالِحًـا وَّاٰخَرَ سَيِّئًا ؕ عَسَى اللّٰهُ اَنۡ يَّتُوۡبَ عَلَيۡهِمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ

Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka. Mereka mencampuradukkan perbuatan baik dengan perbuatan buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sungguh, Allah maha pengampun lagi maha penyayang.

Melalui ayat inilah Ahnaf bin Qais menemukan potret dirinya. Ia berkata “Wahai Allah, saya termasuk kelompok ini.” Ahnaf bin Qais menyadari bahwa sepanjang hidupnya ia mengerjakan dua hal yang berlawanan antara pahala dan dosa. Ia mengakui potret dirinya yang abu-abu, lalu memperbanyak istighfar untuk memohon ampun kepada Allah Swt.

Baca Juga  Al-Qur’an Berwajah Puisi Karya HB Jassin

Hikmah Kisah

Perlu kita ketahui bahwa Ahnaf bin Qais ini adalah seorang salafusshalihin yang terkenal kemurahan hatinya. Ia juga seorang pemimin kabilah Tamim yang lahir di Bashrah. Ahnaf bin Qais memeluk Islam di masa Nabi, namun sama halnya Uwais Al-Qarni, ia belum sempat menjumpai Nabi Saw. (Imam al-Dzahabi, Syiar A’lam al-Nubala, juz 4 hal. 87-88).

Kesalehan Ahnaf bin Qais terdengar oleh Rasulullah Saw. ia pernah didoakan langsung oleh Nabi Saw. Ketika Ahnaf bertemu dengan seorang dari bani Laits yang pernah dikirim Rasulullah untuk menyebarkan Islam di kaumnya, orang tersebut pernah bercerita bahwa Rasulullah berdoa “allahummaghfir lilahnaf” (Ya Allah, ampuni Ahnaf). (Imam al-Dzahabi, Syiar A’lam al-Nubala, Juz 4 hal. 88).

Itulah kisah Ahnaf bin Qais dalam mengintropeksi dirinya lewat Alquran. Dari kisah ini bisa kita jadikan acuhan, bahwa kita bisa melihat diri kita lewat Alquran. Alquran sangat gamblang dalam menjelaskan sifat-sifat orang mukmin, munafik dan kafir. Dari ayat-ayat itulah kita tahu kualitas diri kita seperti apa. Wallahuaalam.