Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Integrasi Tafsir dan Ekologi: Keseimbangan Ekosistem

ekologi
Sumber: https://www.conserve-energy-future.com

Aktivitas industri di berbagai bidang kehidupan yang menjanjikan kesejahteraan masyarakat ternyata mengkibatkan fenomena krisis ekologi secara global. Orientasi keuntungan bisnis dan ekonomi yang dilakukan oleh kalangan penguasa modal menunjukkan berbagai motif dan strategi bisnis berdasarkan kekuatan kapital yang cenderung melakukan eksploitasi terhadap sumber daya alam.

Perilaku eksploitatif terhadap kekayaan alam yang berdampak pada krisis ekologi mendapat perhatian dari berbagai pihak seperti, otoritas keagamaan. Respon terhadap krisis ekologi memiliki kaitan yang mendalam dengan tuntunan agama (baca; Islam) misalnya, 1) beberapa ayat al-Qur’an memiliki visi ekologis. 2) otoritas moral umat manusia. 3) basis pengikut yang besar. 4) sumber daya materi yang signifikan. 5) kemampuan membangun komunitas peduli lingkungan.

Istilah Ekologi

Kesadaran setiap individu maupun masyarakat beragama (baca; Islam) mengenai keseimbangan lingkungan dibentuk melalui tuntunan kitab suci al-Qur’an. Secara bahasa, kata lingkungan memiliki sinonimitas dengan istilah ekologi, ecologi berasal dari bahasa Yunani yaitu, oikos yang memiliki arti rumah tangga sedangkan logos berarti ilmu.

Istilah ekologi pertama kali dipopulerkan oleh seorang biolog Jerman, Ernst Haeckel, istilah ekologi digunakan dalam bidang studi biologi pada tahun 1869 M. Setelah menguraikan pengertian etimologi dari kata ekologi, istilah tersebut secara terminologi dijelaskan bahwa ekologi merupakan studi atau ilmu pengetahuan yang melihat sistem interelasi dan keseimbangan ekosistem antara organisme dengan organisme lain dan lingkungan hidup.

Term ekologi tidak disebutkan secara eksplisit di dalam al-Qur’an, namun beberapa redaksi ayat al-Qur’an menyebutkan term lingkungan dengan berbagai penyebutan seperti, langit, bumi, matahari, dan makhluk hidup. Seyyed Hossein Nasr menyatakan, Islam menuntun penggunaan daya akal dan pengetahuan yang dimiliki manusia untuk menjaga alam semesta sebagai amanah dari Tuhan. Integrasi sistem nilai agama dan disiplin ilmu lingkungan memiliki peran fundamental dalam membentuk manusia yang peduli terhadap krisis ekologi.

Baca Juga  Rethingking Riba Dan Bunga Bank dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an dan Ekologi

Salah satu tuntunan kitab suci Al-Qur’an yang secara gamblang melarang manusia merusak lingkungan yaitu, QS. al-A’raf [7]: 56.

وَلَا تُفْسِدُوا فِى الْأَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وطَمَعًا اِن رَحْمَتَ اللهِ قَرِيْبٌ مِنَ اْلمُحْسِنِيْنْ

Artinya:
Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”.

Keragaman Pendapat Mufasir

Dalam tafsir Jalalayn, kandungan QS. al-A’raf [7]: 56 dijelaskan dengan interpretasi yang cenderung global dan singkat. Adapun larangan merusak bumi didentifikasi pada perbuatan maksiat, kezaliman dan permusuhan yang dapat menyebabkan datangnya peringatan dari Allah Swt.

Sedangkan tafsir al-Qurtuby, menjelaskan kandungan ayat ini dengan ragam larangan merusak bumi yaitu, 1) larangan menebang pohon yang berbuah 2) larangan mencemari sumber air yang mengalir 3) korupsi, mengenai korupsi penulis tafsir memberi keterangan sebagai berikut, suatu perbuatan yang mengakibatkan ketimpangan sistem ekonomi dan sosial.

Perbedaan penafsiran atas QS. al-A’raf [7]: 56 di atas menunjukkan perhatian ulama tafsir mengenai lingkungan hidup (ekologi) sesuai dengan keilmuan pada zamannya, ragam respon atas kandungan ayat menunjukkan perhatian umat Islam yang mendalam terhadap kelestarian lingkungan melalui uraian musfassir yang terdapat dalam ragam literatur keilmuan Islam.

Tiga Konsep Dasar

Selanjutnya, tulisan ini menyoroti tiga konsep yang fokus pada isu krisis lingkungan hidup yaitu, integration of monotheism, responsibilitas, dan sustainabilitas.

Pertama, integration of monotheism, bagian ini menekankan pada aspek kesatuan alam dan manusia sebagai ciptaan Tuhan. Konsep ini menekankan pandangan keseimbangan dan keberlanjutan alam semesta. Indikator utama dalam prinsip ini yaitu manusia menyadari kefitrahannya dan watak kebinatangannya. Dikotomi alam dan manusia menyebabkan disintegrasi keharmonisan alam semesta. Disintegrasi dilatari oleh munculnya pemikiran dualisme yaitu; memisahkan manusia dan alam yang mengarah pada dominasi nafsu manusia terhadap kekayaan alam.

Baca Juga  Hakekat Larangan Berzina: Manusia Sebagai Khalifah

Kedua, Responsibilitas. Bagian ini identik dengan istilah khalifah fi al-ardh yaitu, manusia mendapat amanah dari Allah sebagai pengelola dan pemakmur bumi. Khalifah Allah yang diberi amanah dapat dipahami dengan relasi positif antara manusia dengan lingkungan. Konsep ini menekankan pada kesadaran akal budi manusia terhadap dampak ekologis yang ditimbulkan dari pengelolaan kekayaan bumi. Pemanfaatan sumber daya bumi secara baik ditunjukkan dengan menghindari perbuatan merusak segala yang disediakan oleh alam semesta.

***

Terakhir, sustainabilitas, mengungkapkan aspek pemanfaatan sumber daya alam yang menitik beratkan pada konservasi lingkungan. Eksplorasi manusia terhadap kekayaan bumi memiliki batasan yang ditunjukkan dengan aktivitas alam yang merespon perilaku manusia yang berlebihan seperti, pencemaran lingkungan hidup, pemanasan global, perubahan iklim yang ekstrem, dan bencana yang lain. Dengan demikian konsep ini menegaskan bahwa pemanfaatan sumber daya alam bertumpu pada penjagaan terhadap keseimbangan antar ekosistem yang ada di bumi.

Menurut hemat penulis, integrasi sistem nilai agama seperti, ilmu tafsir al-Qur’an dengan diskursus ekologi melahirkan pemahaman yang relevan dalam mengurai krisis lingkungan yang menjadi perhatian masyarakat global saat ini. Pertemuan ilmu agama dan sekuler yang saling memperkaya perspektif mendorong masyarakat beragama (baca; Islam) turut andil dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup untuk kepentingan umat manusia sepajang masa.

Imam Muhajir Dwi Putra
Memiliki minat studi tafsir dan kajian keislaman, mahasiswa dan nyantri (keduanya aktif) di Yogyakarta since 2021 M. Motto hidup: usaha, do’a, dan amor fati.