Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Ingin Bergadang yang Berpahala? Begini Penjelasannya!

bergadang
Sumber: https://www.ihopkc.org

Sering bergadang? Tidur diatas pukul 12, atau malah tidak tidur sama sekali? Ternyata bergadang diperintahkan dalam Al-Qur’an.

Dalam KBBI, verba ‘bergadang’ memiliki arti berjaga atau tidak tidur sampai larut malam. Kementerian Kesehatan RI bahkan menghimbau masyarakat Indonesia untuk tidak begadang, karena memiliki efek yang tidak baik bagi kesehatan. Normalnya, orang dewasa perlu 7 sampai 9 jam waktu tidur dalam sehari. Namun, begadang akan mengurangi waktu tidur seseorang menjadi kurang dari 7 jam atau bahkan tidak tidur. Apapun alasannya, begadang merupakan kebiasaan yang harus dikurangi dan sebaiknya tidak dilakukan. Lalu, apakah ada begadang yang baik?

‘Perintah Bergadang’ dalam Al-Qur’an

Berbeda dengan himbauan Kemenkes, dalam Islam begadang tidak hanya diperbolehkan bahkan sangat dianjurkan. Malam hari merupakan saat terbaik – terlebih bagi jiwa yang bersedih– untuk sepenuh hati merenung, memohon ampun dan keberkahan, beribadah, serta mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia berfirman dalam Q.S al-Muzzammil [73]:3

قُمِ الَّيْلَ اِلَّا قَلِيْلًاۙ نِّصْفَهٗٓ اَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيْلًاۙ

“Bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) seperduanya, kurang sedikit dari itu”

Begadang yang dimaksud adalah qiyamul lail. Para ulama fikih menjelaskan qiyamul lail sebagai bangun dan terjaga di malam hari lalu mengisi waktu dengan beribadah, seperti membaca al-Qur’an, bersholawat, sholat sunnah, dan masih banyak lagi. Nah, sholat yang dilaksanakan saat qiyamul lail dikenal dengan sholat malam (sholatul lail) atau sholat tahajud. Nabi Muhammad Saw. disebutkan dalam sebuah hadis, tidak pernah sekalipun meninggalkan salat tahajjud hingga beliau wafat.

***

Salat tahajud adalah salat paling utama setelah salat maktubah (salat 5 waktu). Mendirikan sholat tahajud bukan semata ibadah, tetapi juga sarana untuk meningkatkan kesehatan fisik dan kualitas spiritual. Keistimewaan ibadah di waktu malam ini memberikan manfaat berlimpah bagi yang istiqomah (konsisten) menjalankannya.

Baca Juga  Tahajud: Kunci Keberhasilan dalam Al-Qur'an

Jika dilakukan dengan gerakan yang benar, sholat tahajud akan merelaksasi tubuh dengan baik. Karena dilakukan di sepertiga malam terakhir, sholat tahajud jika dilakukan dengan khusyuk dapat menghilangkan stress dan memberi ketenangan. Manfaat jangka panjangnya, sholat tahajud dapat memberikan keseimbangan psikis dan fisik.

Qumil Laila dalam bingkai tafsir

Siddiq Hasan al-Qinuji> seorang Mujaddid (pembaharu) dalam dunia pemikiran dan keilmuan Islam, menjelaskan dalam kitab tafsirnya Fath al-Bayan fi Maqasid al-Qur’an  mengenai perintah untuk bangun malam pada surah al-Muzammil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُمِ الَّيْلَ اِلَّا قَلِيْلًاۙ

“bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil”

Qum al-lail” artinya bangunlah pada malam hari. Al-Qinuji menyampaikan adanya pesan kebersamaan dan dedikasi umat Islam yang begitu kuat saat surat Al-Muzzammil pertama kali diturunkan. Kata “qum” dimaknai oleh al-Qinuji dengan berdiri untuk salat, sebagai ungkapan atau istilah yang digunakan untuk itu. Para sahabat Rasulullah Saw. dengan penuh semangat melaksanakan qiyam sepanjang bulan Ramadan. Mereka berdiri dengan penuh ketekunan, bangun untuk melaksanakan salat pada waktu malam yang sunyi, tersembunyi, dan penuh kerahasiaan, sehingga kaki-kaki mereka membengkak. Qiyamul lail menjadi bagian penting dalam hidup spiritual mereka.

Perbedaan pendapat terjadi mengenai perintah untuk ‘berdiri’ ini, kewajiban (fard)-kah, atau anjuran (nawafil)? Beberapa berpendapat bahwa ini merupakan kewajiban khusus bagi Nabi Muhammad Saw., sebagian berpendapat bahwa qiyamul lail merupakan kewajiban atasnya dan umatnya, bahkan –ada  yang mengatakan- atas seluruh para nabi sebelumnya. Lalu bagaimana jika ditilik dari aspek asbab al-nuzul?

***

Allah dengan kasih sayang-Nya memahami kesulitan yang dihadapi oleh umat-Nya. Qiyamul lail pada awal diperintahkan dengan redaksi illa qolila  yang artinya dilaksanakan hampir sepanjang malam, kecuali sedikit -yang tidak jelas batas waktunya (sedikit itu seperti apa)- hal ini membuat para sahabat melaksanakan qiyamul lail sepanjang malam. Kemudian menjadi lebih jelas dan ringan dengan turun ayat setelahnya yaitu al-Muzzammil [73]:3:

Baca Juga  Membincang Perempuan, Gender dan Kemiskinan

نِّصْفَهٗٓ اَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيْلًاۙ

“(yaitu) seperduanya, kurang sedikit dari itu”

Setelah ayat ini turun, Nabi Muhammad Saw. dan umat islam diberi kebebasan memilih waktu melakukan qiyamul lail antara sepertiga, seperdua, atau dua pertiga malam. Waktu-waktu tersebut masih merupakan perintah wajib yang tentu bagi sebagian orang masih terasa berat, karena harus tetap terjaga sampai fajar tiba sangat melelahkan badan mereka. Hal ini nantinya tidak malah bermanfaat bagi fisik, justru menyebabkan fisik lemah saat bekerja di pagi hari.

Allah kemudian meringankan kewajiban qiyamul lail yang sebelumnya wajib, setelah ayat ke-20 surat al-Muzzammil diturunkan menjadi sunnah yang sangat dianjurkan. Meski begitu, para sahabat tetap berlomba-lomba dan penuh semangat untuk melaksanakannya. Kisah tentang perubahan status qiyamul lail dari kewajiban menjadi anjuran menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada umat-Nya. Fleksibilitas dalam menjalankan ibadah adalah bukti kasih sayang-Nya yang tak terhingga. Allah tidak menjadikan perintah-Nya sebagai beban yang harus dipikul, tetapi kesempatan menuai pahala dan ibadah yang penuh rahmat. Ini mengingatkan kita bahwa dalam setiap perintah-Nya, Allah selalu mempertimbangkan kemampuan dan kebutuhan hamba-hamba-Nya.