Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Imam Al-Thabari Sang Maestro Kepenulisan

Menulis bukan merupakan sebuah pekerjaan menjanjikan, tapi menulis merupakan cerminan dari setiap ahlul ilmi. Setiap yang mengalir dari pelajaran dan hikmah, kekuatan manusia untuk menangkap tidak akan bertahan lama. Maka tiada pengikat ilmu yang paling kuat kecuali dengan tulisan (Manuskrip). Imam Syafii pernah mengatakan pentingnya menulis dan kepenulisan dalam kitabnya Diwan As- Syafi’I yang berbunyi,

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ * قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ

فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ

Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya.Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang. Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja. (Diwan Asy-Syafi’i)

Dengan mengikat seluruh keilmuan kita dengan tulisan, bukti kita telah melampaui kreativitas menuju aktivitas. Karena tulisan adalah Mirror Prophetik (Cermin kenabian). Allah Swt tidak semerta- merta menurunkan syariat tanpa mengikatnya dengan manuskrip, seperti Injil, Zabur, Taurat dan Al- Qur’an.  Tapi memang dalam proses kodifikasi sering dilakukan oleh manusia tetapi hikmah dari QS Al- Alaq ayat pertama lihatlah, membaca dan menyebutkan nama Tuhan, dan penyebutan itu tidak akan sempurna jika tidak ditulis dengan baik,, karena ada sinergitas antara hafalan(muhafazah) dengan tulisan yang akan melahirkan keabadiaan. Banyak Ulama- ulama kita yang telah meninggal ratusan abad, tetapi namanya tetap terkenang hingga sekarang melalui kitab- kitabnya.

Jika melihat Ulama dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang kita teladani, banyak sekali yang menjadi rujukan untuk dunia literasi atau intensnya dunia kepenulisan, tetapi yang paling membekas dan memiliki spirit yang hebat adalah Imam Al- Thabari, imam yang dijuluki Imam Mujtahid Mutlak dengan kepiawaiannya menulis dan menuntut ilmu.

Biografi Sang Imam

Nama lengkap beliau adalah Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Al-Thabari, nisbah Thabari diambil dari kota kelahiranya di Tabaristan. Tetapi dalam sebutan kunyahnya ia sering disebut Abu Ja’far, beliau adalah Imam yang menghabiskan umurnya untuk menjomblo menuntut ilmu dan memperjuangkan agama Islam. Selain ahli tafsir beliau teladan untuk seseorang polymath atau samudera keilmuan, karena multidisiplin ilmu yang beliau ampu, seperti ahli hadist, ahli sejarah, usuli, dan ahli bahasa. Kitab yang fenomenalnya dalam dunia tafsir Al- Qur’an yakni Jami’ al- Bayan an Ta’wil Ayi Al Qur’an sebanyak 30 jilid. Dan kitab Etika keagamaan Tarikh al-Umam wa al- Mulk setebal 8 jilid, hingga kitab hokum Adab Al- Qadhi dan masih banyak lagi.

Baca Juga  Melacak Historisitas Diskursus Kajian Wujūh wa Nadzair

Struggle Kepenulisan

Imam Ibn Jarir adalah Imam yang sangat dikenal dengan produktivitasnya dengan banyaknya kitab yang beliau tulis hingga bertebal-tebal dari karya di atas masing- masing. Sehingga membuat pembaca kerepotan untuk menelaah semuanya hingga tuntas, apalagi menulis sebanyak hasil karyanya. Memang sejak kecil sang Imam adalah teladan ahli ilmu di umurnya 7 tahun beliau hafal Al Qur’an, dan menulis hadist umur 9 tahun. Kecintaan pada ilmu pengetahuan dibuktikan dengan aktivitasnya menuntut ilmu dan dunia kepenulisan hingga menulis berlembar- lembar. Salah seorang muridnya Al- Simsimi menceritakan kehebatan gurunya ini “ Ibnu Jarir menulis buku selama 40 tahun, setiap hari sekitar 40 lembar.” Itu merupakan bukti keuletan beliau soal tulis menulis.

Dikisahkan suatu hari, Ibn Jarir mengatakan kepada para santrinya “Apakah kalian sanggup dan mempunyai semangat untuk menuliskan Tafsir Al Quran yang akan aku diktekan kepada kalian?” Santrinya menjawab “ Kira- kira berapa lembar guru?”, “Ya sekitar 30.000 lembar” dan santrinya pun keberatan dan ahkirnya diringkas menjadi 3000 halaman. Hingga 7 tahun yaitu dari tahun 280 hingga tahun 290 H. Sang Imam memang memiliki semangat menulis yang luar biasa ada yang mengatakan ini adalah karamah beliau sebagai Ulama’. Bahkan dalam kitabnya Tarikh Al Umam wa Al- Mulk tersebut berkisah sejarah mulai dari nabi adam hingga jaman beliau, Masyallah.

Hikmah: Menulis Tidak Akan Membuatmu Kelaparan

Seperti kisah keteladanan beliau produktivitasnya menulis, kitab- kitab beliau menjadi rujukan di berbagai Universitas tinggi islam. Dari kisah diatas urgensi akan pentingnya mendidik anak untuk menulis dan menjadikanya sebuah hobi merupakan prestasi amal sholeh. Karena tulisan itu tidak bisa diukur dengan waktu. Selama karya itu ada, namanya tidak akan pernah tenggelam, dan itu pun juga dibuktikan ada keberkahan sendiri di dalamnya, selama tulisan tersebut tidak menggiring opini masyarakat tentang hal yang destruktif.

Baca Juga  Urgensi Menulis dengan Perspektif Gender

Maka tulisan itu akan menginspirasi banyak orang, Imam Al Ghazali pernah mengatakan quotesnya yang tersebar di media; “Jika kamu bukan anak Raja dan Ulama, maka menulislah.” Dan quotes Imam Ghozali itu juga berkorelasi dengan perkataan kang maman suherman penulis buku “RE”, bahwa menulis itu tidak akan membuat orang kelaparan, rezeki dari Tuhan akan tetap mengalir untuk setiap orang yang memperjuangkan gagasan. Harta yang paling berharga dari manusia adalah pikirannya. Sekian, semoga bermanfaat.

Editor: An-Najmi