Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Ide Roland Barthes, ‘Idul Adha, dan Penghambaan yang Paripurna

Sumber: istockphoto.com

‘Idul Adha, atau Hari Raya Kurban, adalah salah satu momen terpenting dalam Islam. Ini menandai tindakan keimanan Nabi Ibrahim AS yang mendalam, di mana ia siap mengorbankan putranya Nabi Ismail AS untuk menaati perintah Allah. Secara ilahi, Allah SWT mengganti Nabi Ismail AS dengan seekor domba jantan untuk dikorbankan. Kisah ini bukan sekedar tentang pengorbanan tetapi juga berbicara secara mendalam tentang hakikat ketaatan dan pengabdian manusia kepada Tuhan. Dengan menggunakan ide semiotika Roland Barthes, ‘Idul Adha dapat dimaknai sebagai penanda yang kuat, kaya dengan makna berlapis tentang komitmen dan pengabdian kita kepada Allah.

Semiotika Roland Barthes

Roland Barthes, seorang filsuf dan kritikus sastra terkemuka Perancis, merumuskan ide semiotik yang mengeksplorasi bagaimana tanda berfungsi dalam komunikasi. Pendekatan Barthes terhadap semiotika melibatkan studi bagaimana makna dihasilkan dan dikomunikasikan melalui tanda-tanda. Ia membagi tanda menjadi dua bagian; penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda adalah bentuk fisik yang diambil suatu tanda, seperti kata, gambar, atau ritual. Yang ditandakan adalah konsep atau gagasan yang diwakili oleh bentuk tersebut. Dengan mengkaji elemen-elemen ini, ide Barthes membantu kita mengungkap lapisan makna yang dibawa oleh tanda-tanda dalam interaksi dan ekspresi budaya kita.

Roland Barthes juga memperkenalkan pengertian “denotasi” dan “konotasi” untuk menjelaskan bagaimana tanda membawa tingkat makna yang berbeda. Denotasi adalah makna langsung dan eksplisit dari suatu tanda-penafsiran mendasar dan literal. Konotasi, di sisi lain, mengacu pada makna dan asosiasi yang lebih dalam dan tersirat yang ditimbulkan oleh suatu tanda di luar interpretasi literalnya. Misalnya dalam konteks ‘Idul Adha, penandanya adalah tindakan menyembelih hewan kurban.

Pada tingkat denotatif, ini hanya mewakili tindakan fisik membunuh hewan tersebut. Namun, jika kita melihat konotasinya, tindakan ini memiliki makna yang lebih kaya. Ini melambangkan tema-tema mendalam seperti ketaatan kepada Allah, pengorbanan pribadi, dan juga penyerahan spiritual atas keinginan dan ego seseorang. Konotasi ini mengkomunikasikan nilai-nilai yang lebih dalam dan makna budaya yang terkait dengan pengabdian dan pengabdian kepada Tuhan. Kerangka kerja Barthes membantu kita mengungkap lapisan makna ini, menunjukkan bagaimana sebuah ritual juga dapat menyampaikan pesan yang kompleks dan beragam.

Makna Semiotis ‘Idul Adha: Kembali kepada Fitrah

Dalam ide semiotik Roland Barthes, tanda tidak hanya membawa makna literal tetapi juga lapisan konotatif yang lebih kaya yang mengomunikasikan wawasan yang lebih dalam. Ritual kurban ‘Idul Adha berfungsi sebagai pengingat mendalam akan pengabdian manusia kepada Allah. Mereka menggarisbawahi bahwa kita memasuki dan meninggalkan dunia ini tanpa membawa apa-apa. Menekankan sifat dasar kita yaitu kesederhanaan dan ketergantungan penuh pada Sang Pencipta. Bacaan konotatif ini mengungkapkan pemahaman yang lebih mendalam tentang keberadaan manusia dan hubungan kita dengan Allah.

Baca Juga  Benarkah Dakwah Da’i Era Kekinian Sesuai Al-Qur’an?

Konsep ini dapat diilustrasikan melalui analisis semiotika terhadap berbagai ayat Al-Qur’an. Salah satu ayat tersebut adalah QS Al-Hajj ayat 37, yang dapat dikemukakan melalui lensa Barthes untuk mengungkap makna berlapisnya:

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ ٣٧

Artinya: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin.” (QS. Al-Hajj: 37).

***

Dengan menggunakan ide semiotik Barthes, kita dapat menganalisis ayat ini dengan membedakan antara penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda ayat tersebut adalah “daging hewan kurban” dan “darahnya”. Secara denotatif atau petandanya, ini mengacu pada komponen fisik hewan yang dikurbankan pada ‘Idul Adha-yakni daging dan darahnya.

Namun makna petanda atau konotatifnya jauh lebih dalam, menitikberatkan pada “kesalehan” (kesalehan) yang ingin dicapai melalui tindakan pengorbanan. Lapisan konotatif ini menekankan bahwa yang benar-benar penting bagi Allah SWT bukanlah substansi fisik dari pengorbanan itu sendiri, melainkan juga niat dan kesalehan di balik tindakan tersebut. Hal ini menggarisbawahi makna spiritual ‘Idul Adha, di mana tindakan mengorbankan hewan melambangkan ketaatan, pengabdian, dan ketundukan kita kepada Allah.

Alhasil, ayat ini mengajarkan bahwa persembahan materi saja tidak berarti bagi Allah; Sebaliknya, kemurnian niat dan kedalaman ketakwaan yang menyertai tindakan kita itulah yang memiliki nilai sejati. Melalui kerangka Barthes, kita memahami ‘Idul Adha bukan hanya sekedar ritual penyembelihan, namun sebagai simbol pembaharuan spiritual dan penyerahan diri yang rendah hati pada kehendak Allah. Hal ini mendorong kita untuk mengatasi ego dan keinginan duniawi, menegaskan kembali identitas fundamental kita sebagai hamba Allah SWT yang berdedikasi.

‘Idul Adha dan Upaya Menuju Penghambaan yang Paripurna

‘Idul Adha lebih dari sekadar ritual dan perayaan; ini berfungsi sebagai periode introspeksi mendalam dan panggilan untuk mengabdikan diri kita dengan sepenuh hati kepada Allah. Peristiwa ini kemudian mendorong kita untuk mengevaluasi kehidupan kita dan merenungkan sejauh mana pengabdian kita terhadap ajaran Allah. Melalui kacamata semiotika Barthes, ini menjadi momen untuk mencermati tanda-tanda dalam kehidupan kita dan menilai apakah tanda-tanda tersebut; secara autentik mewujudkan komitmen kita untuk menjadi hamba Allah SWT yang tulus.

Baca Juga  Kata Istawa dalam Q.S Thaha Ayat 5 Perspektif Semiotika De Saussure

Ide semiotika Barthes mendorong kita untuk melihat melampaui permukaan ritual dan simbol, menekankan makna dan asosiasi yang lebih dalam yang dibawanya. Begitu pula saat ‘Idul Adha, kita diajak untuk merenungkan apakah tindakan, niat, dan pilihan kita sejalan dengan prinsip keimanan, ketaatan, dan ketaatan kepada Allah. Hal ini menantang kita untuk memeriksa apakah tanda-tanda pengabdian kita—baik dalam doa, amal, atau perilaku moral—benar-benar mencerminkan dedikasi kita yang sungguh-sungguh untuk hidup sebagai hamba Allah SWT yang saleh.

Alhasil, ‘Idul Adha mengundang kita untuk melakukan analisis semiotik terhadap perjalanan spiritual kita, memastikan bahwa tanda-tanda yang kita pancarkan melalui keyakinan dan tindakan kita benar-benar mewujudkan komitmen kita kepada Allah. Hal ini memerlukan komitmen kembali terhadap ketulusan, kerendahan hati, dan ketabahan dalam iman kita, selaras dengan perspektif Barthes tentang makna mendalam yang dapat disampaikan oleh tanda-tanda dalam upaya kita mencapai pemenuhan spiritual.

***

Salah satu ayat yang relevan adalah QS. Al-Baqarah ayat 21:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ٢١

Artinya: Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 21).

Dalam ayat ini, penanda (signifier) “sembahlah Tuhanmu” secara langsung menunjukkan tindakan menghormati dan menjunjung Allah melalui ibadah. Namun, di luar arti harfiahnya atau sisi petanda (signified), kata ini mengandung arti konsep mendalam tentang ketaatan sepenuh hati dan pengabdian yang rendah hati. Ibadah lebih dari sekadar ritual lahiriah; ini mewujudkan disposisi spiritual yang mengakui ketergantungan mutlak kita pada Allah dan komitmen sungguh-sungguh kita untuk menyelaraskan hidup kita dengan bimbingan ilahi-Nya dalam setiap aspek.

Dalam perspektif Barthes, setiap tindakan saat ‘Idul Adha berfungsi sebagai tanda yang melampaui fisiknya. Baik itu pengorbanan hewan, pembagian daging kepada mereka yang kurang mampu, atau doa yang dipanjatkan; masing-masing melambangkan upaya kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mencapai pengabdian penuh. Peristiwa ini kemudian mendorong kita untuk merenungkan perjalanan kita dalam mengabdikan hidup kita kepada Allah SWT dan menyusun strategi langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tingkat pengabdian yang lebih dalam.

Solidaritas dan Kesederhanaan dalam ‘Idul Adha

‘Idul Adha juga menekankan nilai solidaritas dan kesederhanaan. Ini berfungsi sebagai momen untuk bersatu dengan kelompok yang kurang beruntung dan memperkuat ikatan sosial. Selanjutnya melalui kerangka semiotik Barthes, tindakan pembagian daging kurban melambangkan solidaritas dan kasih sayang kita terhadap sesama. Hal ini menggarisbawahi gagasan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya berasal dari harta benda, namun dari kemampuan kita untuk berbagi dan mendukung mereka yang membutuhkan.

Baca Juga  Telaah Ayat Sungai dengan Pendekatan Semiotika Ferdinand de Sausure

Al-Qur’an menekankan pentingnya solidaritas dalam berbagai ayat. Salah satunya adalah QS. Al-Baqarah ayat 177:

۞ لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّه ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ ١٧٧

Artinya: Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 177).

Dalam ayat ini, penanda (signifier) ada pada kalimat “memberi harta kepada kekasihnya”. Secara harfiah, ini berarti berbagi harta benda dengan mereka yang membutuhkan. Namun, secara konotatif atau sisi petanda (signified), hal tersebut melambangkan kewajiban kita untuk peduli dan membantu sesama sebagai wujud keimanan dan ketaqwaan kita kepada Tuhan. Hal ini mencerminkan pemahaman kita bahwa segala sesuatu yang kita miliki pada akhirnya adalah milik Allah SWT dan harus dimanfaatkan untuk kebaikan bersama.

***

Melalui perspektif semiotika Roland Barthes, ‘Idul Adha lebih dari sekadar perayaan keagamaan belaka. Itu menjadi simbol pengabdian sepenuh hati kepada Allah. Peristiwa ini mendorong kita untuk terhubung kembali dengan sifat bawaan kita sebagai hamba Allah, mengakui kesederhanaan yang melekat dan ketergantungan kita yang mendalam kepada-Nya. Kemudian dengan menekankan nilai-nilai seperti pengorbanan, solidaritas, dan kesederhanaan, ‘Idul Adha mengingatkan kita akan tanggung jawab mendasar kita dan mengajak kita untuk berjuang demi kebahagiaan sejati dan kepuasan abadi di hadirat ilahi.

Dalam ‘Idul Adha, kita dipanggil untuk merangkul kesederhanaan, solidaritas, dan juga pengabdian yang tulus kepada Allah. Mari kita manfaatkan momen ini untuk merenungkan tanda-tanda dalam hidup kita dan menegaskan kembali komitmen kita untuk menjadi hamba Allah SWT yang sejati, berjuang untuk pengabdian penuh dan kebahagiaan abadi di akhirat. Wallahu a’lam.

Editor: An-Najmi