Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Ibnu Rusyd: Hubungan Akal dan Wahyu

ibnu rusyd
Sumber: https://www.idntimes.com/

Islam sebagai agama yang sempurna memiliki petunjuk agar setiap pemeluknya mampu memahami Islam itu sendiri. Allah SWT sebagai pencipta dan pemilik memberikan wahyu berupa al-Qur’an sebagai petunjuk umat manusia dalam memeluk agama Islam. Sebagai agama rahmatan lil’alaimin, wahyu menjadi pedoman umat Islam, bukan hanya dalam hal ritual ibadah tapi juga sebagai pedoman dalam kehidupan sosial masyarakat.

Al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah tentulah tidak membicarakan hal-hal yang khusus dan terperinci layaknya kitab-kitab ilmiah yang merupakan karya dan karangan manusia, melainkan membahas hal-hal yang bersifat global dan universal. Sehingga, perlu ditafsirkan agar mampu dipahami untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik ditafsirkan dengan al-Qur’an itu sendiri, Hadist, dan perkataan Sahabat atau yang kita kenal dengan metode Tafsir Bil-Ma’tsur. Maupun ditafsirkan oleh akal sebagai interpretasi penafsir dalam memahami wahyu tersebut atau yang kita kenal dengan metode Tafsir Bir-Ra’yi.

Peranan Akal dalam Memahami Wahyu

Dalam proses menafsirkan al-Qur’an tersebut tentu banyak kontroversi tentang peranan akal dalam membantu memahami wahyu, sebagai teks yang harus dihadirkan perannya dalam konteks kehidupan umat manusia. Ada yang berpendapat bahwa wahyu lebih tinggi dari akal, ada juga yang mengatakan sebaliknya bahwa peran akal lebih tinggi dari wahyu, namun ada yang berpendapat bahwa akal dan wahyu memiliki peran yang sama yang bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing, atau bahkan ada yang menafikan peranan akal dalam memahami wahyu.

Namun perbedaan itu adalah hal yang biasa dan wajar dalam ranah atau wilayah pemikiran. Karena itu membuktikan akan betapa besar dan luasnya khazanah keilmuan Islam, sebab pada dasarnya sesuatu hal yang dipandang saja banyak menghadirkan perbedaan apalagi sudah masuk ke dalam ranah pemikiran maka itu adalah hal yang wajar. Tinggal bagaimana kita mampu menyikapi perbedaan tesebut.

Baca Juga  Makna Kehidupan Bermasyarakat (1)

Pandangan Akal Menurut Ibnu Rusyd

Akal dan Wahyu adalah dua hal yang tidak bisa dibenturkan. Menurut Ibnu Rusyd bahwa Akal memerlukan wahyu karena ada bagian-bagian di mana akal tak mampu menjangkaunya, metafisika misalnya. Begitu juga wahyu yang memerlukan akal untuk memahami wahyu. Hal ini juga ditegaskan melalui dialog antara khawarij dengan Ali bin Abi Thalib. Kaum Khawarij pernah bertanya kepada Ali, “Wahai Ali tiada hukum kecuali hukum Allah maksudnya semua harus berdasarkan kata Qur’an bukan kata manusia. Mengapa kau mengutus juru hakam dalam abitrase antara kubu ali dan Muawiyyah?” Maka Ali di depan mereka membuka mushaf dan berbicara kepada mushaf “Wahai mushaf bicaralah kepada mereka”.

Dengan cara cerdik itu, ia berhasil menyadarkan para kaum Khawarij tersebut bahwa mushaf al-Qur’an tidak bisa bicara sendiri sebab hanya goresan tinta di atas kertas. Wahyu Akan menjadi operatif fungsional jika manusia lah yang menafsirkannya dengan kemampuan akalnya masing-masing.

Hubungan akal dan wahyu bukan lah hubungan struktural yang dipertanyakan mana yang lebih tinggi. Tetapi akal dan wahyu adalah hubungan fungsional yang saling mengisi dalam memerankan fungsi nya masing-masing (Prof. Musa Asyari). Pendapat ini juga merupakan representasi dari pemikiran IRusyd tentang akal dan wahyu.

Dan juga menurut Ibnu Rusyd akal nantinya akan menjadi hikmah (falsafah) dan wahyu berkembang menjadi syariat pada akhirnya akan mencapai Wihdatul Haqiqoh (satu kebenaran) yaitu Tuhan.

Editor: An-Najmi Fikri R

Khairul Fikri
Mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir UIN-SU Medan dan Sekretaris Bidang Tabligh Kajian KeIslaman PC IMM KOTA MEDAN