Tanwir.ID Kanal Tafsir Berkemajuan

Hubungan Istimewa HAMKA dan “Al-Azhar”

Al-Azhar

Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Begitulah kemudian nama tersebut lebih dikenal sebagai HAMKA. Lahir di Sungai Batang, Sumatera Barat pada 17 Februari 1908. Ia adalah seorang ulama, sastrawan, wartawan, budayawan, politisi, pengajar, dan juga seorang mufassir yang berhasil menerangkan makna al-Qur’an dengan “Tafsir Al-Azhar”-nya.

Namun, tak hanya “Al-Azhar” itu yang terkenang dalam kisah panjang hidup HAMKA, setidaknya ada dua lagi yang akan dibahas. Jadi, mari kita lebih dekat dengan HAMKA dan hubungan istimewanya dengan “Al-Azhar”.

***

Tak akan ada yang mengira akan lahir seorang  seperti HAMKA, cendikiawan multitalenta yang tanpa mengenyam bangku pendidikan tinggi. HAMKA kecil menempuh pendidikan di dua sekolah. Paginya ia belajar Sekolah Desa, sorenya dihabiskan di Diniyah School. Kesenangan HAMKA  terhadap bahasa sudah terlihat dalam pelajaran bahasa Arab di sekolah sorenya.

Ayahnya yang seorang ulama menginginkan HAMKA belajar agama, maka ia memasukkan HAMKA ke Thawalib, yang mana madrasah ini sangat fokus pada pendalaman agama dengan kitab-kitab berbahasa Arab. Tak disangka disinilah HAMKA bertemu dengan arudh, pelajaran sastra dalam bahasa Arab yang semakin menumbuhkan minatnya terhadap dunia sastra. HAMKA tumbuh menjadi pribadi yang menyukai literasi.

Tak heran jika tangga pertama HAMKA dalam perjalanan karirnya adalah sebagai penulis. HAMKA mulai aktif menulis sejak kepulangannya dari tanah suci. Dari kisah perjalanan ini terbitlah artikel yang ia tulis untuk surat kabar Pelita Andalas. Namanya pun semakin melesat setelah peluncuran beberapa roman seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Selain menulis sastra, ia juga menulis mengenai berbagai bidang seperti tasawuf, filsafat, pendidikan, politik, dan sejarah. Karir HAMKA sebagai penulis merupakan jalan untuk menyuarakan pemikiran-pemikirannya. Sebagai penggerak dan pemersatu umat Islam, ia banyak mendorong agar umat bergerak meninggalkan keterbelakangan dan ketertindasan.

HAMKA dan Gelar Ustadziyah Fakhriyyah

HAMKA yang juga sangat pandai menyampaikan maksud dan tujuan di muka umum membuatnya banyak menghadiri pertemuan baik dalam kancah nasional maupun internasional. Pada tahun 1958, HAMKA berkesempatan untuk menghadiri kegiatan Mu’tamar Islami ke Lahore, Pakistan, kemudian melanjutkan perjalanan ke Mesir. Di sana, HAMKA diperkenalkan pada masyarakat dan juga Universitas Al-Azhar. Maka hari itu pun datang sebagai akhir jembatan panjang pengantarnya mendapat gelar kehormatan.

Di ruangan Syubbanul Muslimun, Universitas Al-Azhar, diadakan suatu kuliah umum. HAMKA sebagai tamu undangan berbicara mengenai pengaruh paham Muhammad Abduh di Indonesia dan Malaya.

Rupanya ceramah sembilan puluh menit yang disampaikannya sangat berkesan di hati para hadirin. Karena pengaruh pemikiran Muhammad Abduh yang tak terlalu riuh di negara sendiri, ternyata dikenal di negeri luar. Termasuk yang hadir adalah Mahmud Syaltut, Rektor Al-Azhar waktu itu.

Maka dikenallah HAMKA di mata Al-Azhar sebagai sang penegak kesatuan kaum muslimin di Asia Timur. Dan sangat pantas ia menerima gelar kehormatan Ustadziyah Fakhriyah atau setara dengan Doctor Honoris Causa yang pelantikannya sempat ditunda dan akhirnya resmi pada Maret 1959.

Masjid Agung Kebayoran Baru

HAMKA dan keluarga pindah ke Kebayoran Baru, Jakarta, pada 1956. Saat itu, di depan rumahnya sedang dibangun sebuah mesjid besar. HAMKA senang melihatnya, karena ia mengaharapkan anak-anaknya tumbuh dalam lingukungan yang islami. Sehingga terbesit dalam hati agar masjid itu cepat selesai.

Sepulang HAMKA dari Mesir, ia dapati telah selesai masjid itu dibangun namun belum digunakan. Ketua Panitia Pembangunan Masjid Agung tersebut menjelaskan bahwa akan diminta terlebih dahulu kesediaan Presiden untuk menggunting pita pembukaan. Namun HAMKA mendesak agar masjid segera dibuka, karena yang terpenting dari masjid adalah ketika ia disholati dan dapat dilaksanakan shalat tarawih berjama’ah, sambil menunggu kehadiran presiden.  Usulan HAMKA diterima.

Mulailah masjid itu disembahyangi. Semakin lama semakin ramai. Diadakan shalat Jum’at dan pengajian-pengajian. Setiap selesai shalat shubuh, HAMKA mulai menafsirkan beberapa ayat al-Qur’an pada jama’ahnya. Kira-kira 45 menit setiap pagi.

Desember 1960, Mahmud Syaltut bertandang ke Indonesia. Dan salah satu agendanya adalah mengunjungi Masjid Agung Kebayoran dan kembali bertemu dengan HAMKA yang sudah ditetapkan menjadi imam di sana. Setelah menyelesaikan bermacam urusan, Mahmoud Syaltut memberi beberapa titah dan berkata kepada para hadirin:

“Bahwa mulai hari ini, saya sebagai Syeikh dari Jami’ Al-Azhar memberikan nama bagi mesjid ini “Al-Azhar”. Moga-moga ia menjadi Al-Azhar di Jakarta, sebagaimana adanya Al-Azhar di Kairo.” – dikutip dari Tafsir Al-Azhar. Sejak saat itu, pengurus dan masyarakat dengan ridho hati menerima dan melekatlah namanya menjadi “Masjid Agung al-Azhar”, salah satu rumah HAMKA menggaungkan kebesaran Islam.

Tafsir Al-Azhar

Kegiatan rutin masjid terus dilaksanakan. Menafsirkan al-Qur’an setiap pagi juga tak tinggal. Malah masyarakat semakin antusias, apalagi setelah hadirnya majalah Gema Islam yang menulis seluruh kegiatan. Haji Yusuf Ahmad, tata usaha Gema Islam saat itu, mengusulkan agar tafsir HAMKA dimuat di dalamnya.

HAMKA sangat setuju dan langsung saja ia memberi nama Tafsir Al-Azhar. Sebab menurutnya tafsir ini timbul di Masjid al-Azhar, yang nama itu diberikan Syeikh Jami’ al-Azhar sendiri, dan atas rasa syukurya pula telah diberi gelar kehormatan dari Al-Azhar.

Berjalan 7 tahun, tafsir ini tak kunjung tamat. Besar keinginan HAMKA untuk menyelesaikannya, apalagi saat itu HAMKA sudah terhitung berumur, namun ia juga memiliki banyak agenda di luar. Tak disangka kesempatan agung ini datang, hadiah Allah untuk HAMKA, yakni kesempatan menulis tafsir dalam penjara. Memang benar, “di dalam penjara”.

Jam 11 siang 27 januari 1964, HAMKA dijemput “tamu” yang datang membawa surat penangkapannya. Dengan tuduhan mengadakan rapat gelap di Tangerang pada tanggal 11 Okrober 1963, dan beberapa tuduhan lain yang menurutnya semua itu adalah fitnah.

HAMKA yakin ini adalah hikmah yang harus diterima dengan lapang dada. Jikalau ia tidak difitnah dengan sangat dan dijebloskan ke penjara, maka Tafsir Al-Azhar takkan selesai. Dan benar saja, tafsir itu tamat dan setelah setelahnya HAMKA menerima surat keterangan yang menyatakan ia tak bersalah dan akhirnya dibebaskan.

Dalam pendahuluan tafsirnya, HAMKA berharap, sebagai oleh-oleh dari tahanan, Tafsir Al-Azhar ini dapat berguna bagi kaum dan bangsanya yang haus akan penerangan imu agama. Demikianlah kisah HAMKA dengan kehadiran tiga “Al-Azhar” yang sangat berkesan dalam hidupnya. Kehidupan yang tak diragukan membawa manfaat bagi banyak orang.

Editor: M. Bukhari Muslim

Desanta Azzuhara
Mahasiswa Ilmu al-Qur'an dan Tafsir UIN Jakarta