Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Hikmah Isra Mikraj: Nabi Muhammad dan Tahun Kesedihan

isra mikraj
Sumber: https://www.harianbatakpos.com

Kisah Isra Mi’raj telah banyak diceritakan dalam buku sejarah nabi; tafsir dan juga riwayat-riwayat hadist, hingga sekarang masih menjadi perdebatan di kalangan umat Islam sendiri. Hal itu karena tidak ada dalil kuat; seperti tentang kapan tahun dan bulan terjadinya, dengan jasad dan ruh atau dengan ruh saja, dan perselisahan sebagainya. Namun initinya adalah hikmahnya-lah yang sangat penting untuk diambil darinya supaya bisa diamalkan dan dijadikan pelajaran.

Sehingga Isra Mikraj bukan hanya kisah yang diulang-ulang setiap momen bulan Rajab dan sebatas menjadi seremonial saja. Melainkan menjadi semangat diri agar menjadi sosok yang dinamis dan optimis berlandaskan prasangka baik kepada Tuhan.

Perjalanan Nabi Muhammad dari Masjid al-Haram ke al-Aqsha, kemudian naik ke Sidratul Muntaha; yang terjadi setelah tahun kesedihan sesungguhnya mempunyai makna metaforik dari penghiburan. Yaitu apresiasi untuk seorang hamba yang telah melewati ujian dan cobaan yang sangat besar dengan kesabaran dan rasa berserahnya atas ketentuan Allah. Oleh karenanya kesedihan tersebut diganti dan diobati dengan sesuatu yang menggembirakan hatinya.

Latar Belakang Peristiwa Isra Mikraj

Dalam Alquran sendiri kisah Isra Mikraj termaktub dalam QS. al-Isra ayat 1 dan QS. an-Najm ayat 13-18. Meskipun tidak ada asbabun nuzul dari ayat yang menerangkan peristiwa tersebut. Tetapi Alquran telah memperjelas atau memperkuat kejadian yang telah dialami Nabi Saw dengan melafazdkannya dalam ayat lain dan juga riwayat-riwayat hadis.

Sebagaimana Quraish Shihab yang mengatakan bahwa terdapat munasabah awal surat al-Isra dengan surat an-Nahl. Dia mengutip Mutawalli as-Sya’rawi yang berpendapat bahwa akhir surat sebelumnya, yaitu QS. an-Nahl menandakan bahwa Rasulullah akan mengalami masa sulit. Karena itu di sana jiwa beliau Saw bagaikan dibentengi dengan menyatakan bahwa Allah beserta para Muhsinin. Ini berarti Allah tidak akan meninggalkan beliau. Ternyata cobaan berat itu benar adanya, saat itu Nabi ditinggalkan dua sosok yang sangat berpengaruh untuk diri Nabi Saw. (Tafsir al-Misbah, Vol 7, h. 389)

Baca Juga  Hijrah Nabi dan Hijrah Artis: Apa Bedanya?

Pada tahun yang sama, sebelum Rasulullah dihibur dengan Isra Mikraj, Rasulullah mengalami duka yang sangat pilu. Pertama, Abu Thalib, paman yang selalu membelanya meninggal dunia. Tidak lama berselang, Siti Khadijah, istri beliau juga wafat.

Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam mengisahkan, setelah kepergian kedua orang terkasih Nabi tersebut. Kehidupannya semakin bertambah sulit, karena sebelumnya keduanya yang paling berjasa dalam melindungi Nabi Muhammad. Maka sepeninggal Abu Thalib dan Siti Khadijah, orang-orang Quraisy semakin getol mengganggu dakwah Nabi Saw dengan cara yang tidak mungkin mereka lakukan semasa Abu Thalib masih hidup. (Sirah Nabawiyah h. 255)

***

Gus Baha dalam pengajian Tafsir Jalalain tentang Isra Mikraj pernah mengungkap kisah mengharukan tersebut. Menurut Gus Baha, rata-rata ulama seperti dua mufassirin diatas berpendapat jika peristiwa Isra Mikraj merupakan cara Allah menghibur Nabi Muhammad Saw.

Menurut Gus Baha periode Mekkah merupakan masa tersulit yang dialami oleh Rasulullah. Beliau Saw di tengah-tengah kaum Arab Quraisy ibarat minoritas, kecil, miskin, dan tidak memiliki pendukung. Satu-satunya yang dapat menjamin untuk tidak dicelakai dan dibunuh oleh kafir adalah paman Nabi yaitu Abu Thalib sebab penghormatan kafir Quraisy terhadapnya. Temasuk pula secara kasta ekonomi sosial beliau tinggi sebab memiliki istri saudagar kaya raya yakni Siti Khadijah yang dikatakan bahwa dialah yang menanggung seluruh fakir-miskin saat itu. Kemudian orang-orang yang mendukung Nabi Muhammad secara habis-habisan baik secara materi maupun moral meninggal dunia.

Sebagaimana normalnya manusia, Nabi Muhammad juga mengalami kesedihan mendalam, murung, psikologis kejiwaannya terguncang. Sehingga orang-orang kafir Quraisy semakin leluasa untuk melancarkan intimidasinya kepada Nabi, sampai-sampai orang awam Quraisy pun berani melemparkan kotoran ke atas pundak Rasulullah.

Baca Juga  QS At-Taubah 30: Dua Nabi Yang Dianggap Anak Allah

Bahkan juga ketika ia hendak mencari perlindungan ke Thaif yang sejatinya sebagian besar kerabatnya berasal dari sana, demi menghindari penganiayaan yang lebih berat dari kaum kafir Quraisy serta mengajak mereka beriman kepada Allah. Namun yang beliau yang terima jauh diluar dugaan, bukan penerimaan yang penuh suka cita atau penolakan halus. Mereka bersikap sangat keras dan menghinanya, bahkan saat itu mereka berusaha mengusir beliau dengan melempar batu hingga Nabi Saw berdarah-darah. Maka tahun inilah dijuluki Am al-Huzni atau periode kesedihan sang Nabi.

Hikmah Isra Mikraj

Dalam keadaan duka lara dan penuh dengan rintangan menambah perasaan Rasulullah semakin berat dalam mengemban risalah Ilahi. Lalu Allah memberikan hadiah terindah kepada Nabi dengan memperjalankan beliau Saw, sampai kepada Sidratul Muntaha. Di sebuah lapis langit tersebut, Rasulullah bertemu dan berbincang langsung dengan Allah. Seolah di bawah rerimbun pohon Sidr itu, Allah hendak mengingatkan sang Nabi bahwa di tanah kering sekalipun, akan tumbuh pepohonan, bahwa di dalam kesedihan dan kepedihan, selalu tumbuh harapan-harapan.

Dalam pertemuannya dengan Rabbnya tersebut beliau menerima hadiah yang juga istimewa. Perintah shalat fardhu menjadi satu-satunya perintah ibadah yang tidak seperti ibadah lain dimana saat wahyu turun Nabi Saw berada di bumi. Sehingga dari peristiwa ini, shalat-lah obat kesedihan, kesempitan, kesulitan, dan nestapa dalam tahun-tahun duka. Karena kasih sayangNya, umat Islam diwajibkan untuk menghadapNya sebanyak lima kali dalam satu hari  sebagai amalan yang bisa menjadi penyejuk hati dan penghibur jiwa dari karut marutnya dunia.

Isra Mi’raj yang di dalamnya terdapat ujian, seleksi, dan merupakan salah satu bukti kekuasaan dan kebesaran Allah. Dengan demikian juga menjadi menjadi pelajaran bagi umat muslim. Satu dari banyak hikmahnya adalah bahwa setiap kesedihan akibat cobaan dan ujian yang dilalui, dengan sabar, tawakkal, dan selalu berperasangka baik kepada Allah, serta tetap mengharap ridhaNya, maka kesedihan dan perasaan menyakitkan itu pasti akan diganti oleh Allah dengan sesuatu yang membahagiakan. Hal ini juga mengajarkan seorang hamba untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah.[]

Baca Juga  Tular Nalar di SPADA: Penguatan Modul Literasi Digital di Pendidikan Tinggi