Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Hermeneutika Schleiermacher: Teks Itu Berbicara Sendiri

Schleiermacher
Sumber: https://churchlifejournal.nd.edu/

Seiring berjalannya waktu produk tafsir mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hingga akhirnya kian banyak sebagian kelompok dengan mudahnya mengklaim bahwa produk tafsir yang muncul di era kekinian merupakan sebuah produk yang tidak memenuhi standarisasi ilmiah. Berangkat dari hal ini, kemudian muncul sebuah pertanyaan apakah produk tafsir di era kekinian banyak yang melenceng, misalnya seperti produk tafsir yang dianalisis atau dihasilkan dari teori interpretasi hermeneutika.         

Ironisnya, pada tahun 2005 MUI juga pernah menyatakan bahwa hermeneutika adalah salah satu penyebab lahirnya generasi muda yang liberal. Menurut Dr. Ulya Fikriyati dalam salah satu orasinya pernah berkata bahwa: “Saya termasuk salah satu seseorang yang tidak mempermasalahkan hermeneutika”. Kenapa ? karena hermeneutika seperti pisau untuk menganalisis sebuah teks, jadi tergantung penggunaanya saja sebenarnya bukan pada teorinya.

Jika ditelisik, kata hermeneutik atau dalam bahasa Inggris-hermeneutics berasal dari kata Yunani hermeneuien yang berarti  “menerjemahkan” atau “bertindak sebagai penafsir”. Di dalam kegiatan menerjemahkan sebuah teks asing ke dalam bahasa kita sendiri, kita harus memahami lebih dahulu dan kemudian mencoba mengartikulasikan pemahaman kita itu  kepada orang lain lewat pilihan kata dan rangkaian terjemahan kita. Penting kita ketahui bahwa, menerjemahkan itu bukanlah sekedar menukar kata-kata asing dengan kata-kata dalam bahasa kita, melainkan juga memberi penafsiran, maka kata hermeneuien  itu memiliki arti yang cukup mendasar untuk menjelaskan kegiatan yang disebut hermeneutik.

Hassan  Hanafi, seorang pemikir Muslim kontemporer berkebangsaan Mesir, menyatakan bahwa hermeneutik itu tidak sekedar ilmu interpretasi atau teori pemahaman, tetapi juga ilmu untuk menjelaskan penerimaan wahyu sejak dari tingkat perkataan  sampai ke tingkat dunia. Ilmu tentang proses wahyu dari huruf sampai kenyataan, dari logos sampai praksis dan juga transformasi wahyu dari pikiran Tuhan kepada manusia. Karenanya , banyak para tokoh hermeneutik yang mempunyai beberapa konsep tersendiri dalam memahami sebuah teks, misalnya seperti Schleiermacher dan seterusnya.

Baca Juga  Meraih Kenikmatan Tertinggi dengan Menjaga Ibadah

Sketsa Biografi Schleiermacher

Tokoh yang disorot di atas; Schleiermacher mempunyai nama lengkap Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834), ia adalah seorang tokoh hermeneutika  yang lahir di Breslau, Silesia yang sekarang daerah tersebut sering disebut dengan Polandia. Sejak kecil ia terdidik dan dibesarkan dalam lingkungan Protestan. Akibatnya, ia menjadi rujukan umat di masanya hingga digelari sebagai bapak hermeneutika modern.

Sebagai tokoh yang memiliki bakat intelektual ia pernah dikirim ke sebuah seminari di Barby/Elbe. Di sana Schleiermacher berkenalan dengan kepustakaan Ilmiah dan filosofis serta roman-roman non-religius, antara lain yang ditulis oleh Goethe, sehingga ia mulai bimbang untuk menjadi pengkotbah atau ilmuwan. Hingga pada akhirnya ia pun memutuskan untuk menekuni  studi filsafat, teologi, dan filologi di Universitas Halle, dan di situ  juga  pertama kalinya membaca filsafat kritis Kant.

Namun meskipun demikian, Schleiermacher lebih dikenal sebagai teolog dan pengkotbah dari pada seorang filsuf. Kesibukannya dengan hermeneutik mewarnai karier intelektualnya sejak dia mengajar di Halle pada tahun 1805 sampai kematiannya. Pemikiran serta tulisanya tentang hermeneutika tersebar dalam sketsa-sketsa, aforisme-aforisme dan catatan-catatan kuliah.

Ketika di Belin, Schleiermacher juga berkenalan dengan beberapa cendekiawan dan sastrawan Romantik, seperti keluarga  Von Humboldt, Rahel Varnhagen, Dorothea Viet dan khususnya filsuf Friedrich Schlegel yang mendorongnya untuk menerjemah dialog-dialog plato. Pengaruh Romantik inilah yang membawa minatnya pada hermeneutik.

Romantisme adalah gerakan yang kritis terhadap pencerahan abad ke-18. Para pemikirnya melihat kemajuan-kemajuan peradaban kapitalis industrial Eropa saat itu sebagai bahaya dan kemrosotan bagi manusia, maka alih-alih gandrung dengan indsutri, sains dan teknologi, mereka mencoba menggali kembali kebijaksanaan kuno dalam tradisi, agama, mitos untuk menemukan perasaan-perasaan sebagai kekuatan yang amat penting.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 44-45: Sabar dan Sembahyang

Teori Hermeneutika dan Teknik Penerapanya

Hemat penulis, hermeneutika Schleiermacher secara ringkas ialah sebuah proses pembalikan dari proses penulisan teks. Artinya, jika penulis teks atau yang sering disebut author (pengarang) bergerak dari pikirannya ke ungkapannya dalam susunan kalimat-kalimat, bagi pembaca sebaliknya; yakni dari susunan kalimat masuk ke dunia mental penulisnya.

Ringkasnya, dalam penggunaan teori hermeneutika Schleiermacher seakan-akan teks itu berbicara sendiri. Yakni, ketika memahami sebuah teks dalam sebuah karya posisi pembaca terlebih dahulu harus menelaah sisi psikologis pengarang kemudian mengkaitkan dengan teks/tulisanya. Walhasil, dari dua perpaduan tersebut lahirlah sebuah pemahaman. Schleiermacher berpendapat jika pembaca ikut campur dalam proses memahami teks, maka  hal itu tidak dapat dikatakan sebagai pemahaman yang objektif, melainkan subjektif, alih-alih bukan maksud pengarangnya melainkan analisis pembaca saja.

Schleiermacher juga membedakan antara interpretasi gramatis dan interpretasi psikologis. Yang dimaksud dengan interpretasi gramatis adalah proses memahami sebuah teks bertolak dari bahasa, struktur kalimat-kalimat dan juga hubungan teks itu dengan karya-karya lainnya dengan jenis yang sama. Seperti surat RA Kartini, misalnya, ditulis dengan bahasa Belanda dari abad lalu dan berhubungan dengan tulisan-tulisan lain yang sejenis, misalnya buku-buku yang dibaca Kartini atau korespondensinya dengan teman-temannya.

Bila interpretasi gramatis menempatkan teks dalam kerangka obyektif, interpretasi psikologis memusatkan diri pada sisi subyektif teks itu, yakni dunia penulisnya.  Cara gampangnya, jika kita ingin memahami sebuah karya memakai teori hermeneutika Schleiermacher ada dua tahapan, yakni: pertama, pahami dulu siapa penulis/pengarang bukunya, temasuk ideologinya, keadaan budaya, politik pada saat pengarang menulis teks tersebut dan hal-hal yang berkaitan dengan psikologis lainnya, lalu setelah memahami dunia psikologis (penulisnya) baru memahami susunan-susunan kalimat teks/tulisanya dari pengarang tersebut.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 92-94: Merasa Mulia? Coba Hadapi Maut

Namun meskipun demikian, dalam teori hermeneutika Schleiermacher tidak semata-mata mutlak benar, juga ada kekurangannya (baca:kritik teori Schleiermacher). Sebab itu, jadikanlah teori-teori hermeneutika dari tokoh-tokoh siapapun entah itu Schleiermacher atau tokoh lainnya sebagai pisau analisis. Artinya, tergantung yang menggunakan pisau tersebut digunakan untuk apa! Di sisi lain, dalam penggunaanya pun juga harus betul-betul paham dengan hermeneutika agar tidak rancau dalam memahami sebuah teks hingga melahirkan produk-produk yang radikal, intoleran dan semacamnya.

Editor: An-Najmi Fikri R

Dicky Adi Setiawan
Mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir di Kampus al-Fitrah Surabaya