Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Hermeneutika Gadamer: Bisakah Penafsir Menggapai Makna Asli Teks?

Gadamer
Sumber: qureta.com

Salah satu persoalan yang menjadi perdebatan serius di dalam hermeneutika adalah apakah seorang penafsir atau pembaca dapat menemukan makna obyektif sebuah teks atau tidak. Menanggapi hal itu, para tokoh hermeneutika terbagi menjadi dua mazhab. Mazhab yang satu menganggap bahwa seorang penafsir atau pembaca bisa mendapatkan makna asli sebuah teks. Mazhab ini diwakili oleh Schleimacher dan Dilthey. Schleirmacher dengan romantisme-nya dan Dilthey dengan historisismenya.

Sedangkan mazhab yang lain menganggap bahwa seorang penafsir atau pembaca sangat tidak mungkin untuk mendapat makna asli sebuah teks. Di antara tokoh hermeneutika yang masuk dalam mazhab ini adalah Hans-Georg Gadamer. Ia adalah tokoh hermeneutika terdepan dalam menyatakan bahwa seorang penafsir tidak dapat mendapatkan makna obyektif sebuah teks. Selain misalnya gurunya yang bernama Heidegger.

Sketsa Biografi Gadamer

Tokoh hermeneutika ini bernama lengkap Hans-Georg Gadamer. Lahir pada tanggal 11 Februari tahun 1900. Ia berasal dari keluarga kelas menengah yang memiliki karir yang cukup tinggi di bidang akademis. Ayahnya merupakan seorang profesor dan peneliti di bidang ilmu kimia. Ia adalah orang yang menaruh penghargaan yang tinggi terhadap ilmu-ilmu alam dan pada saat yang bersamaan malah meremehkan ilmu-ilmu humaniora.

Ia bahkan pernah menyebut profesor-profesor di bidang ilmu humaniora sebagai “schwatzprofessoren” atau para profesor gosip. Berangkat dari pandangannya yang demikiran rendah terhadap ilmu-ilmu humaniora, ia kemudian berharap agar anak-anaknya tidak ada yang memasuki bidang tersebut. Baik itu ilmu filsafat ataupun ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kemanusiaan.

Gadamer adalah orang dengan keluarga berlatar belakang agama Protestan. Namun begitu, seperti kesaksiannya, kehidupan keluarganya tidak diwarnai oleh iman dan nilai-nilai Kristiani. Mereka lebih cenderung untuk menyebut dirinya sebagai orang yang mengikuti “agama akal budi”(vernunfisreligion).

Ketika berada di Gimnasium, Gadamer bisa dibilang adalah orang yang lebih menyukai mempelajari strategi ilmu militer ketimbang misalnya mempelajari studi bahasa-bahasa kuno. Hal tersebut boleh jadi dilatarbelakangi oleh kecintaan ayahnya terhadap ilmu-ilmu alam. Hanya saja, saban hari kekhawatiran ayahnya menjadi kenyataan. Secara lambat laun fokus Gadamer mulai beralih pada kajian-kajian seperti kesusastraan dan bahasa-bahasa kuno. Hal itu salah satunnya karena dipengaruhi oleh pesona yang ditunjukkan puisi-puisi Stefan George.

Baca Juga  Urgensi Ilmu sebagai Basis Dakwah: Perspektif Abduh dan Rasyid Ridha

Pada awal tahun 1918, Gadamer masuk pada studi kesusastraan, sejarah seni, psikologi dan di Universitas Breslau. Tidak lama berselang Gadamer kemudian bersama ayahnya pindah ke Universitas Marburg. Di sini ia banyak berdiskusi dan berdialektika dengan para pemikir neo-Kantian dari Marburg, wabil khusus dengan Nicolai von Hartman dan Paul Natorp yang kelak menjadi pembimbing disertasinya yang berjudul: Hakikat Nafsu dalam Dialog-Dialog Plato.

Bertemu Heidegger

Gadamer besar mulai tertarik dan memilih jalan di filsafat. Jalan yang tidak pernah direstui oleh ayahnya. Jalan hidupnya bertentangan dengan apa yang dipikirkan ayahnya. Dalam perjalanannya mempelajari filsafat, Gadamer merasa beruntung karena bertemu dengan Heidegger, tokoh hermeneutika yang kelak menjadi gurunya.

Ia melukiskan pertemuannya dengan Heidegger sebagai “sebuah guncangan besar atas kepastian diri yang terlalu dini”. Heidegger berhasil memantik dirinya untuk bergerak lebih dalam di jalan filsafat. Ia meninggalkan bekas yang mendalam pada diri Gadamer. “Perjumpaan pertama Gadamer dengan Heidegger dibimbing oleh bintang hermeneutika yang akan menjadi bintang kehidupannya.”, begitu Gordin menggambarkan. Hubungannya dengan Heidegger bahkan bukan hanya sebatas hubungan akademis, karena pernah ketika ia mengalami krisisi keuangan, gurunya membantunya dan ia menginap di pondok gurunya di Todtnauberg.

Makna Asli Sebuah Teks

Sebagaimana gurunya Heidegger, Gadamer sangat tidak percaya bahwa seorang penafsir bisa menangkap asli sebuah teks. Dalam meneguhkan dan memperkuat pandangannya guru itu, Gadamer mengatakan bahwa dalam memahami, kesalahpahaman dan keasingan makna seharusnya tidak lagi menjadi fokus utama. Seorang penafsir tidak lagi diminta untuk memastikan apakah penafsirannya sesuai dengan apa yang berada benak pengarang teks.

Menurutnya, hal itu karena seorang penafsir sudah bergerak ke arah pemahaman. Ia menggugat anggapan sebagian orang tentang kesalahpahaman. Baginya, “kesalahpaman” bukanlah suatu problem. Kaena umumnya sesuatu disebut sebagai “kesalahpahaman” jika kemudian kehadirannya membuat ada kesepahaman yang terganggu. Padahal dalam hermeneutika, sebagaimana tegas Gadamder, pengarang dan pembaca bergerak ke arah kesepahaman yang berbeda.

Baca Juga  Mengenal Contoh Penyelewangan Penafsiran Al-Quran (2)

Ia juga mengkritik anggapan seperti yang dikemukakan oleh Schleimarher dan Dilthey, bahwa seorang penafsir atau pembaca dalam memproduksi makna sebuah teks bisa lepas dan steril dari pengaruh dan keterlibatannya di dunia kekinian. Bagi Gadamer, tidak ada pemahaman atas teks yang bisa steril dari pengaruh kekinian dan ke-disini-an seorang penafsir. Semua faktor itu, baik pengetahuan ataupun pengalaman, akan mempengaruhi seorang penafsir ketika berhadapan dengan suatu teks.

Titik Tolak Pandangan Gadamer

Pandangan Gadamer bahwa seorang penafsir tidak dapat menangkap makna asli sebuah teks bukanlah pandangan yang berdiri dengan sendirinya. Pandangan itu merupakan berdiri di atas dua gagasan besar Gadamer, yakni fusion of horizons dan effective history.

Secara singkat, fusion of horizons adalah pertemuan dan peleburan antar horizon. Dalam kasus Gadamer, yang dimaksud dengan peleburan horizon adalah peleburan antara horizon tradisi dan penafsir. Jadi mula-mula Gadamer menyarankan agar sebuah teks dipahami sesuai dan ditempatkan pada horizon sejarahnya. Agar seorang penafsir memahami signifikansi sejarah teks.

Lalu setelah melakukan itu, penafsir harus memahami horizon sendirinya sehingga lahir persahabatan antara horizon tradisi dan penafsir. Bagi Gadamer, makna utuh sebuah teks baru dapat digapai setelah melakukan penggabungan atau mempertemukan horizon masa lalu dan masa kini. Pertemuan antara horizon masa lalu dan masa kini inilah yang kemudian disebut sebagai the effective history atau sejarah yang berdampak. (Hasanah: 2017)  

Gadamer berbeda dengan Scheirmacher dan Dilthey. Ia berpendapat bahwa seorang penafsir tidak akan bisa menangkap makna asli sebuah teks. Alasan dan argumennya ialah karena pembaca tidak dapat kembali ke masa silam untuk menemukan kembali makna asli sebuah teks. Kesadaran kita, menurut Gadamer, “tidak berada di luar sejarah”, melainkan bergerak “ke dalam sejarah”. Sehingga pemahaman kita juga dibentuk oleh sejarah. (Hardiman, hal. 167). Dalam ungkapan lain, pemahaman kita berada dalam sebuah horizon tertentu, yaitu horizon pemahaman dan pengalaman kita sendiri.

Baca Juga  Ciri Khas Penafsiran Gus Baha’

Pembaca Pasti Melibatkan Pra-Pemahaman

Ia menyebut bahwa sebelum memahami, seorang pembaca pasti akan melibatkan prasangkanya. Pemahaman itu ia dapatkan dari konsep Heidegger tentang struktur pra-pemahaman. Menurutnya, seorang yang mencoba untuk memahami tak akan terlindung dari distraksi makna-makna yang telah ada sebelumnya yang tidak berasal dari teks-teks itu sendiri, melainkan berasal dari proyeksi yang akan kita bangun.

Karena itu, jika kita berangkat dari pemahaman bahwa proses memahami selalu melibatkan makna yang telah ada sebelumnya, maka sangat mustahil bagi kita untuk mendapat makna obyektif yang dicita-citakan oleh Scheimacher dan Dilthey. (hal. 169). Artinya, kita harus mengakui bahwa pra-struktur pemahaman itu selalu ada. Mustahil untuk dihilangkan.